Garuda Di Dadaku Berubah Jadi Animasi Fantasi, Ronny Gani Bawa Pulang Pengalaman Hollywood

Garuda di Dadaku hadir lagi dengan wajah yang jauh berbeda dari versi live-action yang lebih dulu dikenal publik. Kali ini, kisahnya dibawa ke bentuk animasi fantasi, dengan pendekatan yang dibuat lebih bebas, lebih ekspresif, dan tetap menyasar penonton Indonesia.

Langkah itu tidak datang begitu saja. Ronny Gani membawa pulang pengalaman panjangnya dari industri visual effects di Singapura, termasuk keterlibatannya dalam proyek Hollywood seperti Avengers, lalu memanfaatkannya untuk membentuk ulang semesta Garuda di Dadaku agar terasa segar di layar lebar.

Dari pengalaman luar negeri ke proyek lokal

Bagi Ronny, perjalanan kerja di luar negeri bukan akhir, melainkan bekal yang dibawa kembali ke tanah air. Ia menempatkan masa itu sebagai fase belajar yang kemudian dipakai untuk mengerjakan karya yang lebih dekat dengan penonton Indonesia.

Pilihan Garuda di Dadaku sebagai proyek pertama di Indonesia juga lahir dari pembicaraan yang serius dengan Shanty Harmayn, kreator IP aslinya. Dari diskusi itu, keduanya sepakat bahwa versi animasi tidak boleh sekadar mengulang cerita lama, melainkan harus memberi pengalaman baru bagi penonton.

Dunia cerita dibuat lebih lepas dan fantasi

Film ini tetap berangkat dari semangat yang sudah dikenal publik, tetapi arahnya tidak dipasang sebagai salinan dari versi live-action tahun 2009. Ronny memilih memperluas semestanya dengan napas fantasi yang memberi ruang lebih besar untuk visual dan imajinasi.

Di pusat cerita ada Putra, bocah penderita asma yang bercita-cita menjadi pesepak bola. Perjalanannya berubah ketika ia menemukan jersei mistis dan bertemu Gaga, burung Garuda ajaib, serta Naya, pelatih cilik yang tegas.

Ronny menegaskan bahwa dunia film ini perlu terasa seperti sesuatu yang berada di luar realitas sehari-hari. Karena itu, unsur komedi, desain karakter, dan gaya bertuturnya dibuat lebih ekspresif agar cocok dengan format animasi fantasi.

Gaga jadi karakter yang paling menonjol

Salah satu pembaruan yang paling terasa ada pada sosok Gaga. Burung Garuda kecil itu tidak hanya tampil sebagai elemen visual, tetapi juga dibangun dengan emosi yang kompleks supaya bisa marah, sedih, dan bawel.

Ronny menggambarkan Gaga sebagai “cabai rawit” dalam semangkuk mi instan. Perumpamaan itu menunjukkan betapa pentingnya karakter tersebut dalam memberi rasa pada keseluruhan cerita dan membuat film terasa hidup.

Kristo Immanuel mengisi suara Gaga dalam film animasi panjang pertamanya. Tantangannya adalah menjaga konsistensi warna suara di berbagai emosi, sekaligus memastikan karakter itu tetap mudah dikenali meski bentuknya imut.

Naya, energi keras, dan rekaman suara yang menuntut

Quinn Salman memerankan Naya, sosok pelatih cilik yang membutuhkan suara kuat dan penuh semangat. Perannya berbeda dari karakter yang biasa ia bawakan, sehingga ia harus menyesuaikan cara berbicara agar terdengar tegas.

Dalam proses rekaman, Quinn juga diminta mengeluarkan effort sounds seperti napas berat dan tekanan fisik untuk adegan emosional. Sebagai penyanyi, ia terbantu dalam mengatur napas saat harus banyak berteriak di ruang rekaman.

Menariknya, Quinn juga belajar soal sepak bola dari adik kandungnya yang menggemari Garuda di Dadaku versi live-action. Dari situ, ia lebih mudah memahami istilah dasar permainan dan masuk ke karakter Naya yang dekat dengan dunia bola.

Penulisan, rekaman, dan target lintas generasi

Para pengisi suara bekerja tanpa lawan main secara fisik saat rekaman, sehingga respons emosi harus dibangun hanya lewat suara dan imajinasi. Situasi itu menuntut presisi agar adegan tetap terasa hidup meski prosesnya berlangsung terpisah.

Ronny dan tim juga menggelar Focus Group Discussion sejak tahap penulisan naskah. Langkah ini dipakai untuk menjaga agar humor, dialog, dan ritme ceritanya tetap segar untuk penonton anak-anak hingga Gen Z.

Pendekatan itu sejalan dengan posisi Garuda di Dadaku yang sudah memiliki basis penggemar kuat dan lagu-lagu yang akrab di telinga banyak orang. Revalina S. Temat turut bergabung sebagai pengisi suara Dewi Garuda, melengkapi jajaran talenta yang menghidupkan versi animasi ini.

Dengan format fantasi, karakter magis, dan susunan cerita yang lebih luas, Garuda di Dadaku diposisikan sebagai ruang baru bagi kisah lama yang kini tampil dengan bahasa visual yang lebih berani. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 11 Juni.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button