Kenaikan harga minyak dan lonjakan imbal hasil obligasi kembali membuat pasar global bergerak dalam mode waspada. Di tengah situasi itu, investor makin berhati-hati karena inflasi dinilai belum memberi ruang bagi suku bunga untuk turun cepat.
Tekanan paling terasa muncul di pasar saham. Indeks saham global MSCI turun 0,35%, sementara STOXX 600 Eropa melemah 1,36% setelah sempat menguat dalam dua sesi sebelumnya.
Di Asia, sentimen juga tertekan. MSCI Asia Pasifik di luar Jepang merosot 2,57%, sedangkan Nikkei Jepang turun 1,99% setelah inflasi grosir Jepang naik ke 4,9% pada April 2026, level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Reli saham mulai kehabisan tenaga
Managing Director dan Head of Macro Strategy EMEA State Street Markets, Tim Graf, menilai penguatan saham global yang sempat terjadi beberapa hari terakhir mulai memasuki fase rawan. Ia melihat pasar telah naik tanpa banyak jeda sehingga rentan terhadap koreksi.
Menurut Graf, saham masih mendapat penopang, tetapi inflasi yang tetap tinggi dan kemungkinan suku bunga yang lebih tinggi dapat memberi tekanan lanjutan. Kondisi itu membuat pelaku pasar lebih selektif ketika masuk ke aset berisiko.
Minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi
Salah satu pemicu utama datang dari harga minyak dunia yang menguat. Brent naik 3,47% menjadi US$ 109,39 per barel dan menuju kenaikan mingguan 7,7% di tengah ketidakpastian perdamaian di Timur Tengah serta sorotan terhadap Selat Hormuz.
Pasar juga mencermati kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China. Setelah bertemu Presiden China Xi Jinping, Trump menyampaikan bahwa kedua negara sepakat Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan Selat Hormuz harus kembali dibuka.
Head of Research Americas ING, Padhraic Garvey, mengatakan pasar masih fokus pada perang Iran dan dampaknya terhadap inflasi global. Ia menilai kunjungan Trump hanya memberi jeda singkat dari kecemasan pasar sebelum perhatian kembali ke risiko geopolitik itu.
Obligasi ikut tertekan, dolar ikut menguat
Kekhawatiran inflasi tidak hanya menekan saham, tetapi juga pasar obligasi. Investor menuntut imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga harga obligasi pemerintah di sejumlah negara ikut melemah.
Di Jerman, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik sekitar 6 basis poin menjadi 3,1065%. Di Jepang, imbal hasil obligasi mencapai rekor tertinggi baru, sementara di Amerika Serikat kenaikannya juga terlihat jelas pada tenor pendek dan panjang.
Imbal hasil obligasi tenor dua tahun AS naik 7,5 basis poin menjadi 4,0666%. Yield tenor 10 tahun melonjak 8,5 basis poin menjadi 4,5438% seiring pasar mengurangi minat terhadap obligasi pemerintah AS setelah sejumlah lelang pekan ini dinilai kurang kuat.
Tekanan di pasar obligasi ikut memperkuat dolar AS. Mata uang itu bersiap mencatat kenaikan mingguan 1,3%, yang menjadi kenaikan terbesar dalam dua bulan terakhir.
Pasar menyesuaikan diri dengan suku bunga yang lebih tinggi
Pergerakan lintas aset pada hari itu menunjukkan pasar sedang menyesuaikan diri dengan kemungkinan inflasi yang bertahan lebih lama. Kenaikan minyak, lonjakan yield, dan penguatan dolar sama-sama memperkuat pandangan bahwa biaya pendanaan bisa tetap tinggi dari perkiraan sebelumnya.
Gabungan faktor itu membuat investor lebih berhati-hati terhadap saham dan semakin sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Selama tekanan dari energi dan obligasi belum reda, pasar tampak masih akan bergerak dengan kehati-hatian yang tinggi.
Source: www.beritasatu.com




