Pemulihan pascabanjir di Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, mulai terlihat dari satu perubahan penting: warga tidak lagi bertahan di tenda pengungsian. Mereka perlahan pindah ke hunian sementara yang disediakan pemerintah, sehingga kehidupan harian yang sempat terhenti kini mulai disusun kembali.
Bagi banyak keluarga, perpindahan ini menjadi penanda bahwa fase darurat sedikit demi sedikit bergeser ke arah pemulihan. Setelah banjir melanda wilayah itu pada akhir November 2025, warga harus menjalani berbulan-bulan dengan kondisi serba terbatas sebelum akhirnya mendapat tempat tinggal yang lebih layak.
Ruang tinggal yang lebih nyaman
Muhammad Fa’i baru satu minggu menempati huntara saat memberikan kesaksiannya. Ia merasakan perbedaan besar dibandingkan tenda yang ia huni selama berbulan-bulan, terutama karena area yang lebih luas dan suasana yang lebih nyaman.
Fa’i sempat mendapati kebocoran pada atap ketika awal pindah ke unit itu. Pemerintah kemudian bergerak cepat memperbaikinya sehingga hunian tersebut bisa kembali digunakan dengan baik.
Meski sudah jauh lebih baik daripada tenda, huntara belum sepenuhnya bebas dari kekurangan. Fa’i menyebut area hunian masih terasa panas pada siang hari karena belum ada pelindung tambahan di sekitar bangunan.
Ia berharap ada peneduh tambahan agar anak-anak dan warga bisa beraktivitas dengan lebih nyaman. Kebutuhan itu menjadi bagian dari penyesuaian yang masih harus dijalani setelah warga keluar dari masa pengungsian panjang.
Baru separuh unit terisi
Huntara yang disiapkan untuk warga Lubuk Sidup dialokasikan bagi 163 kepala keluarga. Hingga kini, sekitar separuhnya sudah ditempati, sementara unit lain masih dalam proses pengerjaan dan penyelesaian fasilitas pendukung.
Kondisi itu membuat perubahan di desa berlangsung bertahap. Di satu sisi, keluarga yang sudah masuk ke huntara mulai memiliki ruang istirahat yang lebih baik, tetapi di sisi lain proses pemulihan fisik hunian belum selesai sepenuhnya.
Perlahan terisinya unit-unit tersebut juga membantu warga kembali menjalani rutinitas yang lebih mendekati kondisi normal. Setelah lama berada dalam tenda, mereka kini punya ruang yang lebih layak untuk berinteraksi dan beristirahat bersama keluarga.
Syukur setelah hampir lima bulan di tenda
Anwar menjadi salah satu warga yang paling merasakan lega setelah pindah dari pengungsian. Ia mengatakan harus bertahan hampir lima bulan sebelum akhirnya mendapat hunian sementara itu.
“Terima kasih kepada pemerintah telah memberi huntara ini,” katanya. Baginya, perbedaan antara tenda dan huntara terasa jelas, terutama dari sisi kenyamanan dan ruang untuk aktivitas keluarga.
Kehadiran hunian sementara di Lubuk Sidup bukan hanya soal tempat tinggal baru. Hunian itu juga menjadi bagian dari upaya memulihkan kehidupan sosial warga yang sempat terganggu akibat banjir.
Secara lebih luas, Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera mencatat 18.505 huntara telah selesai dibangun di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat per 29 April. Progres pembangunan itu telah mencapai 91 persen dari target 20.267 unit, menandakan pengerjaan pemulihan hunian di berbagai daerah masih terus dikebut.
Source: www.medcom.id