Di balik citra pertunjukan keliling yang ramai dan penuh hiburan, Tragedi Kereta Sirkus Hammond 1918 memperlihatkan betapa rapuhnya keselamatan perjalanan rombongan sirkus pada masa itu. Dalam peristiwa yang terjadi dekat Hammond, Indiana, api justru menjadi penghalang terbesar setelah tabrakan, membuat proses penyelamatan berubah menjadi upaya yang kacau dan mematikan.
Kecelakaan itu menewaskan 86 orang dan melukai 127 lainnya dari rombongan Sirkus Hagenbeck-Wallace. Peristiwa tersebut kemudian dikenang sebagai salah satu bencana transportasi paling mematikan dalam sejarah Amerika, bukan hanya karena kerasnya benturan, tetapi juga karena kobaran api yang muncul sesudahnya.
Kereta yang terlambat membaca bahaya
Insiden itu terjadi sekitar pukul 4 pagi pada 22 Juni 1918 saat rombongan sedang bergerak dari Michigan City menuju pertunjukan berikutnya di South Chicago. Di atas rel, mereka membawa 58 gerbong dan sekitar 1.000 orang yang bekerja untuk sirkus, meski perjalanan rombongan tidak dilakukan secara serempak.
Bagian yang mengangkut hewan sudah lebih dulu bergerak, disusul kru awal seperti pemasang poster, litografer, dan agen pers. Para pemain berada di bagian belakang seperti biasa, sehingga susunan gerbong membuat dampak tabrakan terasa sangat besar ketika kereta lain datang menghantam dari belakang.
Masalah bermula saat lokomotif harus melaju lebih lambat karena lampu depannya mati. Pada saat yang sama, masinis Alonzo Sargent gagal memperhatikan sejumlah sinyal yang memberi peringatan soal adanya kereta lain di jalurnya.
Benturan yang meremukkan gerbong kayu
Saat tabrakan terjadi, kereta menghantam gerbong belakang Hagenbeck-Wallace Circus. Seorang korban selamat menggambarkan benturan itu kepada Chicago Tribune seperti gerbong yang terbelah di tengah, seolah diiris pisau raksasa.
Kondisi rangkaian ikut memperparah akibatnya. Kereta yang dipakai sirkus itu sudah berusia sekitar 30 tahun dan masih menggunakan gerbong kayu, sehingga hantaman keras langsung membuat bagian belakang hancur berkeping-keping.
Tempat tidur para pemain juga terlepas dari rangka kereta. Puluhan orang tewas seketika dalam benturan awal, sementara penyintas lain justru terjebak di antara reruntuhan yang mulai terbakar.
Api yang menyulitkan penyelamatan
Setelah tabrakan, lampu minyak tanah yang menerangi gerbong ikut memicu kebakaran. Api kemudian menyebar di reruntuhan dan melukai banyak korban yang masih terperangkap di lokasi.
Kondisi itu membuat penyelamatan semakin berat. Petugas dan penyintas harus berhadapan sekaligus dengan benturan, puing kayu, dan api yang terus meluas di sekitar kereta yang hancur.
Di tengah situasi kacau itu, banyak korban mengalami luka bakar parah. Sebagian jenazah bahkan tidak dapat diidentifikasi lagi karena dampak api yang begitu hebat.
Nama-nama yang hilang dan jejak yang tertinggal
Di antara korban yang identitasnya tidak dapat dipastikan terdapat beberapa bintang sirkus, termasuk Millie Jewel, Jennie Ward Todd, serta Arthur dan Joseph Dericks. Joseph Coyle, badut utama sirkus, juga kehilangan istri dan dua anaknya dalam tragedi tersebut.
Jenazah yang berhasil ditemukan kemudian dibawa ke Pemakaman Woodlawn di Chicago. Di lahan luas yang diamankan Showmen’s League, 53 jenazah dimakamkan, tetapi hanya lima yang berhasil diidentifikasi namanya.
Kini, sebuah patung gajah di Showmen’s Rest menandai lokasi pemakaman itu dan masih bisa dikunjungi. Penanda tersebut menjadi pengingat sunyi atas tragedi yang tidak hanya merenggut banyak nyawa, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap keselamatan rombongan sirkus keliling.
Dorongan perubahan setelah bencana
Sesudah kejadian, Alonzo Sargent didakwa bersalah karena menyebabkan kematian. Namun, persidangannya dibatalkan dan ia dibebaskan, sementara perdebatan soal siapa yang paling bertanggung jawab tidak banyak menemukan penyelesaian.
Tragedi ini kemudian mendorong desakan agar sirkus dan rombongan keliling beralih ke gerbong baja demi keselamatan. Tak lama kemudian, kecelakaan lain di Nashville dengan lebih dari 100 korban tewas memicu pemeriksaan keselamatan yang lebih ketat dan penghapusan bertahap gerbong kayu.
Source: www.idntimes.com




