Hantavirus Di Dokumen Pfizer Bukan Efek Samping, Melainkan Istilah Pantauan Keamanan

Unggahan yang mengaitkan hantavirus dengan vaksin COVID-19 kembali memicu salah baca atas dokumen teknis Pfizer. Padahal, dokumen yang beredar itu tidak menunjukkan hantavirus sebagai efek samping vaksin, melainkan daftar kondisi yang dipantau lebih ketat selama evaluasi keamanan.

Kesalahpahaman ini berawal dari unggahan akun @TheProjectUnity pada 7 Mei 2026. Unggahan itu menghubungkan “Fear Virus” yang disebut didorong media, yakni hantavirus, dengan daftar yang diklaim sebagai efek samping vaksin COVID-19.

Potongan dokumen yang ramai dibagikan berasal dari halaman 33 sebuah laporan Pfizer. Dokumen tersebut berjudul 5.3.6 CUMULATIVE ANALYSIS OF POST-AUTHORIZATION ADVERSE EVENT REPORTS OF PF-07302048 (BNT162B2) RECEIVED THROUGH 28-FEB-2021.

Tanda waktu pada sisi PDF menunjukkan dokumen itu disetujui pada 30 April 2021. Saat diajukan, vaksin yang dibahas masih berada dalam status otorisasi penggunaan darurat.

Bagian yang disorot publik berasal dari lampiran berisi adverse events of special interest, atau AESI. Istilah ini merujuk pada kondisi kesehatan yang perlu dipantau lebih dekat agar peneliti bisa mengumpulkan informasi tambahan selama studi.

Karena itu, kemunculan nama penyakit tertentu di bagian AESI tidak bisa langsung dibaca sebagai bukti bahwa vaksin memicunya. Daftar tersebut hanya menandai kondisi yang diawasi secara lebih ketat dalam proses evaluasi keamanan.

FDA juga menjelaskan bahwa kejadian seperti ini mungkin memerlukan data tambahan dari seluruh populasi studi. Data itu dapat mencakup parameter laboratorium, tanda vital, faktor risiko, terapi penyerta, dan penyakit penyerta.

Dengan kata lain, AESI adalah alat pemantauan, bukan vonis sebab-akibat. Dokumen semacam ini dibuat untuk memperjelas sinyal keamanan, bukan untuk menyatakan semua kondisi yang tertulis sebagai efek samping yang sudah terbukti.

Penyusunan daftar AESI di dokumen Pfizer melibatkan Brighton Collaboration, protokol ACCESS milik European Medicines Agency, Centers for Disease Control and Prevention, serta U.K. Medicines and Healthcare products Regulatory Agency. Sejumlah angka di dokumen itu juga berasal dari kelompok ahli, otoritas regulator, dan Vaccine Adverse Event Reporting System atau VAERS di Amerika Serikat.

VAERS dikelola CDC dan FDA, tetapi sistem itu tidak bisa dipakai sendirian untuk membuktikan sebab-akibat. Setiap orang yang memiliki akses internet dapat mengirim laporan ke VAERS, dan laman akses publiknya secara tegas memperingatkan agar data tersebut tidak disimpulkan secara berlebihan.

Isi VAERS hanya menunjukkan catatan tidak terverifikasi tentang kejadian kesehatan yang dilaporkan setelah vaksinasi. Catatan itu hanya memperlihatkan urutan waktu antara vaksin dan suatu kejadian, bukan bukti bahwa vaksin menyebabkan kejadian tersebut.

Karena itu, penyebutan hantavirus dalam dokumen Pfizer tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa vaksin COVID-19 menyebabkan infeksi hantavirus. Yang ada hanyalah daftar kondisi yang dipantau ketat selama proses penilaian keamanan vaksin.

Exit mobile version