Pintu Claude Mythos Diperluas Terbatas, India Masuk Gelombang Awal Keamanan AI Anthropic

Langkah Anthropic membuka akses terbatas ke Claude Mythos memperlihatkan bahwa AI keamanan kini diposisikan sebagai alat strategis, bukan sekadar teknologi pendukung. Model ini hanya diberikan kepada organisasi terpilih yang dianggap tepercaya, dengan fokus utama pada pertahanan siber dan perlindungan infrastruktur kritis.

India menjadi salah satu negara yang ikut masuk dalam gelombang ekspansi awal di luar Amerika Serikat dan Inggris. Meski nama organisasi penerima akses di India belum diungkap, keputusan itu menandakan bahwa sektor publik dan operator layanan vital di negara tersebut mulai dilibatkan dalam penggunaan AI generatif untuk kebutuhan keamanan.

Anthropic menempatkan Claude Mythos sebagai model yang dirancang untuk membantu menemukan kelemahan perangkat lunak sebelum celah itu dimanfaatkan penyerang. Model ini juga ditujukan untuk mendeteksi titik lemah di basis kode yang kompleks dan memperkuat ketahanan siber lebih dini.

Perusahaan memang sejak awal membatasi distribusi Claude Mythos Preview karena menilai kemampuannya dalam pemrograman dan penemuan celah keamanan terlalu kuat untuk dibuka luas tanpa pengamanan. Saat model itu diluncurkan pada April, aksesnya hanya diberikan kepada sekitar 50 organisasi, dan sebagian besar berada di Amerika Serikat.

Perluasan akses ini berjalan seiring dengan pengembangan Project Glasswing, inisiatif yang dirancang Anthropic untuk membantu institusi tepercaya memakai AI canggih demi keamanan nasional, pertahanan siber, dan kebutuhan sektor publik lain. Program tersebut menghubungkan perusahaan teknologi, operator infrastruktur, pakar keamanan siber, dan pemerintah untuk mengidentifikasi serta menambal kerentanan perangkat lunak secara proaktif.

Anthropic menyebut sekitar 150 organisasi baru telah ditambahkan ke Project Glasswing, sehingga total pesertanya kini mencapai sekitar 200 organisasi di lebih dari 15 negara. Gelombang terbaru itu mencakup lembaga dan perusahaan di sektor jasa keuangan, keamanan siber, teknologi, kesehatan, komunikasi, listrik, air, dan perangkat keras.

Daftar peserta global juga semakin luas dengan masuknya Okta, Samsung, SK Hynix, SK Telecom, Euroclear, Intercontinental Exchange, dan Swift. Nato serta European Union Agency for Cybersecurity atau ENISA juga telah memperoleh akses, sementara peserta awal sebelumnya mencakup Microsoft, Apple, Oracle, JPMorgan Chase, dan CrowdStrike.

Fokus Anthropic tetap berada pada penggunaan defensif, bukan kemampuan siber ofensif. Perusahaan menegaskan bahwa tujuan Project Glasswing adalah memperkuat infrastruktur digital yang menopang layanan penting lintas negara, bukan mendorong serangan siber.

Anthropic juga menyampaikan bahwa organisasi yang berpartisipasi dalam Project Glasswing telah menemukan lebih dari 10.000 kerentanan yang diklasifikasikan tinggi atau kritis. Angka itu menunjukkan skala pekerjaan yang ingin dipercepat lewat model AI seperti Mythos, terutama untuk memperluas tinjauan keamanan pada perangkat lunak sumber terbuka yang menjadi fondasi banyak infrastruktur internet.

Bagi India, masuk ke gelombang awal ini memberi peluang bagi organisasi terpilih untuk ikut dalam ekosistem keamanan siber berbasis AI yang sedang dibangun secara internasional. Penempatan India bersama Kanada, Australia, Selandia Baru, Prancis, Jerman, Italia, Swiss, Belanda, Spanyol, Belgia, Swedia, Jepang, dan Korea Selatan juga menegaskan bahwa negara itu mulai dipertimbangkan dalam agenda perlindungan infrastruktur digital global.

Perluasan akses Claude Mythos datang di tengah fase pertumbuhan baru Anthropic. Perusahaan baru-baru ini mengajukan dokumen secara rahasia untuk penawaran umum perdana di Amerika Serikat, menjadikannya perusahaan frontier AI besar pertama yang resmi memulai proses menuju pasar publik.

Source: www.indiatoday.in

Baca Juga

Back to top button