Sinyal dari pemerintah ke pasar modal kali ini cukup jelas: insentif bukan hal yang tertutup, tetapi juga tidak akan diberikan begitu saja. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menempatkan syarat kinerja nyata sebagai pembuka utama sebelum stimulus apa pun dibahas lebih jauh.
Sikap itu muncul setelah Otoritas Jasa Keuangan meluncurkan Program Investasi Terencana dan Berkala atau PINTAR Reksa Dana. Program tersebut dipandang sebagai alat untuk memperdalam pasar modal, namun Purbaya ingin melihat dulu apakah pelaksanaannya benar-benar memberi dampak sebelum pemerintah menetapkan bentuk insentif yang paling sesuai.
Insentif menunggu bukti dari lapangan
Purbaya menegaskan bahwa peluang pemberian insentif tetap ada, tetapi keputusan akan bergantung pada hasil program yang sedang dijalankan. Ia bahkan menyebut evaluasi bisa dilakukan sekitar enam bulan dari sekarang, sebelum pelaku pasar mengajukan permintaan resmi.
Menurut dia, pendekatan seperti itu diperlukan agar kebijakan fiskal tidak berjalan lebih cepat daripada bukti yang tersedia. “Kalau nanti programnya berjalan bagus, misalnya enam bulan dari sekarang, bolehlah datang ke saya minta insentif. Saya pertimbangkan,” ujar Purbaya dikutip dari Antara.
Selain soal insentif umum, Purbaya juga membuka ruang pembahasan jika industri membutuhkan relaksasi pajak. Salah satu opsi yang disebutnya adalah kemungkinan penghapusan pajak atas capital gain yang diperoleh manajer investasi, meski keputusan final belum diambil.
“Misalnya ada capital gain, ada untungnya, itu bisa saja tidak dipajaki capital gain-nya,” tambahnya.
PINTAR Reksa Dana diposisikan sebagai mesin pendalaman pasar
Program PINTAR Reksa Dana dirancang untuk mendorong lebih banyak dana masyarakat masuk ke pasar modal secara berkala. Skema ini memberi ruang bagi investor menghimpun dana dalam periode tertentu, lalu dana tersebut dikelola manajer investasi ke berbagai instrumen pasar modal.
Bagi pemerintah, model seperti ini bukan sekadar soal menambah produk investasi. Aliran dana yang lebih stabil dinilai bisa membantu memperluas basis investor domestik sekaligus memperkuat fungsi pasar modal sebagai saluran pembiayaan.
Purbaya melihat dana yang terkumpul dari skema itu dapat bergerak ke obligasi maupun instrumen lain. Dari sana, dampaknya tidak berhenti di ranah keuangan, karena dana yang berputar juga ikut menopang aktivitas ekonomi yang lebih luas.
“Uang dari situ bisa dipakai untuk beli obligasi dan lain-lain. Itu akan menjalankan ekonomi juga pada akhirnya,” kata Purbaya.
OJK dorong reformasi yang lebih luas
Dari sisi regulator, peluncuran program ini tidak berdiri sendiri. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyebut PINTAR Reksa Dana sebagai bagian dari delapan rencana aksi reformasi integritas pasar modal.
Friderica menekankan bahwa penguatan integritas perlu berjalan seiring dengan perluasan partisipasi masyarakat. Karena itu, OJK mendorong jumlah investor ritel terus bertambah agar pasar modal menjadi lebih inklusif dan aktif.
“Program ini juga menjadi bagian dari reformasi sistemik untuk memperkuat peran pasar modal sebagai pilar pembiayaan jangka panjang bagi perekonomian nasional,” kata Friderica.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa arah kebijakan pemerintah dan regulator berada dalam jalur yang serupa. Keduanya melihat pasar modal bukan hanya tempat transaksi, tetapi juga sumber pembiayaan jangka panjang yang semakin penting bagi ekonomi nasional.
Syarat utama: hasilnya harus terasa
Di tengah ruang diskusi soal insentif, Purbaya tetap menempatkan hasil sebagai syarat utama. Artinya, pemerintah tidak ingin memberi stimulus lebih dulu tanpa melihat apakah program pendalaman pasar benar-benar berhasil menarik partisipasi dan memperbaiki kinerja pasar modal.
Jika PINTAR Reksa Dana bisa berjalan efektif, peluang insentif akan tetap terbuka untuk dibicarakan kembali. Pembahasan itu bisa mencakup berbagai bentuk dukungan, termasuk relaksasi pajak, selama manfaatnya dianggap sejalan dengan tujuan memperkuat pasar modal dan mendorong ekonomi secara lebih luas.
Source: www.viva.co.id