Harga Minyak Menguat Saat Iran Memperketat Hormuz, Rundingan Damai Masih Buntu

Harga minyak kembali bergerak naik ketika ketegangan di Selat Hormuz memanas, sementara pasar menunggu kepastian dari jalur diplomasi yang justru tersendat. Gangguan di wilayah sempit itu segera menarik perhatian dunia karena Selat Hormuz menjadi pintu lewat sekitar seperlima minyak dan gas alam cair global.

Di tengah situasi tersebut, Iran kembali memperlihatkan pengaruhnya atas jalur pelayaran vital itu. Tayangan media negara menampilkan pasukan komando Iran naik ke kapal kargo besar, dan Teheran mengklaim telah menangkap dua kapal yang disebut melintas tanpa izin.

Selat yang sangat sensitif bagi energi dunia

Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa, melainkan titik yang sangat menentukan pergerakan energi internasional. Setiap ketegangan di kawasan ini cepat memicu kekhawatiran pasar karena arus minyak dan gas dari wilayah tersebut menyangkut banyak negara sekaligus.

Kontrol atas selat itu juga menjadi alat tekan politik yang makin terlihat dalam konflik yang belum menemukan titik temu. Teheran menegaskan tidak akan membuka kembali jalur tersebut selama Amerika Serikat masih mempertahankan blokade terhadap kapal-kapal Iran.

Aksi di laut dan pesan politik dari Teheran

Rekaman yang disiarkan televisi negara memperlihatkan pasukan bertopeng mendekati MSC Francesca dengan speedboat abu-abu. Setelah itu, mereka memanjat lambung kapal dan masuk membawa senjata, sebelum tayangan lain menunjukkan kapal Epaminondas yang menurut Iran juga telah dikuasai pada Rabu.

Pernyataan Iran memperkuat kesan bahwa penguasaan atas selat dipakai sebagai sinyal politik, bukan hanya urusan pelayaran. Dari sisi Teheran, jalur itu menjadi sarana untuk menekan lawan di tengah hubungan yang semakin tegang.

Wakil ketua parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, bahkan menyebut pendapatan pertama dari tarif yang dipungut Iran atas kapal yang menggunakan selat telah ditransfer ke bank sentral. Ia tidak menjelaskan siapa yang membayar atau berapa besar nilainya, tetapi pernyataan itu menambah kesan bahwa Iran ingin menunjukkan otoritas penuh di kawasan tersebut.

Rundingan damai yang terhenti di tengah tekanan

Ketegangan di Hormuz semakin ruwet setelah pembicaraan damai mandek pada Selasa, hanya beberapa jam sebelum gencatan senjata dua pekan berakhir. Kondisi itu membuat arah diplomasi menjadi kabur, sementara kekhawatiran atas keamanan pelayaran terus meningkat.

Seorang sumber senior Iran kepada Reuters mengatakan Teheran masih mungkin hadir dalam pertemuan di Pakistan. Namun, syarat yang tetap diajukan tidak berubah, yaitu blokade Amerika Serikat harus dicabut dan kapal-kapal Iran yang disita wajib dibebaskan.

Pakistan, yang menjadi tuan rumah pembicaraan bulan ini, masih berkomunikasi dengan kedua pihak setelah putaran kedua batal digelar. Akan tetapi, sumber pemerintah Pakistan menyebut pejabat Iran belum bersedia memastikan pengiriman delegasi karena blokade AS dan sejumlah alasan lain.

Tekanan militer dari dua sisi

Di sisi lain, Washington juga mengambil langkah keras di laut. AS menyatakan sedang menghadapi kapal-kapal Iran di perairan internasional untuk menegakkan blokadenya sendiri, dan mengatakan telah menaiki tanker Majestic di Samudra Hindia.

Tanker itu diduga merujuk pada supertanker Phonix yang membawa 2 juta barel minyak mentah. Presiden AS Donald Trump kemudian menulis di Truth Social bahwa ia telah memerintahkan Angkatan Laut untuk “shoot and kill” kapal-kapal Iran yang memasang ranjau di selat itu.

Ia juga meminta peningkatan aktivitas penjinakan ranjau, meski unggahan tersebut tidak menjelaskan cara menghadapi taktik lain yang dipakai Iran. Di luar ranjau, Teheran juga memiliki speedboat, rudal, dan drone sebagai bagian dari tekanannya di kawasan tersebut.

Dari pihak Iran, Ketua kehakiman Gholamhossein Mohseni-Ejei menyebut kapal dagang yang diserang di selat itu telah “menghadapi hukum”. Ia juga mengatakan speedboat dan drone laut Iran berlindung di gua-gua laut dekat sebuah pulau di sekitar selat, sehingga kapal perang AS tidak bisa mendekat.

Dampak ke pasar global belum mereda

Ketegangan atas Hormuz langsung terasa di pasar keuangan. Pada perdagangan Kamis, saham turun di Jepang, Hong Kong, Inggris, dan Jerman, sementara pasar di Korea Selatan dan Prancis justru mencatat kenaikan.

Harga Brent naik 0,5% menjadi $102.40 per barel, menandakan kekhawatiran pelaku pasar bahwa gangguan di jalur energi utama itu belum dekat dengan penyelesaian. Investor kini memusatkan perhatian pada perkembangan berikutnya karena setiap perubahan sikap di Hormuz dapat memengaruhi sentimen global.

Di saat yang sama, Washington belum mencapai tujuan awal perang yang diumumkan Trump, termasuk melemahkan kemampuan Iran menyerang negara tetangga dan menghentikan program nuklirnya. Iran tetap mempertahankan rudal, drone, dan cadangan uranium yang diperkirakan badan atom PBB melebihi 400 kg, sehingga Selat Hormuz tetap menjadi salah satu alat tekan paling kuat yang dimiliki Teheran.

Exit mobile version