Kecelakaan jip wisata di jalur menuju Gunung Bromo membuat sorotan terhadap keselamatan transportasi wisata kembali menguat. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru kini meninjau ulang standar keamanan di kawasan tersebut setelah insiden itu menewaskan dua orang.
Evaluasi ini tidak hanya menyentuh kondisi kendaraan, tetapi juga cara pengawasan dan kesiapan di lapangan. BB TNBTS ingin memastikan seluruh unsur yang terlibat dalam layanan wisata memiliki standar keselamatan yang lebih kuat.
Fokus evaluasi diperluas
Pranata Humas BB TNBTS, Endrip Wahyutama, menyebut pihaknya sudah berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait. Langkah itu ditempuh agar penilaian berjalan menyeluruh dan tidak berhenti pada satu aspek saja.
Dalam evaluasi tersebut, BB TNBTS melihat komitmen pelaku usaha jasa wisata saat melayani wisatawan. Selain itu, kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat juga masuk dalam pembahasan utama.
Mekanisme respons cepat dan proses evakuasi saat insiden terjadi ikut menjadi perhatian. BB TNBTS menilai penanganan darurat harus lebih sigap agar risiko korban bisa ditekan.
Dukungan untuk penyelidikan polisi
Di luar evaluasi internal, BB TNBTS juga menyatakan dukungan penuh terhadap penyelidikan kepolisian. Langkah ini dinilai penting agar penyebab pasti kecelakaan dapat diketahui dengan jelas.
Endrip menegaskan hasil penyelidikan dibutuhkan sebagai dasar perbaikan ke depan. Dengan begitu, upaya pencegahan bisa disusun lebih tepat untuk menghindari kejadian serupa.
Pihak TNBTS juga menyampaikan belasungkawa kepada korban dan keluarga yang terdampak. Sikap itu disampaikan karena kecelakaan tersebut menyebabkan korban jiwa dan sejumlah penumpang lain terluka.
Kronologi kecelakaan di jalur Bromo
Peristiwa itu terjadi di tikungan Letter S, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Lokasi tersebut berada pada jalur menuju Gunung Bromo yang ramai digunakan wisatawan.
Kecelakaan melibatkan jip bernomor polisi BG 1478 EF yang melaju dari arah utara ke selatan. Saat tiba di lokasi kejadian, kendaraan diduga kehilangan kendali, menabrak tebing, lalu terguling.
Dua orang dinyatakan meninggal dunia dalam insiden itu, yaitu sopir jip berinisial MS dan wisatawan berinisial YWA. Tiga penumpang lain, masing-masing berinisial ZH, FR, dan FNN, mengalami luka-luka.
Kepolisian Resor Pasuruan menduga kecelakaan dipicu kegagalan fungsi pengereman. Meski begitu, penyelidikan masih terus berjalan untuk memastikan penyebab pastinya sebelum hasil akhir diumumkan.
Insiden ini kembali menempatkan keselamatan transportasi wisata Bromo dalam sorotan. Jip masih menjadi moda utama untuk menjangkau sejumlah titik wisata di kawasan tersebut, sehingga pengawasan, standar operasional, dan penanganan darurat kini ikut menjadi perhatian utama.
Source: www.viva.co.id