Harga Minyak Menggila, Selat Hormuz Membuat Wall Street Kembali Tertekan

Kenaikan harga minyak mentah kembali menjadi sinyal utama yang membuat pelaku pasar berhati-hati. Brent melonjak 4,5 persen ke US$106,46 per barel di tengah memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, sementara Wall Street justru bergerak melemah karena investor menimbang risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.

Fokus kekhawatiran terbesar tetap berada di Selat Hormuz, jalur strategis yang kerap menjadi titik sensitif dalam hubungan Washington dan Teheran. Pasar membaca situasi ini sebagai ancaman yang bisa merembet ke rantai pasok minyak global jika eskalasi terus berlanjut.

Tekanan geopolitik itu muncul setelah Presiden Donald Trump melalui Truth Social memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk menindak tegas setiap kapal Iran yang disebut memasang ranjau di kawasan tersebut. Sinyal politik ini memperkuat kekhawatiran bahwa ketegangan tidak hanya bersifat diplomatik, tetapi bisa berkembang ke ranah yang lebih berbahaya.

Situasi ikut menjadi lebih panas setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan negaranya siap menghadapi kemungkinan perang terbuka dengan Iran. Pernyataan itu menambah lapisan ketidakpastian bagi investor yang sejak awal sudah waspada terhadap risiko konflik meluas di kawasan energi penting dunia.

Di bursa saham, tekanan terlihat jelas meski pelemahannya tidak sedalam pembukaan perdagangan. S&P 500 ditutup turun 0,4 persen setelah sempat terkoreksi 1,3 persen pada awal sesi, sedangkan Nasdaq 100 melemah 0,6 persen di tengah sentimen risiko yang rapuh.

Sameer Samana, kepala ekuitas global dan aset riil di Wells Fargo Investment Institute, menilai persoalan pokok masih berputar di Selat Hormuz. Ia mengatakan, “Masalah utamanya tetap berada di Selat Hormuz. Sulit untuk melihat bagaimana AS dan Iran bisa mencapai kesepakatan jika kedua belah pihak mempertahankan posisi maksimalis mereka.”

Samana juga memperkirakan tensi belum akan cepat turun. Menurut dia, pasar kemungkinan masih akan melihat fase eskalasi sebelum ada tanda stabilisasi yang lebih meyakinkan.

Lonjakan Brent ke US$106,46 per barel ikut menekan saham-saham yang sensitif terhadap biaya energi. Southwest Airlines Co turun 4,1 persen karena pasar menilai biaya bahan bakar perusahaan berpotensi membengkak, sementara Honeywell International Inc melemah 2,6 persen setelah investor menyoroti gangguan di unit otomatisasinya yang melayani industri energi di Timur Tengah.

Dampak ketegangan ini menunjukkan bahwa gejolak geopolitik cepat menyebar ke sektor yang bergantung pada stabilitas harga energi. Transportasi dan industri biasanya menjadi pihak yang lebih dulu merasakan tekanan ketika harga minyak bergerak naik tajam.

Di sisi lain, sektor teknologi sempat memberi bantalan terbatas bagi pasar. Texas Instruments Inc melonjak 19 persen setelah laporan laba perusahaan itu disambut positif oleh investor, dan penguatan tersebut membantu meredam sebagian tekanan dari isu Timur Tengah.

Steve Sosnick dari Interactive Brokers menilai kinerja semikonduktor yang kuat beri sedikit penopang di tengah kekhawatiran terhadap Selat Hormuz. Meski begitu, penguatan satu saham besar tidak cukup untuk mengubah arah pasar secara keseluruhan ketika sentimen utama masih didominasi risiko konflik dan lonjakan harga minyak.

Pada saat yang sama, beberapa saham besar justru menambah beban bagi indeks. Tesla Inc turun 3,6 persen setelah mengumumkan rencana belanja modal lebih dari US$25 miliar untuk pengembangan kecerdasan buatan dan robotika pada 2026, sedangkan IBM melemah tajam 8,3 persen karena pasar cemas terhadap kinerja unit perangkat lunaknya di tengah disrupsi teknologi.

Kombinasi antara ketegangan Iran-AS, kenaikan Brent, dan pergerakan saham yang selektif membuat arah Wall Street tetap rentan. Selama Selat Hormuz masih dipandang sebagai titik risiko utama, pasar tampaknya belum akan keluar dari bayang-bayang kekhawatiran atas pasokan energi global.

Exit mobile version