Kabar kematian Izz al-Din al-Haddad langsung menjadi sorotan karena sosok ini dikenal sebagai salah satu figur penting dalam struktur Hamas di Jalur Gaza. Hamas menyebutnya sebagai panglima tertinggi Brigade Izz ad-Din al-Qassam, sayap militer kelompok itu, sehingga kepergiannya dinilai membawa dampak besar bagi internal gerakan tersebut.
Hamas kemudian mengonfirmasi bahwa al-Haddad tewas dalam serangan Israel pada Jumat malam. Kematian itu memperkuat laporan awal dari sumber-sumber lokal yang lebih dulu menyebut tokoh tersebut gugur di Gaza.
Konfirmasi dari Hamas dan keluarga
Pernyataan resmi Hamas pada hari Sabtu menjadi penegasan bahwa kabar kematian al-Haddad bukan sekadar rumor di lapangan. Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, juga menyampaikan duka atas kematian al-Haddad melalui pernyataan yang direkam.
Dalam pernyataannya, Qassem menyebut al-Haddad sebagai “salah satu pejuang terbesar rakyat Palestina” dan panglima tertinggi Brigade Izz ad-Din al-Qassam. Hamas juga menggunakan nama Abu Suhaib untuk menyebut al-Haddad dalam komunikasi resminya.
Kabar duka itu tidak berhenti pada satu nama. Serangan yang sama dilaporkan turut menewaskan istri dan putri al-Haddad, dan pemakaman ketiganya disebut berlangsung di Kota Gaza.
Saudara perempuan al-Haddad juga ikut membenarkan kematiannya kepada wartawan. Dengan begitu, informasi mengenai gugurnya tokoh Hamas tersebut mendapat penguatan dari lebih dari satu pihak.
Dampak bagi Hamas di Gaza
Bagi Hamas, kematian al-Haddad bukan hanya kehilangan seorang komandan, tetapi juga pukulan simbolik. Kelompok itu menilai Israel berupaya memaksakan kondisi politik dan situasi di lapangan melalui kekerasan.
Hamas juga menyebut langkah tersebut sebagai tekanan terhadap kepemimpinan perlawanan agar mengubah posisi politiknya. Meski demikian, kelompok itu menegaskan bahwa kematian al-Haddad tidak akan menghentikan gerakan mereka.
Dalam pernyataannya, Hamas bahkan menyebut al-Haddad sebagai “pilar gerakan perlawanan di Jalur Gaza”. Pesan itu menunjukkan bahwa kematiannya diposisikan sebagai bagian dari rangkaian perjuangan yang lebih panjang, bukan akhir dari perlawanan.
Latar konflik yang terus menelan korban
Al-Haddad bukan satu-satunya anggota keluarga yang hilang dalam perang melawan Israel. Dalam konflik itu, ia disebut telah kehilangan dua putranya, Suhaib dan Mu’min, serta menantunya, Mahmoud Abu Hasira.
Rangkaian kehilangan tersebut memperlihatkan bagaimana perang di Gaza memukul keluarga-keluarga secara berlapis. Di satu sisi ada tokoh militer yang gugur, sementara di sisi lain keluarga terdekatnya juga ikut menjadi korban.
Situasi ini terjadi saat tentara Israel disebut masih melakukan pelanggaran harian terhadap gencatan senjata di Jalur Gaza. Gencatan senjata itu mulai berlaku pada Oktober 2025 setelah perang selama dua tahun yang dilancarkan Tel Aviv.
Dalam laporan yang sama, perang tersebut disebut telah menewaskan lebih dari 72.000 orang dan melukai lebih dari 172.000 lainnya. Angka itu menegaskan skala kehancuran yang masih membayangi setiap perkembangan baru di Gaza.
Klaim Israel dan tekanan internasional
Sebelumnya, tentara Israel juga mengklaim telah membunuh Izz al-Din al-Haddad dalam serangan di Kota Gaza. Klaim itu sejalan dengan laporan awal di tingkat lokal yang lebih dulu menyebut tokoh tersebut tewas.
Di tengah situasi yang masih rapuh, Hamas meminta komunitas internasional dan negara-negara mediator perjanjian untuk mengambil tanggung jawab politik, hukum, dan moral. Mereka menilai tekanan diperlukan agar Israel mematuhi ketentuan perjanjian dan menghentikan serangan terhadap warga sipil.
Source: www.viva.co.id