Nasib sembilan delegasi Indonesia yang ikut dalam misi kemanusiaan di Laut Mediterania kini menjadi perhatian utama setelah GPCI mengonfirmasi tujuh di antaranya telah ditangkap militer Israel. Dua WNI lainnya masih ditelusuri karena akses informasi dari wilayah konflik sangat terbatas.
Global Peace Convoy Indonesia menyampaikan kepastian itu setelah tim darurat mencocokkan manifest pelayaran terakhir menyusul insiden pembajakan armada logistik kemanusiaan tersebut. Proses verifikasi berjalan bertahap karena informasi dari lokasi kejadian sulit diperoleh secara langsung.
Perwakilan GPCI, Harfin Naqsyabandi, mengatakan pencocokan data tidak bisa dilakukan dengan cepat. Tim akhirnya memastikan tujuh nama sebagai WNI yang valid berada dalam tahanan militer Israel.
“Dari total sembilan orang delegasi kita yang berlayar, saat ini baru tujuh WNI yang sudah terkonfirmasi valid berada di dalam tahanan militer Israel,” ujar Harfin dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Para WNI yang telah terverifikasi itu disebut berasal dari kalangan aktivis kemanusiaan dan jurnalis nasional. Mereka ikut dalam tugas nonmiliter untuk menyalurkan bantuan sekaligus melakukan dokumentasi lapangan.
GPCI menegaskan bahwa perlindungan terhadap para relawan sipil harus menjadi perhatian utama. Organisasi itu meminta otoritas internasional membuka jalur komunikasi langsung agar hak-hak dasar para tawanan tetap terjaga di tengah situasi yang dinilai rentan.
Di sisi lain, dua delegasi Indonesia yang belum ditemukan masih terus dicari. GPCI menyebut kondisi di sekitar lokasi penahanan belum sepenuhnya jelas, sementara arus informasi tetap terbatas sehingga koordinasi harus dilakukan terus-menerus.
Organisasi itu juga meminta keluarga para relawan di Indonesia untuk tetap tenang. Publik pun diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama yang beredar di media sosial.
Untuk memantau perkembangan kasus ini, posko darurat GPCI di Jakarta akan terus memberi pembaruan selama 24 jam. Pemantauan difokuskan pada kondisi fisik dan psikologis para korban agar setiap perkembangan bisa segera diteruskan kepada keluarga dan pihak terkait.
GPCI juga mendorong pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri segera mengirim nota diplomatik resmi. Langkah itu dinilai penting untuk mendesak pembebasan seluruh tawanan tanpa syarat sekaligus mencegah risiko yang lebih besar bagi keselamatan WNI di luar negeri.
Insiden di Mediterania itu menghentikan perjalanan armada bantuan yang sebelumnya berlayar dalam misi kemanusiaan di bawah bendera Global Sumud Flotilla. Armada tersebut membawa delegasi yang menjalankan tugas kemanusiaan dan peliputan, sebelum keberangkatannya terhenti akibat pembajakan.
Dengan tujuh nama sudah terkonfirmasi, perhatian kini tertuju pada dua WNI lain yang belum diketahui keberadaannya. GPCI menyatakan penelusuran akan terus berjalan sampai seluruh identitas dan kondisi peserta misi dapat dipastikan secara lengkap.
Source: www.beritasatu.com