Harga Ramah, Sprinto Tawarkan Layar Sentuh Dan Torsi 195 Nm Di Kelas Motor Listrik

Persaingan motor listrik di Indonesia kini tidak lagi hanya soal jarak tempuh dan harga murah. Di tengah pasar yang makin padat, Sprinto muncul dengan kombinasi yang cukup jarang: harga sekitar Rp15 jutaan setelah subsidi, layar sentuh, konektivitas ponsel, dan klaim torsi 195 Nm.

Indomobil E-Motor memperkenalkan Sprinto sebagai skuter listrik yang dibidik untuk kebutuhan harian di perkotaan. Model ini langsung mencuri perhatian karena tampilannya dianggap mirip Honda Vario, terutama lewat garis bodi yang tajam dan kesan sporty di bagian fasia depan.

Desain yang dekat dengan selera pasar

Pendekatan visual seperti ini bukan tanpa alasan. Untuk banyak konsumen Indonesia, bentuk skutik sporty terasa lebih akrab dibanding desain motor listrik yang terlalu futuristis.

Sprinto memanfaatkan karakter itu lewat lampu LED yang lancip dan bodi agresif. Hasilnya, motor ini lebih mudah diterima oleh pengguna yang ingin beralih ke kendaraan listrik tanpa harus menghadapi bentuk yang terasa asing.

Panel sentuh jadi pembeda utama

Bagian dasbor menjadi salah satu daya tarik paling menonjol pada Sprinto. Skuter listrik ini memakai panel instrumen berbasis layar sentuh, sesuatu yang masih jarang ditemukan pada motor listrik di kelas menengah.

Layar tersebut tidak hanya menampilkan informasi dasar seperti kecepatan. Sistemnya juga mendukung mirroring navigasi dari ponsel, dan tersedia Bluetooth speaker untuk memutar musik selama perjalanan.

Indomobil juga menambahkan indikator G-Force pada layar Sprinto. Fitur ini biasanya lebih identik dengan mobil sport berperforma tinggi, sehingga memberi kesan teknologi yang berbeda dari skutik harian biasa.

Tenaga dan baterai untuk mobilitas kota

Di balik bodinya yang ramping, Sprinto memakai motor listrik tipe hub drive dengan tenaga 3,5 kW. Indomobil menyebut torsinya mencapai 195 Nm pada poros roda, angka yang diklaim setara dengan torsi mobil bensin 2.000 cc.

Klaim tersebut membuat Sprinto menonjol dalam hal respons awal dan dorongan instan khas motor listrik. Karakter seperti ini juga berguna saat melewati tanjakan atau saat perlu bergerak cepat dari posisi diam.

Sumber dayanya memakai baterai LFP atau Lithium Iron Phosphate berkapasitas 2,45 kWh. Baterai ini dirakit lokal di Indonesia, dan diklaim punya dua keunggulan utama, yakni lebih aman serta memiliki siklus hidup lebih panjang dibanding beberapa pendekatan baterai lain pada kendaraan listrik.

Dengan kondisi penuh, Sprinto disebut mampu menempuh jarak hingga 110 kilometer. Jarak itu membuatnya relevan untuk aktivitas harian, termasuk perjalanan rumah ke kantor dan mobilitas dalam kota.

Fitur keselamatan dan posisi berkendara

Sprinto tidak hanya mengandalkan tampilan dan tenaga. Indomobil membekalinya dengan Traction Control System atau TCS untuk membantu menjaga traksi di permukaan licin, serta Hill Start Assist atau HSA agar motor lebih stabil saat mulai bergerak di tanjakan.

Sistem pengeremannya menggunakan Combi Brake System atau CBS. Saat tuas kiri ditekan, sistem ini membagi porsi pengereman ke roda depan dan belakang secara otomatis.

Dari sisi ergonomi, Sprinto dibuat mendekati skutik konvensional agar lebih nyaman dipakai harian. Tinggi joknya 770 mm, sementara setangnya dibuat agak turun untuk menghasilkan posisi berkendara yang lebih natural.

Pendekatan itu juga didukung oleh pengaturan dek kaki yang disebut pas untuk postur pengendara Indonesia. Dengan begitu, sensasi duduknya tidak terasa seperti “nangkring”, sesuatu yang kerap jadi keluhan pada beberapa motor listrik lain.

Baca Juga

Back to top button