Harga Minyak Dan Emas Membebani India, Modi Dorong Warga Berhemat Demi Devisa

Lonjakan biaya impor dan penyusutan cadangan devisa membuat India harus mencari ruang penghematan dari berbagai sisi. Dalam situasi seperti itu, Perdana Menteri Narendra Modi meminta warga menahan pembelian dan konsumsi yang tidak mendesak, termasuk energi dan emas.

Imbauan itu disampaikan Modi di Hyderabad, India selatan, ketika tekanan eksternal terhadap ekonomi India semakin kuat. Ia menegaskan bahwa penghematan devisa kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang mendesak.

Tekanan energi jadi pusat kekhawatiran

Salah satu titik paling rapuh bagi India ada pada kebutuhan energinya yang masih sangat bergantung pada impor. Sekitar 85% kebutuhan energi India berasal dari luar negeri, sehingga setiap gangguan pada harga minyak langsung memukul biaya ekonomi domestik.

Situasi itu semakin berat setelah perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran mengguncang pasar energi dunia. Konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 memicu kenaikan harga minyak mentah Brent hampir 50%, dari US$ 72,87 per barel menjadi US$ 105,45 per barel.

Kenaikan harga itu terjadi setelah serangan Iran terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk dan pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Jalur tersebut sangat penting bagi India karena sekitar 50% impor minyak mentah negara itu melewatinya.

Pemerintah dorong perubahan kebiasaan harian

Dalam arahannya, Modi meminta masyarakat mengurangi perjalanan ke luar negeri dan lebih banyak bekerja dari rumah. Ia juga mendorong rapat daring agar penggunaan bahan bakar bisa ditekan.

Selain itu, publik diminta memanfaatkan transportasi umum dan carpooling untuk menahan biaya perjalanan. Untuk rumah tangga, Modi mengajak masyarakat menekan konsumsi minyak goreng, yang ia kaitkan dengan gaya hidup hemat sekaligus lebih sehat.

Di sektor pertanian, ia meminta petani mengurangi penggunaan pupuk hingga 50% di tengah gangguan pasokan global. Menurut Modi, sikap hemat dan tanggung jawab sehari-hari juga merupakan bentuk patriotisme, bukan hanya tindakan di medan perang.

Emas dan impor lain ikut jadi sorotan

Selain energi, emas menjadi sasaran lain dari seruan penghematan itu. Komoditas tersebut juga menyedot devisa besar, sehingga pemerintah menilai konsumsi yang masih bisa ditunda perlu dikendalikan.

Sepanjang tahun fiskal 2025-2026, India mengimpor emas senilai US$ 72 miliar dan menjadi pembeli emas terbesar kedua di dunia setelah China. Dalam situasi devisa yang menipis, besarnya impor emas membuat ruang gerak pemerintah semakin sempit.

Pupuk juga termasuk impor strategis yang sulit dipangkas. India bergantung pada impor pupuk, terutama urea, sekitar 10 juta ton per tahun, dan sebagian besar pasokannya datang dari negara-negara Teluk yang ikut terdampak konflik serta gangguan pelayaran.

Devisa menurun, proyeksi ikut tertekan

Beban impor yang meningkat sudah tercermin pada cadangan devisa India. Per 1 Mei 2026, cadangan devisa tercatat US$ 690,69 miliar, turun dari posisi sebelum perang yang mencapai US$ 728,5 miliar.

Pada tahun fiskal April 2025 hingga Maret 2026, India mengimpor minyak mentah senilai US$ 123 miliar. Total pengeluaran untuk produk minyak dan petroleum bahkan mencapai US$ 174,9 miliar, atau sekitar 22% dari total impor nasional.

Dana Moneter Internasional memproyeksikan defisit transaksi berjalan India akan mencapai US$ 84 miliar pada 2026. Di sisi lain, UBS Securities memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi India menjadi 6,2% dari sebelumnya 6,7%.

Dengan tekanan sebesar itu, pemerintah menilai penghematan dari rumah tangga dan dunia usaha bisa membantu meredam beban ekonomi. Dorongan untuk menahan konsumsi energi, emas, perjalanan luar negeri, dan kebutuhan impor lain kini menjadi bagian dari upaya menjaga daya tahan ekonomi India.

Source: www.beritasatu.com
Exit mobile version