Gas Mendadak Bikin Boros, Rifat Sungkar Ungkap Cara Nyetir Yang Lebih Halus dan Irit BBM

Banyak pengemudi masih fokus pada performa mesin, padahal cara mengatur laju kendaraan ikut menentukan seberapa hemat bahan bakar yang terpakai. Rifat Sungkar menegaskan, efisiensi BBM sangat dipengaruhi oleh kebiasaan berkendara yang halus, stabil, dan tidak memaksa mesin bekerja terlalu berat.

Poin itu ia sampaikan dalam acara PertaminaTalk di Menara Bank Mega. Menurut Rifat, tenaga yang diminta dari mesin akan selalu berbanding lurus dengan energi yang dipakai, sehingga gaya mengemudi agresif pada akhirnya membuat konsumsi bahan bakar ikut naik.

Tenaga yang dipakai menentukan efisiensi

Rifat menjelaskan bahwa kendaraan tidak hanya boros karena kondisi mesin, tetapi juga karena pola penggunaan tenaga oleh pengemudi. Saat tenaga yang dibutuhkan makin besar, energi yang terpakai juga meningkat.

Itu sebabnya, akselerasi mendadak dan kebiasaan berkendara yang tidak stabil cenderung membuat BBM lebih cepat habis. Sebaliknya, ritme berkendara yang mengalir membuat kerja mesin terasa lebih ringan.

RPM rendah jadi dasar penghematan

Salah satu cara paling sederhana untuk menekan konsumsi bahan bakar adalah menjaga putaran mesin tetap rendah tanpa membuat kecepatan kendaraan tertinggal dari kebutuhan jalan. Pada mobil manual, pemilihan gigi yang tepat menjadi kunci agar beban mesin tidak berlebihan.

Rifat memberi contoh saat mobil melaju 40 km/jam. Di gigi 1, mobil memang masih bisa mencapai kecepatan itu, tetapi RPM bisa melonjak hingga 7.000, sedangkan di gigi 2 putarannya turun ke sekitar 3.000.

Jika memakai gigi 3, putaran mesin dapat berada di kisaran 2.000 RPM. Dalam kondisi seperti itu, pergerakan kendaraan dinilai lebih efisien karena mesin tidak dipaksa bekerja terlalu tinggi.

Stabilitas laju lebih penting daripada hentakan gas

Selain soal pemilihan gigi, kestabilan kecepatan juga ikut memengaruhi boros atau hematnya BBM. Pengemudi disarankan menyesuaikan laju kendaraan dengan kondisi jalan dan menghindari perubahan akselerasi yang terlalu mendadak.

Rifat menyoroti bahwa pola berkendara yang terlalu agresif justru membuat mesin bekerja lebih berat. Ia juga mengingatkan kebiasaan pada motor matik yang sering boros saat gas diputar mendadak, terutama ketika pengendara terburu-buru mengejar lampu merah.

Stop-and-go paling menguras tenaga

Kondisi berhenti-jalan atau stop-and-go disebut sebagai salah satu situasi paling berat bagi mesin. Saat kendaraan diam lalu harus mulai bergerak lagi, tenaga yang dibutuhkan jauh lebih besar dibandingkan ketika mobil sudah melaju stabil.

Setelah kendaraan bergerak, beban akan terasa lebih ringan dan kebutuhan tenaga ikut menurun. Karena itu, dalam lalu lintas padat, menjaga jarak aman antarkendaraan menjadi penting agar pengemudi masih bisa menjaga momentum.

Ruang yang cukup membuat kendaraan tidak perlu berhenti total saat arus mulai tersendat. Kebiasaan menghindari dead stop seperti ini dinilai membantu menekan pemborosan BBM karena pengemudi tidak harus terus-menerus memulai dari kondisi diam yang paling menguras energi.

Baca Juga

Back to top button