Kenaikan harga perangkat mulai mengubah peta persaingan smartphone di Asia Tenggara. Di tengah pasar yang melemah, produsen yang punya portofolio seimbang justru lebih mudah bertahan, sementara merek yang bergantung pada segmen murah menghadapi tekanan lebih besar.
Kondisi itu terlihat jelas pada kuartal I-2026 ketika Samsung berhasil memimpin pasar smartphone Asia Tenggara. Menurut Omdia, perusahaan asal Korea Selatan itu menjadi satu-satunya pemain besar yang masih mencatat pertumbuhan positif di kawasan tersebut.
Samsung mengirim 4,6 juta unit dengan pangsa pasar 21%. Capaian itu membuatnya unggul tipis dari para pesaing yang sama-sama berusaha keras menjaga posisi, termasuk merek-merek yang kuat di pasar regional seperti Indonesia.
Samsung dapat dorongan dari dua lini andalan
Omdia menilai performa Samsung ditopang oleh kombinasi Galaxy S26 dan Galaxy A. Seri Galaxy S26 disebut tampil kuat pada awal tahun, sementara volume penjualan Galaxy A juga tetap tinggi.
Kombinasi itu membantu Samsung menjaga pengiriman saat permintaan pasar sedang melemah. Strategi tersebut memberi ruang bagi perusahaan untuk tetap tumbuh ketika banyak pesaing justru kehilangan tenaga.
Di sisi lain, pasar Asia Tenggara secara keseluruhan belum pulih kuat. Total pengiriman smartphone pada kuartal tersebut hanya 21,6 juta unit, turun 9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Merek China ikut tertekan
Di belakang Samsung, Oppo berada di posisi kedua dengan pengiriman 4,2 juta unit dan pangsa pasar 20%. Namun, penjualannya turun 17%, dan Omdia mengaitkan pelemahan itu dengan penggabungan bersama Realme.
Xiaomi menempati posisi ketiga dengan 3,7 juta unit dan pangsa pasar 17%. Kinerjanya turun 12% setelah kenaikan harga di seluruh portofolio disebut mengurangi minat kanal distribusi dan membatasi alokasi anggaran.
Transsion, induk Infinix, Tecno, dan Itel, berada di urutan keempat dengan 3,4 juta unit dan pangsa 16%. Meski turun 10%, merek-merek seperti Infinix dan Tecno masih punya harga kompetitif yang membantu posisinya di Indonesia dan Filipina.
Vivo memilih mengejar profit
Vivo melengkapi lima besar dengan 2,1 juta unit dan pangsa pasar 17%. Perusahaan itu mencatat penurunan paling tajam di antara pemain besar, yakni 27%.
Omdia menjelaskan penurunan tersebut terjadi karena vivo mengalihkan fokus ke profitabilitas. Langkah itu membuat perusahaan menarik diri dari segmen entry-level, yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pasar ponsel murah.
Perubahan arah ini ikut memperlihatkan bahwa persaingan di kelas bawah tidak lagi semudah sebelumnya. Ketika banyak pemain menahan diri di segmen murah, ruang pertumbuhan untuk volume besar ikut menyempit.
Harga jual rata-rata naik, segmen murah makin sempit
Tekanan pasar tidak hanya datang dari sisi permintaan yang melemah. Omdia juga mencatat harga jual rata-rata smartphone di Asia Tenggara naik ke level tertinggi baru pada kuartal I-2026.
ASP pada periode itu mencapai US$349 atau sekitar Rp 6,1 juta, naik 19% secara tahunan. Kenaikan tersebut dipicu lonjakan biaya memori yang ikut mendorong harga perangkat di pasar.
Kondisi itu membuat HP murah terjepit dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, permintaan melemah, sementara di sisi lain biaya produksi yang lebih mahal ikut menekan ruang gerak produsen.
Dalam situasi seperti ini, strategi yang hanya mengandalkan volume murah tidak lagi memberi hasil yang sama. Sebaliknya, portofolio yang memadukan kelas premium dan menengah, seperti milik Samsung, justru lebih tahan menghadapi pasar yang sedang sulit.
Source: www.cnbcindonesia.com