Apple tampaknya sedang menyiapkan cara yang cukup cermat untuk menjaga iPhone 18 Pro tetap terasa “masuk akal” di mata pembeli. Alih-alih langsung menaikkan harga awal, perusahaan disebut lebih memilih memindahkan beban biaya ke opsi penyimpanan internal yang lebih besar.
Pendekatan ini disebut muncul di tengah tekanan biaya komponen yang terus naik, terutama dari lonjakan harga memori. Menurut catatan penelitian yang dilihat 9to5Mac, Apple ingin mempertahankan harga dasar iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max di level yang sama seperti pendahulunya.
Harga dasar tetap, storage jadi ruang penyesuaian
Jeff Pu menyebut langkah tersebut sebagai strategi harga yang agresif. Intinya, Apple disebut berusaha menjaga harga masuk model Pro tetap stabil, sementara penyesuaian biaya dilakukan lewat varian storage berkapasitas lebih besar.
Dengan pola seperti itu, Apple masih bisa memberi kesan harga awal yang kompetitif. Di sisi lain, perusahaan tetap memiliki ruang untuk memperoleh pendapatan lebih dari konsumen yang memilih kapasitas penyimpanan lebih tinggi.
Strategi ini juga membuat penyesuaian harga terasa lebih selektif. Artinya, tekanan biaya tidak langsung dibebankan ke seluruh varian, melainkan diarahkan ke pilihan tertentu yang memang memberi margin lebih besar.
Berbeda dari langkah Samsung
Pendekatan Apple terlihat kontras dengan Samsung, yang sudah menaikkan harga pada beberapa perangkat unggulannya. Di saat pesaing menambah banderol, Apple disebut masih punya ruang untuk menahan harga dasar tetap stabil.
Ruang gerak itu tidak lepas dari struktur bisnis Apple yang kuat di layanan. Pendapatan layanan membuat perusahaan lebih fleksibel dalam menyerap sebagian biaya perangkat keras dibanding produsen yang lebih bertumpu pada penjualan unit.
Layanan menjadi penopang utama
Laporan pendapatan kuartal kedua tahun 2026 menunjukkan pendapatan layanan Apple naik 16 persen secara tahunan menjadi 30,98 miliar dolar AS. Pada periode yang sama, porsi bisnis layanan mencapai 27,9 persen dari total pendapatan kuartalan perusahaan.
iPhone tetap menjadi penyumbang pendapatan terbesar, dengan nilai 56,99 miliar dolar AS. Namun margin keuntungan layanan jauh lebih tinggi, sehingga Apple punya kelonggaran lebih besar untuk mempertahankan harga perangkat sebagai pintu masuk ke ekosistem layanannya.
Kondisi itu menjelaskan mengapa Apple masih bisa menjaga harga dasar iPhone 18 Pro. Perusahaan tidak hanya mengandalkan penjualan perangkat, tetapi juga monetisasi berulang dari layanan yang menopang bisnisnya.
Tekanan biaya memori belum mereda
Meski harga awal model Pro disebut bisa dipertahankan, masalah biaya komponen belum hilang. IDC memperkirakan relaksasi harga komponen tidak akan terjadi setidaknya hingga akhir tahun 2027.
Gartner juga memberi peringatan soal potensi lonjakan biaya DRAM dan SSD hingga 130 persen pada akhir tahun 2026. Situasi ini membuat penahanan harga iPhone 18 Pro lebih terlihat sebagai upaya menunda dampak kenaikan, bukan menghapus risikonya.
Bagi konsumen, skema tersebut berarti harga awal model Pro mungkin tetap aman. Namun pilihan storage yang lebih besar tampaknya akan menjadi titik utama tempat Apple menyesuaikan biaya di tengah pasar komponen yang masih panas.