IHSG Sempat Menguat di Awal Lalu Kembali Tertekan, Pasar Masih Dibayangi MSCI

Tekanan jual masih mendominasi pergerakan IHSG meski pasar sempat mendapat dorongan di awal sesi. Indeks yang sempat dibuka hijau itu akhirnya kembali melemah dan bergerak di area 6.294,83, menandakan sentimen pasar belum cukup kuat untuk menjaga penguatan bertahan lebih lama.

Pergerakan yang rapuh itu terlihat sejak sesi preopening, ketika IHSG sempat naik 47,984 poin atau 0,76 persen hingga menyentuh 6.366,485. Namun, sekitar pukul 09.11 WIB, arah indeks sudah berbalik turun 23,67 poin atau 0,37 persen, sebelum sempat bergerak liar di rentang yang sempit.

Di tengah fluktuasi tersebut, IHSG sempat mencatat level tertinggi di 6.378,81 dan level terendah di 6.291,04. Kondisi ini menunjukkan pasar belum menemukan pijakan yang stabil, meski transaksi tetap berlangsung cukup aktif pada awal perdagangan.

Bursa Efek Indonesia mencatat volume perdagangan mencapai 3,209 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 1,908 triliun. Frekuensi transaksi juga tinggi, mencapai 217.400 kali, sementara pergerakan saham terbagi hampir seimbang antara yang menguat, melemah, dan stagnan.

Sebanyak 274 saham bergerak naik, 275 saham turun, dan 410 saham tidak berubah. Data tersebut memperlihatkan pasar cenderung menunggu arah yang lebih jelas, alih-alih mengambil posisi agresif.

Tekanan MSCI Masih Jadi Sorotan

Di balik pelemahan IHSG, pasar masih mencermati dampak rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI. Proses itu dinilai memicu tekanan jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, sehingga ruang penguatan indeks ikut terbatas.

Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai IHSG masih berada dalam fase downtrend. Ia memperkirakan pada perdagangan Kamis, indeks berpotensi bergerak menguat terbatas dengan area support di 6.184 dan resistance di 6.388.

Herditya juga menyoroti regulasi sektor barang tambang sebagai sentimen tambahan yang membebani pasar. Menurutnya, faktor tersebut berpotensi memengaruhi saham-saham berbasis komoditas yang sebelumnya ikut menopang indeks.

“Posisi IHSG masih berada di fase downtrend-nya dan besok (Kamis) kami perkirakan akan bergerak menguat terbatas dengan support 6.184 dan resist 6.388, di mana nampaknya pasar masih akan tertekan dari aksi rebalancing MSCI dan juga regulasi barang tambang,” ujar Herditya.

Bursa Asia Menguat, IHSG Masih Tertinggal

Menariknya, tekanan di pasar domestik terjadi saat mayoritas bursa saham Asia justru bergerak menguat. SSE Composite China naik 29,04 poin atau 0,70 persen ke 4.191,23, sementara Nikkei 225 Jepang melonjak 2.067,61 poin atau 3,46 persen ke 61.872,02.

Penguatan juga terlihat pada Hang Seng Hong Kong yang naik 127,70 poin atau 0,50 persen menjadi 25.778,82. S&P/ASX 200 Australia ikut menanjak 140,30 poin atau 1,65 persen ke 8.636,90, menandakan sentimen regional pada saat itu cenderung positif.

Meski begitu, The Asia Dow masih berada di zona merah setelah melemah 66,05 poin atau 1,04 persen ke 6.311,60. Kombinasi antara penguatan bursa kawasan dan tekanan spesifik yang membebani saham-saham di dalam negeri membuat IHSG tetap rentan sepanjang sesi awal perdagangan.

Exit mobile version