Ketegangan di Timur Tengah kembali menguat meski jalur diplomasi belum tertutup. Gencatan senjata yang diperpanjang antara Amerika Serikat dan Iran memang memberi ruang bagi pembicaraan lanjutan, tetapi perkembangan di Lebanon, laut, dan Irak menunjukkan situasi masih rentan berubah sewaktu-waktu.
Di tengah kondisi itu, pasar energi ikut membaca sinyal yang sama. Harga minyak bergerak naik tipis dan bursa saham utama Eropa melemah karena investor menimbang apakah perundingan baru benar-benar akan berjalan setelah perpanjangan jeda tembak antara Washington dan Teheran.
Isu paling sensitif saat ini tetap berada di sekitar pembicaraan AS-Iran. Laporan yang beredar menyebut putaran kedua dialog dapat berlangsung dalam tiga hari ke depan, meski belum ada penjelasan resmi mengenai lokasi final, format pertemuan, maupun siapa saja yang akan mewakili masing-masing pihak.
Pakistan kembali disebut sebagai simpul penting dalam proses itu. New York Post mengutip sumber Pakistan yang tidak disebutkan namanya dan pernyataan Donald Trump yang menjawab singkat, “It’s possible!”, ketika ditanya soal kemungkinan pertemuan tambahan di Islamabad.
Media digital News Post di Pakistan juga melaporkan kerangka waktu tiga hari untuk pembicaraan tambahan. Namun laporan itu tidak menyertakan rincian sumber maupun agenda resmi, sehingga banyak hal masih bergantung pada perkembangan diplomatik berikutnya.
Sebelumnya, Trump disebut memperpanjang gencatan senjata selama dua pekan ketika masa berlakunya hampir habis. Langkah itu menjaga peluang diskusi tetap terbuka, tetapi belum cukup untuk meredakan tekanan di berbagai titik konflik yang saling terhubung.
Lebanon belum lepas dari tekanan perang
Salah satu titik paling keras masih berada di Lebanon. Gencatan senjata 10 hari di negara itu belum menghentikan kekerasan di lapangan, dan serangan Israel masih dilaporkan menelan korban jiwa.
Media setempat menyebut tiga orang tewas dalam serangan tersebut. Pada saat yang sama, media negara Lebanon melaporkan bahwa Beirut akan meminta perpanjangan gencatan senjata dalam pembicaraan mendatang dengan Israel di Washington.
Dampaknya bagi Lebanon tetap sangat besar. Lebih dari 2.400 orang dilaporkan tewas dan lebih dari satu juta warga mengungsi sejak Hezbollah yang didukung Iran membawa Lebanon masuk ke dalam perang pada 2 Maret.
Kerusakan infrastruktur juga meluas. Pemerintah Lebanon memperkirakan lebih dari 62.000 unit perumahan rusak atau hancur akibat serangan Israel, memperlihatkan bahwa jeda tembak belum mampu memulihkan keadaan di lapangan.
Iran menghadapi tekanan dari darat hingga laut
Di dalam negeri, Iran juga berada di bawah sorotan setelah menggantung seorang pria yang dinyatakan bersalah memiliki hubungan dengan badan intelijen Mossad milik Israel. Otoritas kehakiman Iran menyebut eksekusi itu dilakukan terhadap terpidana dalam kasus yang berkaitan dengan Israel.
Ketegangan tidak berhenti di dalam negeri. Di laut, pengawas keamanan global dan Korps Garda Revolusi menyebut pasukan Iran menargetkan tiga kapal kontainer, menyita dua di antaranya, dan menembaki satu kapal lain.
Teheran menegaskan kapal-kapal harus meminta izin untuk keluar atau masuk ke Teluk melalui selat tersebut. Jalur ini memiliki arti strategis besar karena dalam kondisi damai menjadi rute sekitar seperlima ekspor minyak dan gas dunia, selain berbagai komoditas penting lain.
Laporan terpisah menyebut sebuah kapal kargo yang meninggalkan Iran ditembaki dan berhenti di atas air. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris mengatakan awak kapal aman dan tidak ada kerusakan yang dilaporkan pada kapal tersebut.
Tekanan ke Irak dan dampaknya ke pasar
Di sisi lain, Amerika Serikat juga disebut memblokir pesawat yang membawa hampir $500 juta dalam bentuk uang tunai agar tidak dikirim ke Irak. Media AS melaporkan Washington menangguhkan pengiriman uang tunai ke Irak dan membekukan pendanaan program keamanan setelah serangan terhadap kepentingan AS oleh kelompok yang menunjukkan solidaritas dengan Iran.
Rangkaian langkah itu menunjukkan bahwa persaingan kawasan tidak hanya terjadi lewat operasi militer. Jalur keuangan, keamanan, dan logistik ikut menjadi alat tekanan yang bisa memengaruhi arah konflik dengan cepat.
Pasar pun merespons kombinasi risiko tersebut. Harga minyak naik tipis, sementara Brent North Sea kembali mendekati $100 per barel dan West Texas Intermediate diperdagangkan kembali di atas $90.
Kedua acuan itu sebelumnya naik sekitar tiga persen pada perdagangan Selasa. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan yang masih bergejolak, terutama jika pembicaraan damai tidak segera menghasilkan kepastian baru.