Dorongan terhadap energi surya di Indonesia kini tidak lagi berhenti pada wacana. Di tengah kebutuhan perluasan energi bersih, kapasitas PLTS atap nasional telah mencapai 1,3 GW dan menjadi penanda bahwa teknologi ini makin masuk ke arus utama pemanfaatan listrik di berbagai sektor.
Pencapaian tersebut juga menunjukkan bahwa PLTS atap semakin relevan untuk rumah tangga, bangunan usaha, UMKM, hingga industri besar. Dengan karakter pemasangan yang fleksibel dan tidak membutuhkan lahan luas, teknologi ini dinilai semakin mudah diterapkan dibandingkan pembangkit konvensional.
Lonjakan dalam lima tahun terakhir
Pertumbuhan PLTS atap berjalan sangat cepat dalam lima tahun terakhir. Kapasitas terpasang yang semula 146 MW kini sudah naik menjadi 1,3 GW pada April 2026, atau hampir 10 kali lipat.
Kenaikan tajam itu memperlihatkan bahwa adopsi energi surya tidak lagi terbatas pada segmen tertentu. Pendorong utamanya adalah kemudahan penerapan, karena PLTS atap dapat dipasang di berbagai jenis bangunan tanpa memerlukan ruang yang besar.
Potensi pengembangan masih besar
Meski kapasitas terpasang sudah menembus 1,3 GW, ruang pengembangan energi surya nasional masih sangat luas. Riset IESR 2025 mencatat potensi 165,9 GW untuk PLTS darat dan 38,13 GW untuk PLTS terapung.
Data tersebut menegaskan bahwa pemanfaatan energi matahari di Indonesia masih berada pada tahap awal dibandingkan potensi yang tersedia. Karena itu, PLTS dipandang bukan sekadar proyek kelistrikan, tetapi juga bagian dari strategi ketahanan energi nasional.
AESI menilai model energi terdesentralisasi seperti PLTS atap memberi manfaat lebih luas daripada sekadar pasokan listrik. Pengembangannya dapat membantu menekan emisi karbon, memperkuat rantai pasok manufaktur lokal, dan membuka lapangan kerja hijau.
Target 80 GW hingga 100 GW
Pemerintah melalui Kementerian ESDM menargetkan kapasitas pengembangan PLTS nasional berada di kisaran 80 GW hingga 100 GW. Fokusnya tidak hanya pada besaran kapasitas, tetapi juga pada pembentukan permintaan di dalam negeri agar pasar tumbuh lebih sehat.
Direktur Jenderal EBTKE, Eniya Listiani Dewi, menyebut penguatan pasar akan mendorong industri energi surya berkembang lebih sehat. Ia juga menyampaikan bahwa target tersebut berpeluang menciptakan sedikitnya 760.000 pekerjaan baru di sektor energi bersih.
Pemerintah juga ingin memperluas pemanfaatan teknologi fotovoltaik ke lebih banyak lokasi. Selain atap bangunan, instalasi diharapkan dapat menjangkau ground mounted di koperasi desa, puskesmas, dan sarana pendukung kendaraan listrik.
APL, PLN, dan ekosistem yang makin kuat
Dari sisi industri, Ketua Umum AESI, Mada Ayu Habsari, menilai capaian ini sudah memberi sinyal kuat bahwa energi surya masuk kategori kebutuhan strategis nasional. Ia menegaskan bahwa energi surya kini bukan lagi sebatas potensi.
AESI sendiri terus memperkuat ekosistemnya dengan menaungi sekitar 135 anggota dari berbagai sektor. Anggotanya meliputi manufaktur, pengembang proyek, penyedia teknologi, institusi keuangan, dan lembaga sertifikasi energi.
PLN juga mengambil posisi penting dalam memperluas akses PLTS atap. Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, menyebut capaian 1,3 GW sebagai langkah penting untuk memperluas pemanfaatan energi surya lintas sektor.
Untuk mempermudah layanan, PLN telah mengintegrasikan fitur perizinan PLTS atap ke dalam aplikasi PLN Mobile. Langkah ini ditujukan agar proses pengajuan dan pemantauan permohonan menjadi lebih mudah, transparan, dan cepat bagi pelanggan.
Adi menjelaskan bahwa inisiatif tersebut merupakan bagian dari komitmen PLN menjalankan amanat Permen ESDM Nomor 2 Tahun 2024. Kebijakan itu juga diarahkan untuk mempercepat pemanfaatan PLTS Atap On-Grid di Indonesia.
Forum dan arah percepatan ke depan
Perkembangan PLTS atap juga didorong oleh forum lintas pemangku kepentingan yang membahas aspek kebijakan, investasi, dan praktik terbaik. National Solar Transition Forum 2026 menjadi salah satu ajang yang mempertemukan berbagai perspektif untuk memperkuat transisi energi surya.
Forum yang digelar pada 21-22 April itu turut membahas pengalaman dari Thailand, India, dan Pakistan sebagai bahan pembanding. Pertukaran gagasan tersebut dipandang penting untuk mempercepat langkah Indonesia menuju skala pemanfaatan energi surya yang lebih besar.
Dengan kapasitas yang sudah tembus 1,3 GW, arah pengembangan PLTS di Indonesia terlihat semakin jelas. Dorongan pemerintah, dukungan PLN, dan penguatan ekosistem industri kini menjadi faktor utama yang menentukan laju menuju target 80 GW hingga 100 GW.