Lonjakan aktivitas transaksi belum cukup membuat kinerja Cashlez kembali solid. Di balik pertumbuhan Gross Transaction Value yang melesat 77,8 persen, perusahaan justru masih menanggung tekanan besar pada laba dan struktur keuangan.
Kondisi itu terlihat dari rugi bersih yang membengkak menjadi Rp 67,74 miliar pada 2025. Margin laba bersih perusahaan pun berada di level negatif 61,47 persen, menandakan kenaikan volume transaksi belum berhasil diterjemahkan menjadi keuntungan yang lebih sehat.
Tekanan terbesar datang dari lini perangkat
Masalah utama Cashlez justru muncul dari bisnis yang selama ini menjadi sumber pendapatan terbesar. Segmen penjualan perangkat menyumbang Rp 77,02 miliar, tetapi nilainya turun 26,35 persen dan ikut menarik total pendapatan perusahaan ke bawah.
Pada tahun buku 2025, pendapatan Cashlez secara keseluruhan turun 20,35 persen menjadi Rp 110,18 miliar. Pelemahan pada penjualan perangkat memperlihatkan bahwa daya beli merchant belum pulih sepenuhnya, sementara ketergantungan pada penjualan perangkat membuat pendapatan perusahaan lebih mudah goyah saat pembelian melambat.
GTV tumbuh, namun beban tetap menekan
Di sisi operasional, transaksi yang diproses Cashlez justru bergerak naik tajam. Kenaikan GTV sebesar 77,8 persen menunjukkan aktivitas pembayaran masih berjalan aktif, tetapi lonjakan itu belum otomatis memperbaiki hasil akhir perusahaan.
Beban penurunan nilai piutang menjadi salah satu faktor yang paling menekan. Beban tersebut meningkat tajam karena ekspansi pada periode sebelumnya, lalu diperberat oleh beban keuangan yang lebih tinggi dan kenaikan pajak tangguhan.
Kombinasi beban itu membuat pertumbuhan transaksi tidak cukup kuat untuk menahan pelebaran rugi. Situasi ini juga menunjukkan tantangan yang umum di industri pembayaran digital, yakni membesarkan volume transaksi tanpa kehilangan disiplin dalam monetisasi.
Neraca ikut melemah
Selain laba rugi, tekanan juga terlihat jelas pada posisi keuangan perusahaan. Debt-to-Equity Ratio Cashlez naik dari 0,93 kali pada akhir 2024 menjadi 3,38 kali per 31 Desember 2025.
Kenaikan rasio tersebut sejalan dengan total liabilitas yang melonjak 86,31 persen menjadi Rp 209,60 miliar. Pada saat yang sama, ekuitas perusahaan turun 48,8 persen menjadi Rp 62,04 miliar, sehingga ruang gerak keuangan menjadi semakin sempit.
Cashlez juga masih mencatat akumulasi defisit Rp 197,38 miliar. Beban defisit ini menambah tantangan pemulihan karena perusahaan harus memperbaiki kinerja operasional sekaligus menahan tekanan neraca.
Pendanaan baru disiapkan
Untuk menjaga likuiditas, manajemen telah mengajukan pinjaman afiliasi senilai Rp 31 miliar. Nilai itu disebut lebih dari 20 persen dari total ekuitas dan menjadi salah satu sumber penopang kas sementara bagi perusahaan.
Di saat yang sama, Cashlez menyiapkan rights issue untuk memperkuat permodalan. Perseroan berencana menerbitkan maksimal 996,67 juta saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 238 per saham, sehingga dana yang berpotensi dihimpun mencapai Rp 237 miliar.
Dana hasil aksi korporasi itu diarahkan ke beberapa kebutuhan utama. Sekitar 45,44 persen akan dipakai untuk melunasi kewajiban utang, 42,17 persen untuk modal kerja operasional, dan 12,39 persen sisanya untuk belanja modal.
Arah strategi bergeser
Manajemen memandang 2025 sebagai tahun yang menantang bagi industri pembayaran digital. Fokus perusahaan kini bergeser pada kualitas merchant dan optimalisasi utilisasi, bukan sekadar mengejar penambahan pelanggan.
Langkah itu menunjukkan bahwa Cashlez harus memperkuat pondasi bisnisnya terlebih dahulu sebelum berharap kinerja pendapatan membaik. Selama penjualan perangkat masih melemah dan biaya tetap menekan, pertumbuhan transaksi saja belum cukup untuk mengangkat profitabilitas perusahaan.