Menjelang Piala Dunia 2026, peta persaingan juara ternyata menyempit lebih cepat dari yang terlihat. Setelah sejumlah penyaring sejarah diterapkan, hanya Argentina, Prancis, Jerman, Belanda, dan Spanyol yang masih bertahan sebagai kandidat paling masuk akal.
Penyempitan itu menarik karena turnamen ini masih memiliki jejak sejarah yang terbatas. Piala Dunia pria baru 22 kali digelar, sebab dua edisi hilang akibat Perang Dunia II, sehingga pola lama masih sangat kuat untuk membaca peluang.
Salah satu penyaring paling keras datang dari sejarah juara itu sendiri. Sepanjang penyelenggaraan Piala Dunia, hanya delapan negara yang pernah mengangkat trofi, dan Italia menjadi satu-satunya juara lama yang tidak lolos ke 2026.
Urutan kandidadt juga makin kecil saat catatan final dan semifinal ikut diperiksa. Dari 13 negara yang pernah tampil di final, 10 berasal dari Eropa dan tiga dari Amerika Selatan, sementara di empat besar pengecualiannya sangat langka.
Hanya tiga kali tim dari luar Eropa dan Amerika Selatan berhasil mencapai semifinal. Amerika Serikat melakukannya pada 1930, Korea Selatan pada 2002 saat menjadi tuan rumah bersama, dan Maroko pada turnamen terakhir.
Eropa dan Amerika Selatan masih mendominasi
Pola itu menegaskan betapa beratnya jalan tim di luar dua benua tersebut. Tidak ada tim dari luar Eropa dan Amerika Selatan yang pernah menjuarai Piala Dunia, dan aturan sejarah ini langsung menyingkirkan 26 tim dari persaingan.
Di antara yang tersingkir ada tiga tuan rumah, yaitu Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Maroko juga masuk kelompok yang terpangkas oleh pola ini, meski mereka sedang menunjukkan perkembangan yang sangat kuat di berbagai level usia.
Maroko memang punya riwayat menonjol dalam beberapa ajang. Mereka menjuarai Piala Dunia U-20 2025, meraih perunggu di Olimpiade 2024, dan mencapai perempat final dalam dua Piala Dunia U-17 terakhir setelah laju bersejarah pada 2022.
Elo Rating ikut mempersempit jalan
Selain catatan turnamen, Elo Rating juga memberi gambaran yang sangat ketat. Tidak ada juara Piala Dunia yang memulai turnamen dari luar 17 besar Elo, dan angka itu menunjukkan bahwa kejutan besar jarang bertahan sampai akhir.
Uruguay pada 1950 menjadi juara dengan Elo terendah dalam sejarah turnamen, yaitu peringkat 17. Namun posisi itu tetap dianggap pengecualian besar, bukan pola yang mudah diulang.
Jika ambang dinaikkan menjadi 15 besar, Uruguay tetap menjadi satu-satunya juara di luar kelompok tersebut. Bahkan, 15 dari 22 juara justru masuk empat besar Elo saat turnamen dimulai.
Dengan ukuran itu, beberapa tim besar langsung tereliminasi dari perhitungan. Meksiko, Maroko, Kanada, dan Amerika Serikat berada di luar batas tersebut, sehingga gagal lolos bahkan sebelum penyaringan sejarah lain bekerja.
Catatan pelatih dan Ballon d’Or memperkuat daftar akhir
Untuk tim Eropa, ada pola tambahan yang juga masih bertahan. Tidak ada tim Eropa yang menjuarai Piala Dunia tanpa memiliki beberapa pemenang Ballon d’Or, sehingga Belgia, Kroasia, Norwegia, Swiss, dan Turki tidak masuk ke daftar terakhir.
Pola ini memang tidak sempurna jika dilihat dari seluruh sejarah turnamen. Ballon d’Or baru ada sejak 1956, dan awalnya penghargaan itu hanya diberikan kepada pemain Eropa sampai 1995.
Ada pula pola lain yang menyingkirkan banyak kandidat. Tidak ada tim yang pernah menjuarai Piala Dunia dengan pelatih kelahiran luar negeri, sehingga Brasil, Kolombia, Ekuador, Inggris, Portugal, dan Uruguay ikut tersisih.
Mengapa lima negara ini tetap bertahan
Setelah semua filter itu diterapkan, hanya lima nama yang tersisa. Argentina datang sebagai juara bertahan, sedangkan Prancis dan Spanyol termasuk dua tim yang paling kuat dalam bursa taruhan.
Jerman juga tetap menonjol karena empat gelar mereka tersebar dalam rentang yang sangat panjang, masing-masing setidaknya terpaut 16 tahun. Itu menunjukkan kemampuan mereka untuk tetap relevan lintas generasi.
Belanda menjadi satu-satunya tim di kelompok ini yang belum pernah juara. Meski begitu, mereka punya sejarah besar dengan tiga kali kalah di final, yakni pada 1974, 1978, dan 2010, dan masih berada di delapan favorit teratas menuju turnamen.
Dengan kombinasi status juara bertahan, kekuatan tradisi, serta posisi kuat di bursa taruhan, lima negara itu menjadi kelompok yang paling tahan terhadap penyaringan sejarah. Jika pola lama kembali berjalan, salah satu dari mereka paling masuk akal untuk mengangkat trofi pada 2026.
Source: www.nytimes.com




