Sebuah pengisi daya ponsel yang digerakkan hamster mungkin terdengar seperti lelucon, tetapi proyek ini benar-benar menunjukkan hasil. Kreator YouTube bernama Flamethrower berhasil membuktikan bahwa putaran kecil dari roda lari hewan peliharaan bisa diubah menjadi listrik, meski prosesnya jauh dari cepat.
Ide itu muncul dari kebiasaan seekor hamster yang aktif pada malam hari dan terus berlari di rodanya. Dari situ, Flamethrower melihat adanya gerakan berulang yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi mekanis untuk rangkaian pengisian daya.
Motor kecil yang dipaksa bekerja terbalik
Untuk mewujudkan konsep tersebut, Flamethrower memakai motor DC 5 volt yang dipasang terbalik. Saat motor diputar, alat itu tidak lagi menerima listrik untuk bergerak, melainkan menghasilkan listrik ke baterai.
Masalahnya, putaran yang dibutuhkan ternyata sangat tinggi. Ia menjelaskan bahwa motor DC 5 volt secara teori harus berputar lebih dari 10.000 RPM agar bisa mendekati laju pengisian standar ponsel sebesar 15 watt.
Kecepatan seperti itu jelas tidak cocok untuk hamster biasa. Jika dipaksakan, motor juga berisiko terlalu panas sebelum energi sempat tersimpan ke baterai.
Cara menaikkan listrik yang sangat kecil
Karena daya yang dihasilkan amat kecil, Flamethrower perlu menstabilkannya lebih dulu. Baterai tidak hanya menyimpan energi, tetapi juga memerlukan tegangan yang lebih tinggi dari tegangan simpanannya agar dapat terisi.
Untuk itu, ia menggunakan sebuah energy harvester module. Komponen ini membantu menaikkan voltase kecil ke level yang bisa diterima baterai, walau kebutuhan voltase tetap meningkat seiring energi yang tersimpan.
Ia juga memakai sistem maximum power point tracking atau MPPT. Sistem ini digunakan untuk menghitung kombinasi input dan output paling optimal bagi energy harvester serta beberapa komponen lain dalam rangkaian.
Penyimpanan daya memakai baterai bekas
Energi dari rangkaian itu tidak ditampung dengan baterai baru. Flamethrower justru memakai sel lithium-ion bekas yang diselamatkan dari skuter listrik rusak sebagai tempat menyimpan daya.
Roda hamster kemudian disambungkan ke poros rig buatannya. Setelah itu, hamster milik saudaranya dibiarkan bekerja semalaman sebelum hasil uji dilihat pada hari berikutnya.
Saat ponsel dihubungkan lewat port pengisian USB, sistem langsung bereaksi. Pengisian memang sangat lambat pada awalnya, tetapi rangkaian tersebut tetap membuktikan bahwa konsep dasarnya benar-benar berfungsi.
Hambatan ternyata ada di kabel
Setelah hasil awal terlihat lambat, Flamethrower mencari sumber masalah dengan kamera termal. Pemeriksaan itu menunjukkan bahwa kendala utama bukan pada charger hamster, melainkan pada kabel USB lama yang digunakan saat pengujian.
Begitu kabel diganti dengan yang lebih baru, kecepatan pengisian meningkat jauh lebih cepat. Perubahan kecil itu membuat sistem terlihat jauh lebih praktis dibandingkan uji awalnya.
Eksperimen ini juga memberi gambaran bahwa sumber daya kecil bisa dimanfaatkan secara kreatif. Secara teori, konsep serupa bisa diterapkan pada perangkat rumah lain yang menghasilkan putaran mekanis, seperti sepeda statis.
Meski begitu, proyek ini tetap bertumpu pada hamster sebagai penggerak utama. Flamethrower bahkan menyebut hewan itu seolah mendapat tujuan baru, walau ia juga sadar hamster tersebut seperti tidak pernah tidur.