Atmosfer pertandingan di Forum Horsens mulai terasa saat tim bulu tangkis Indonesia menjalani latihan perdana sebagai bagian dari persiapan menuju Piala Thomas dan Uber 2026. Namun, yang paling menonjol dari sesi awal itu bukan sekadar uji coba pukulan, melainkan tuntutan untuk cepat beradaptasi dengan kondisi arena yang waktunya sangat terbatas.
Indonesia hanya mendapat jatah 60 menit di lapangan tiga dan 30 menit di lapangan dua. Durasi yang singkat itu membuat setiap atlet harus segera membaca karakter lapangan, kecepatan shuttlecock, serta kondisi sekitar arena agar tidak kehilangan waktu persiapan yang berharga.
Adaptasi jadi prioritas sejak latihan pertama
Rachel Allessya Rose menegaskan bahwa latihan perdana di Horsens lebih banyak dipakai untuk mengenali situasi lapangan. Ia menyebut waktu yang tersedia sangat singkat sehingga fokus utama bukan mengejar volume latihan, melainkan memahami perubahan yang muncul di arena.
“Hari ini coba lapangannya hanya sebentar, kami dapat 20 menit dan lebih memperhatikan kondisi lapangan seperti apa. Bolanya agak kencang, ini yang harus disesuaikan,” ujar Rachel Allessya Rose.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penyesuaian terhadap laju shuttlecock menjadi salah satu pekerjaan paling penting sebelum pertandingan dimulai. Dalam situasi seperti ini, ketepatan membaca arah bola dan kontrol pukulan akan sangat menentukan kualitas permainan.
Arena terasa nyaman, tetapi detail kecil tetap penting
Febi Setianingrum, yang berpasangan dengan Rachel, menilai kondisi lapangan cukup nyaman untuk dimainkan. Ia menjelaskan bahwa arena tidak menimbulkan silau dan hembusan angin juga tidak terlalu terasa selama latihan berlangsung.
“Dari lapangan normal saja, tidak silau dan angin juga tidak terlalu ada,” kata Febi Setianingrum.
Meski demikian, kondisi yang terlihat nyaman tidak otomatis membuat adaptasi menjadi mudah. Justru pada arena seperti ini, pemain tetap harus teliti terhadap detail kecil yang bisa memengaruhi ritme permainan dan akurasi pukulan.
Ukuran venue bisa jadi energi tambahan
Forum Horsens memiliki tiga lapangan dan kapasitas sekitar 4.000 penonton. Ukuran arena yang tidak terlalu besar dinilai bisa membuat suasana pertandingan lebih rapat dan lebih hidup saat turnamen berjalan.
Rachel dan Febi sama-sama melihat sisi positif dari situasi tersebut. Dukungan penonton diperkirakan akan terdengar lebih jelas dan bisa memberi dorongan tambahan bagi pemain di lapangan.
“Arenanya kecil tapi ini bisa membuat dukungan dari suporter bisa lebih terdengar. Bisa lebih membakar semangat,” ujar Rachel.
Pengalaman berbeda Rachel dan Febi di Uber Cup
Di sektor putri, Rachel akan menjalani penampilan keduanya di Piala Uber. Berbeda dengan dirinya, Febi akan mencatat debut di turnamen beregu putri paling bergengsi itu, meski sebelumnya sudah pernah merasakan atmosfer ajang beregu lain.
Rachel menilai pengalaman Febi di turnamen beregu lain akan membantu proses adaptasi tim. Ia juga menegaskan bahwa target tim tetap sama, yaitu tampil lebih baik dari penampilan sebelumnya.
“Walau Febi pertama kali akan main di Piala Uber tapi dia bukan pertama kali ikut di ajang beregu. Jadi pasti sudah tahu rasanya dan kami pastinya ingin lebih baik dari sebelumnya-sebelumnya,” ucap Rachel.
Febi menyambut debutnya dengan rasa senang sekaligus tegang. Meski begitu, ia merasa kekompakan tim memberi rasa percaya diri tambahan saat menghadapi laga besar ini.
“Senang dan excited bisa gabung di tim Uber. Pasti ada tegang karena ini debut saya tapi kekompakan tim membuat saya lebih yakin,” terang Febi.
Ginting langsung merasa cukup nyaman
Dari sektor putra, Anthony Sinisuka Ginting juga merasakan latihan awal berjalan tanpa hambatan berarti. Ia menilai waktu latihan memang singkat, tetapi cukup untuk mulai menangkap ritme permainan di venue.
“Sejauh ini sih ok saja semua, tadi juga latihan dapat ritmenya meskipun hanya sedikit waktu,” kata Ginting.
Ginting juga melihat arena di Horsens tidak terlalu asing bagi skuad Indonesia. Menurutnya, bentuk venue yang tidak besar mengingatkan pada pengalaman Indonesia di ajang beregu sebelumnya, sehingga suasananya terasa cukup familiar.
“Karena waktu 2021 juga Sudirman dan Thomas Uber, arenanya tidak begitu besar. Tidak seperti kalau turnamen-turnamen di Asia jadi ya ok saja semua,” ujarnya.
Dengan waktu persiapan yang serba singkat, tim Indonesia kini harus memanfaatkan setiap menit untuk menyesuaikan diri dengan shuttlecock, pencahayaan, suasana arena, dan ritme pertandingan. Semua penyesuaian itu akan menjadi modal penting saat Indonesia menghadapi Piala Thomas dan Uber 2026 di Horsens.
Source: www.viva.co.id