GLP-1 Bukan Obat Instan, Begini Cara Medis Mengendalikan Nafsu Makan Secara Aman

Banyak orang melihat turunnya berat badan hanya dari hasil akhir di timbangan, padahal pada kasus tertentu prosesnya jauh lebih terukur dan diawasi. Itulah yang terjadi pada program weight management berbasis medis yang dijalani Vicky Shu melalui Halodoc selama delapan pekan.

Program tersebut tidak berhenti pada pengaturan makan biasa. Pendekatannya mencakup pendampingan dokter, meal plan yang dipersonalisasi, dan terapi GLP-1 untuk membantu mengontrol nafsu makan.

Mengapa terapi ini jadi sorotan

Perhatian publik terhadap penurunan berat badan setelah melahirkan sering kali ikut membawa tekanan tersendiri. Saat perubahan tubuh Vicky disorot di media sosial, spekulasi pun muncul, meski yang ia jalani sebenarnya adalah program medis dengan tujuan kesehatan yang lebih luas.

Kondisi itu ikut membuat terapi GLP-1 lebih banyak dibicarakan. Di tengah pola hidup serba cepat, minim aktivitas fisik, dan tingginya stres, pengelolaan berat badan memang makin menantang.

Cara kerja GLP-1 dalam penanganan berat badan

GLP-1 atau glucagon-like peptide-1 adalah hormon alami yang berperan mengatur rasa kenyang dan kadar gula darah. Dalam terapi medis, hormon ini ditiru lewat obat tertentu untuk membantu menekan rasa lapar dan mengurangi dorongan makan berlebih.

Karena mekanismenya bekerja pada sinyal kenyang, terapi ini tidak diposisikan sebagai solusi instan. Penggunaannya menjadi bagian dari penanganan klinis yang terukur, bukan metode yang bisa dipakai sembarangan.

Obesitas tidak sesederhana soal disiplin

Minat pada terapi GLP-1 juga dipengaruhi oleh kondisi obesitas yang masih mengkhawatirkan. Data program Cek Kesehatan Gratis dari Kementerian Kesehatan RI hingga akhir 2025 menunjukkan satu dari tiga orang Indonesia mengalami obesitas sentral.

Kondisi tersebut berisiko memicu gangguan metabolik seperti diabetes dan hipertensi. Karena itu, obesitas tidak bisa disederhanakan sebagai akibat kurang disiplin saja.

Perlu pendekatan yang lebih menyeluruh

Obesitas dipengaruhi banyak hal, mulai dari hormon, metabolisme, genetik, hingga tekanan psikologis. Itu sebabnya penanganannya perlu dilakukan secara komprehensif, bukan hanya dengan diet ketat atau mengejar penurunan berat badan sesaat.

Ignasius Hasim, VP Consultation & Diagnostics Halodoc, menegaskan bahwa penanganan obesitas tidak cukup berhenti pada angka timbangan. Menurutnya, pendekatan yang dipakai harus menggabungkan edukasi, pendampingan dokter dan ahli gizi, teknologi, serta terapi medis dalam program weight management berbasis bukti ilmiah.

Penggunaan terapi harus melalui asesmen dokter

Dalam penjelasan Halodoc, terapi GLP-1 hanya diberikan kepada pengguna yang memiliki indikasi medis setelah asesmen dokter. Penggunaannya juga harus berada di bawah pengawasan dokter spesialis.

Aturan ini penting karena terapi tersebut memang ditujukan untuk kebutuhan klinis yang spesifik. Dengan begitu, GLP-1 tidak diperlakukan sebagai jalan pintas untuk menurunkan berat badan.

Hasil klinis dan peran gaya hidup

Berdasarkan uji klinis, terapi ini disebut dapat membantu penurunan berat badan lebih dari 10 kilogram. Terapi tersebut juga disebut mampu menekan asupan energi rata-rata sebesar 35% dibanding kelompok tanpa terapi.

Meski begitu, hasilnya tetap tidak berdiri sendiri. Terapi GLP-1 harus berjalan bersama perubahan gaya hidup yang sehat dan berkelanjutan agar manfaatnya lebih terjaga.

Vicky sendiri juga memperbaiki pola hidup dengan lebih rutin berjalan kaki dan menata ulang konsumsi hariannya. Ia menempatkan proses itu sebagai investasi pada kesehatan fisik dan mental, bukan sekadar upaya memperbaiki tampilan tubuh.

Source: lifestyle.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button