Gejolak Harga Bahan Bakar Memicu Serbuan Mobil Listrik, Stok Showroom Kian Menipis

Ketika biaya bensin dan solar bergerak naik-turun, banyak pembeli mobil mulai melirik kendaraan listrik sebagai cara menjaga pengeluaran tetap terkendali. Perubahan sikap ini membuat permintaan mobil listrik menguat di sejumlah pasar, sementara stok di showroom ikut menipis.

Di Australia, kondisi itu terlihat jelas pada pasar mobil listrik bekas. Rosco Jewell dari Amazing EV di Sydney mengatakan unit yang terjangkau kini makin sulit ditemukan, padahal sebelumnya penjualan hanya sekitar satu unit setiap dua bulan.

Setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu gejolak energi, ritme penjualan berubah cukup tajam. Menurut Jewell, angka penjualan melonjak menjadi sekitar satu unit setiap dua minggu, sekaligus mendorong harga pasar bekas naik sekitar 10 hingga 15 persen, bahkan dalam beberapa kasus mencapai 20 persen.

Kenaikan harga itu terutama terasa pada mobil listrik bekas di kisaran $20.000 hingga $50.000. Segmen tersebut kini diperebutkan lebih banyak pembeli karena dianggap lebih mudah diprediksi dari sisi biaya operasional harian.

Showroom Baru Ikut Tertekan

Tekanan tidak hanya terjadi di pasar mobil bekas, tetapi juga di dealer mobil listrik baru. Kevin Alberica, manajer operasional dan pengadaan Evolve Motors di Melbourne, mengatakan salah satu stafnya pernah menjual tujuh Tesla hanya dalam satu hari Sabtu.

Ia menyebut kondisi tersebut sangat jarang terjadi dan menunjukkan antusiasme pembeli yang meningkat tajam. Alberica juga menuturkan bahwa dealer yang sebelumnya menyimpan lebih dari 100 Tesla kini hampir tidak memiliki stok tersisa.

Minat besar itu membuat antrean pembeli di sejumlah showroom semakin panjang. Dalam situasi seperti ini, mobil listrik tidak lagi dipandang sebagai pilihan tambahan, melainkan sebagai kendaraan yang dicari lebih cepat karena kekhawatiran terhadap biaya bahan bakar.

Biaya Harian Jadi Pertimbangan Utama

Dorongan terkuat datang dari kekhawatiran terhadap harga bensin dan solar. Saat harga bahan bakar bergejolak, banyak konsumen menilai mobil listrik sebagai cara untuk menekan biaya transportasi dalam jangka pendek maupun menengah.

David Smitherman, CEO EVDirect yang mendistribusikan BYD di Sydney, melihat langsung pola itu di lapangan. Ia mengatakan konsumen datang dengan keresahan yang jelas soal biaya bahan bakar dan kemampuan mengatur kebutuhan mobil harian.

Perubahan cara pandang ini membuat mobil listrik makin diterima sebagai solusi praktis, bukan semata simbol teknologi baru. Bagi banyak pembeli, faktor utama sekarang adalah seberapa besar pengeluaran bisa dikendalikan dari waktu ke waktu.

Merek yang Paling Menarik Pembeli

Dorongan pasar juga diperkuat oleh merek-merek yang sudah memiliki daya tarik kuat. BYD dari China dan Tesla dari Amerika Serikat menjadi dua nama yang paling banyak diburu konsumen, sementara Vinfast dari Vietnam menambah pilihan di pasar.

Minat terhadap merek-merek tersebut ikut memperlihatkan bahwa konsumen tidak hanya mengejar teknologi, tetapi juga mencari kepastian biaya penggunaan. Saat tekanan pada bahan bakar masih terasa, model-model listrik dari merek populer semakin cepat berpindah tangan.

Tren Menguat di Berbagai Negara

Fenomena ini tidak berhenti di Australia. Di China, produsen melaporkan kenaikan penjualan bulanan sebesar 82,6 persen pada bulan Maret, menurut Asosiasi Dealer Otomotif Tiongkok.

Di Amerika Serikat, penjualan mobil listrik bulan lalu mencapai lebih dari 82.000 unit. Angka itu memang turun seperempat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, tetapi masih naik lebih dari 20 persen dibandingkan bulan Februari, menurut Cox Automotive.

Vietnam juga mencatat langkah serupa melalui Vinfast. Pada bulan Maret, perusahaan itu melaporkan penjualan naik 127 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Di Jepang, penjualan mobil listrik hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Korea Selatan bahkan membukukan lonjakan pembelian domestik sebesar 172 persen.

Eropa pun menunjukkan arah yang sama. Prancis mencatat kenaikan tiga kali lipat dalam pendaftaran baru mobil Tesla, sementara Norwegia, Swedia, dan Denmark juga melaporkan peningkatan pendaftaran baru untuk merek tersebut.

Australia sendiri memperlihatkan akselerasi yang jelas. Menurut Kamar Industri Otomotif Federal, kendaraan listrik baterai menyumbang 14,6 persen dari total penjualan kendaraan pada bulan Maret, hampir dua kali lipat dibandingkan proporsi pada bulan yang sama di tahun sebelumnya.

Guncangan Energi Mempercepat Peralihan

Analis energi dari Ember, Euan Graham, menilai konflik di Iran ikut mempercepat adopsi kendaraan listrik, terutama di pasar negara berkembang termasuk Asia Tenggara. Ia melihat pola yang mirip dengan kondisi setelah guncangan energi sebelumnya.

Menurut Graham, ketika bahan bakar fosil berada di bawah tekanan, negara-negara cenderung mencari alternatif yang lebih stabil. Dalam situasi seperti ini, kendaraan listrik menjadi pilihan yang makin kompetitif dan lebih mudah diterima konsumen.

Ia juga menilai percepatan tersebut bisa bertahan lebih lama. Selama kekhawatiran terhadap harga bahan bakar belum reda, showroom akan terus menghadapi tantangan untuk menjaga stok tetap tersedia di tengah permintaan yang tinggi.

Exit mobile version