Fitur Ikonik Galaxy Yang Perlahan Dihapus, Dari MicroSD Sampai Pemindai Iris Yang Dulu Andalan

Bagi banyak pengguna lama, daya tarik Galaxy bukan hanya soal spesifikasi utama, tetapi juga fitur kecil yang terasa praktis dalam pemakaian harian. Sejumlah kemampuan itu kini sudah hilang, padahal dulu justru menjadi alasan orang memilih perangkat Galaxy dibanding ponsel Android lain.

Yang membuatnya terasa sayang, fitur-fitur tersebut tidak semuanya sekadar hiasan. Ada yang memang fungsional, ada yang terasa maju untuk zamannya, dan ada pula yang sempat memberi identitas kuat pada lini Galaxy sebelum akhirnya disisihkan oleh Samsung.

Penyimpanan ekstra yang dulu sangat diandalkan

Salah satu kehilangan yang paling terasa adalah slot microSD. Bagi banyak orang, fitur ini pernah menjadi pembeda besar karena memberi ruang tambahan untuk foto, video, dan file lain tanpa harus bergantung penuh pada kapasitas internal.

Samsung memang sempat menghapusnya lewat Galaxy S6, lalu membawanya kembali di Galaxy S7 setelah reaksi pasar kurang baik. Namun, fitur itu akhirnya dihapus lagi secara permanen saat Galaxy S21 hadir, sehingga pengguna kini harus mengandalkan penyimpanan internal dan layanan awan.

Notifikasi yang dulu cukup dilihat sekilas

LED notifikasi juga pernah jadi ciri khas yang mudah dikenali. Saat ponsel dalam mode senyap, lampu kecil itu sudah cukup memberi tanda bahwa ada pesan atau pemberitahuan masuk tanpa perlu menyalakan layar.

Fitur ini perlahan tersisih ketika Samsung makin mendorong desain layar penuh. LED notifikasi hilang dari Galaxy S10, dan terakhir kali fitur itu muncul ada pada lini Galaxy S9, sebelum akhirnya diganti dengan Edge lighting yang membuat sisi layar menyala sebagai penanda notifikasi.

Sensor kesehatan di bodi belakang yang ikut lenyap

Galaxy S5 dan Galaxy Note 4 pernah membawa monitor detak jantung bawaan. Pengguna hanya perlu meletakkan jari di sensor belakang ponsel untuk membaca detak jantung, lalu Samsung menambahkan sensor SpO2 di Galaxy S6 untuk mengukur saturasi oksigen dalam darah.

Keduanya kemudian hilang setelah Galaxy S10 dan Galaxy Note 9. Galaxy S10e bahkan disebut sudah tidak memiliki monitor detak jantung, sementara Samsung tampaknya memusatkan fitur kesehatan ke perangkat wearable seperti Galaxy Watch.

Ponsel yang sempat bisa jadi remote

IR blaster juga pernah masuk ke jajaran Galaxy dan cukup disukai pengguna tertentu. Dengan fitur ini, ponsel bisa dipakai untuk mengendalikan TV dan perangkat lain yang memakai remote infra merah.

Galaxy S4 menjadi ponsel Galaxy pertama yang membawa IR blaster, lalu Galaxy S6 menjadi yang terakhir. Samsung kemudian menghapusnya, dengan dugaan bahwa data penggunaan menunjukkan fitur itu tidak dipakai sebanyak yang diperkirakan, dan biaya komponen juga ikut berperan.

Pemindai iris yang terasa futuristis

Samsung sempat membawa pemindai iris ke perangkat flagship melalui Galaxy Note 7. Fitur ini dipakai untuk membuka kunci perangkat dan mengaktifkan Samsung Pass, bahkan di lingkungan bisnis juga digunakan agar pengguna berwenang bisa membuka aplikasi kerja tertentu.

Namun, Samsung akhirnya menghentikannya saat Galaxy S10 hadir karena pemindai sidik jari dinilai lebih akurat. Kepercayaan terhadap fitur ini juga sempat terganggu setelah The Guardian melaporkan adanya peretas yang berhasil membypass pemindai iris pada Galaxy S8 hanya sebulan setelah peluncuran dengan memanfaatkan gambar mata pemilik perangkat.

Desain layar Edge yang makin berubah arah

Galaxy Note Edge pada 2014 pernah membawa sisi kanan layar yang benar-benar melengkung keluar dari bodi ponsel. Area itu bisa dipakai untuk membuka aplikasi favorit dengan cepat, sekaligus menampilkan cuaca, suhu lokal, dan status baterai saat tidak digunakan.

Konsep tersebut berlanjut ke Galaxy S6 Edge, S7 Edge, hingga S23 Ultra, tetapi bentuknya kemudian berubah menjadi Edge panel yang hanya muncul lewat geser dari sisi layar. Edge panel memang masih ada, namun tampilannya jauh lebih sederhana dibandingkan layar Edge fisik yang dulu begitu mencolok.

Baca Juga

Back to top button