Kenaikan harga minyak dunia dan melemahnya rupiah kembali menempatkan APBN 2026 dalam posisi yang tidak nyaman. Di saat pasar masih bergerak liar, pemerintah menghadapi tekanan ganda dari kebutuhan dollar yang tinggi dan biaya impor energi yang makin mahal.
Pada penutupan perdagangan Jumat (24/4/2026), rupiah di pasar spot sempat menguat 57 poin ke level Rp 17.229 per dollar AS menurut Money. Meski sempat pulih, pergerakan itu belum cukup menghapus kekhawatiran karena rupiah sebelumnya sudah sempat berada di area Rp 17.300 per dollar AS, level yang makin dekat dengan zona sensitif bagi fiskal negara.
Tekanan minyak membuat ruang fiskal makin sempit
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dalam kisaran Rp 17.180 hingga Rp 17.400 per dollar AS. Menurut dia, pendorong utama tekanan pasar saat ini datang dari kenaikan harga minyak mentah global dan tingginya kebutuhan dollar di dalam negeri.
Harga minyak Brent tercatat naik ke 105,07 dollar AS per barrel, sementara West Texas Intermediate atau WTI berada di 95,85 dollar AS per barrel pada Jumat (24/4/2026). Angka itu jauh di atas asumsi APBN 2026 yang masih memakai patokan 70 dollar AS per barrel.
Selisih harga tersebut membuat beban fiskal kian berat karena pemerintah harus menanggung biaya impor energi yang lebih mahal. Dalam keadaan rupiah melemah, tekanan itu berpotensi membesar karena setiap pembelian energi dari luar negeri membutuhkan dollar yang semakin mahal.
Asumsi APBN tertinggal dari kondisi pasar
Ibrahim menilai rupiah yang menembus Rp 17.300 memberi sinyal bahwa beban anggaran mulai tergerus. Ia menyoroti bahwa APBN 2026 masih memasang asumsi kurs Rp 16.500 per dollar AS, sementara realisasi pasar sudah jauh bergerak dari angka itu.
Jarak antara asumsi dan nilai tukar aktual membuat ruang pengelolaan anggaran menjadi lebih sempit. Saat kurs bergerak naik, biaya impor dan subsidi energi cenderung ikut meningkat, sehingga pemerintah harus mencari penyesuaian di tengah tekanan belanja yang sudah besar.
Indonesia masih mengimpor sekitar 1,5 juta barrel minyak per hari. Kondisi itu membuat perubahan harga minyak dan pergerakan rupiah langsung terasa pada pembiayaan negara, terutama ketika permintaan dollar di pasar domestik tetap tinggi.
Risiko defisit ikut membesar
Kombinasi harga minyak yang tinggi dan rupiah yang lemah tidak hanya menekan pos energi, tetapi juga memperberat kebutuhan pembiayaan pemerintah. Saat dollar semakin mahal, biaya impor energi naik dan selisihnya perlu ditutup lewat subsidi atau dukungan dana negara.
Ibrahim menilai situasi tersebut dapat memperlebar defisit anggaran apabila tekanan kurs dan harga komoditas tidak segera mereda. Dalam kondisi ini, APBN 2026 menghadapi risiko ganda, yakni biaya energi yang membengkak dan nilai tukar yang tetap jauh dari asumsi awal.
Tekanan itu juga menunjukkan bahwa stabilitas fiskal tidak hanya bergantung pada penerimaan negara. Arah harga komoditas global dan daya tahan rupiah sama-sama menentukan seberapa besar beban penyesuaian yang harus dipikul pemerintah.
Intervensi bank sentral masih menahan gejolak
Bank Indonesia telah melakukan intervensi melalui transaksi valas dan pembelian surat berharga negara untuk menjaga stabilitas rupiah. Langkah tersebut masih dinilai tepat untuk meredam gejolak jangka pendek di pasar keuangan.
Namun, Ibrahim menilai ruang perlawanan bank sentral tidak besar karena faktor tekanan geopolitik di Timur Tengah masih memengaruhi pasar. Di sisi lain, sumber tekanan utama belum hilang karena kebutuhan dollar untuk impor minyak tetap tinggi.
Selama harga minyak belum turun dan permintaan dollar belum mereda, rupiah berpotensi tetap bergerak tidak stabil. Situasi itu membuat kekhawatiran terhadap daya tahan APBN 2026 masih menjadi perhatian utama di tengah tekanan minyak dan utang.