Gerakan Makan Ikan Di Jateng Jadi Senjata Ringan Melawan Stunting Sejak Dini

Kebiasaan makan ikan kembali didorong menjadi bagian dari strategi keluarga dalam mencegah stunting di Jawa Tengah. Gagasan ini diarahkan agar perbaikan gizi anak tidak hanya bergantung pada program besar, tetapi juga dimulai dari pilihan menu harian di rumah.

Di Kabupaten Semarang, pendekatan itu dinilai sejalan dengan capaian penanganan stunting yang sudah cukup baik. Prevalensi stunting di wilayah tersebut disebut berada pada angka 14,5 persen, lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi Jawa Tengah maupun nasional.

Namun, capaian itu belum otomatis diikuti oleh kebiasaan konsumsi ikan yang kuat di masyarakat. Nawal menyebut Konsumsi Ikan Masyarakat atau KIM Jawa Tengah masih sekitar 40 kilogram per kapita per tahun, meski potensi ikan di daerah ini sangat besar.

Ikan sebagai sumber gizi yang dekat dengan keluarga

Dorongan gemar makan ikan dipilih karena dianggap mudah diterapkan dan langsung menyentuh kebutuhan gizi anak. Ikan disebut memiliki kandungan omega dan protein yang baik untuk mendukung tumbuh kembang, membantu mencegah stunting, meningkatkan daya tahan tubuh, serta menjaga kesehatan tulang dan otot.

Manfaat ikan juga disorot dari sisi kesehatan masyarakat yang lebih luas. Kandungan omega yang tinggi disebut dapat membantu mengurangi risiko stroke.

Potensi perikanan Jateng tergolong besar

Di balik dorongan konsumsi itu, sektor perikanan Jawa Tengah memang menunjukkan kapasitas produksi yang besar. Data Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah menunjukkan produksi perikanan tangkap sepanjang 2025 mencapai 436.592,13 ton.

Pada periode yang sama, produksi perikanan budidaya tercatat 537.335,21 ton. Angka ini menunjukkan bahwa ikan bukan hanya tersedia sebagai sumber pangan, tetapi juga memiliki peran ekonomi yang cukup kuat di daerah.

Solusi yang relevan untuk wilayah nonpesisir

Dalam kegiatan Kampanye Gemarikan di Pendopo Eclips, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, TP PKK Jawa Tengah bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah serta Bank Indonesia Jawa Tengah menyerahkan bantuan paket Gemarikan kepada kader PKK dan warga setempat. Bantuan itu dinilai relevan untuk wilayah nonpesisir seperti Tengaran.

Nawal menilai budidaya ikan rumahan bisa menjadi pilihan praktis untuk memenuhi gizi keluarga. Cara ini juga disebut lebih hemat belanja dan berpotensi menambah pendapatan keluarga.

“Ini bisa menjadi sumber gizi dan panjenengan bisa nabung. Belanjanya lebih irit, karena juga bisa menjadi tambahan income untuk keluarga,” ujarnya.

Kebiasaan dibentuk dari rumah

PKK Jateng mendorong kader agar menjadi pelopor kebiasaan makan ikan di keluarga masing-masing. Target yang disampaikan adalah konsumsi ikan minimal empat kali dalam sepekan agar kebiasaan itu tumbuh lebih rutin.

Agar anak lebih mudah menerima, kader juga diminta mengolah ikan dengan cara yang lebih kreatif. Beberapa olahan yang disebutkan antara lain nugget, bakso, abon, dan siomay.

Edukasi kemudian diarahkan ke ruang-ruang sosial yang dekat dengan warga, seperti pengajian, Posyandu, dan pertemuan warga. Dengan pola itu, pesan pencegahan stunting diharapkan tidak berhenti pada acara seremonial, tetapi benar-benar masuk ke kebiasaan harian keluarga.

Source: jateng.akurat.co

Baca Juga

Back to top button