Garuda Indonesia Perkuat Fondasi Bisnis, Susunan Direksi Dan Komisaris Ikut Dirombak

Penyegaran kepemimpinan di Garuda Indonesia menandai bahwa agenda pemulihan perusahaan belum berjalan setengah hati. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang digelar pada Rabu (13/5), pemegang saham menyetujui perubahan di jajaran direksi dan komisaris untuk memperkuat arah transformasi Garuda Indonesia Group.

Keputusan itu memberi sinyal bahwa Garuda tidak hanya menata struktur, tetapi juga ingin memastikan fondasi bisnisnya makin kokoh. Di tengah proses turnaround yang masih berjalan, perusahaan menempatkan pembaruan manajemen sebagai salah satu alat untuk menjaga ritme pemulihan.

Penyegaran di kursi direksi dan komisaris

Salah satu nama yang mendapat penugasan baru adalah Frans Dicky Tamara. Ia ditetapkan sebagai Direktur Human Capital & Corporate Service setelah sebelumnya lebih dulu bergabung sebagai Komisaris Garuda Indonesia sejak Oktober 2025.

Perubahan juga terjadi di jajaran pengawas perusahaan. Pemegang saham menetapkan Sugito Anjasmoro sebagai komisaris baru pada emiten berkode saham GIAA tersebut.

Di sisi lain, posisi operasional yang berkaitan langsung dengan pengelolaan sumber daya manusia turut mengalami pergantian. Eksitarino Irianto diberhentikan dari jabatan Direktur Human Capital & Corporate Service, sehingga susunan manajemen kini berubah pada lini yang strategis bagi perusahaan.

Fokus pada fondasi bisnis yang lebih kuat

Direktur Utama GIAA, Glenny Kairupan, menegaskan bahwa perusahaan saat ini memusatkan perhatian pada penguatan fundamental bisnis. Arah itu diarahkan pada peningkatan keunggulan operasional dan disiplin biaya.

Garuda Indonesia juga mendorong reliabilitas layanan, optimalisasi jaringan penerbangan, dan digitalisasi operasional. Seluruh langkah tersebut ditempatkan dalam kerangka rebuilding fundamentals agar grup tumbuh dengan fondasi yang lebih sehat, agile, dan sustainable untuk jangka panjang.

Menurut Glenny, susunan manajemen baru diharapkan bisa membantu mempercepat langkah perseroan menuju fase turnaround yang lebih solid. Ia juga menegaskan target Garuda Indonesia untuk tetap menjadi national flag carrier yang berdaya saing dan mampu memberi kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara.

Operasi tetap menjadi perhatian utama

Di tengah penyegaran manajemen, kinerja operasional masih menjadi indikator penting yang terus dijaga. Hingga akhir Kuartal I 2026, Garuda Indonesia mencatat 102 armada yang siap melayani penerbangan.

Pada periode yang sama, perseroan membukukan volume penumpang 2,47 juta orang. Anak usaha Garuda Indonesia, Citilink, juga ikut menyumbang skala operasi grup dengan mengangkut 2,94 juta penumpang pada periode yang sama.

Data tersebut memperlihatkan bahwa perubahan di level direksi dan komisaris berjalan beriringan dengan kebutuhan menjaga efisiensi, keandalan layanan, dan optimalnya jaringan penerbangan. Bagi Garuda Indonesia, kombinasi antara pembaruan kepemimpinan dan penguatan operasional menjadi bagian dari upaya menjaga proses pemulihan tetap berada di jalur yang diharapkan.

Exit mobile version