Sorotan terhadap Nanik Sudaryati Deyang tidak berhenti pada jabatan barunya di Badan Gizi Nasional. Laporan harta kekayaannya justru ikut menarik perhatian karena mencatat total aset Rp6.303.290.605 dan tidak ada utang sama sekali.
Angka itu muncul pada saat Nanik resmi memimpin lembaga yang sedang berada dalam pengawasan ketat. Di tengah posisi BGN yang berkaitan langsung dengan program Makan Bergizi Gratis, transparansi soal kekayaan pejabat baru menjadi bagian penting dari perhatian publik.
Aset terbesar ada pada tanah dan bangunan
Komposisi harta Nanik menunjukkan bahwa sebagian besar kekayaannya bertumpu pada properti. Nilainya mencapai lebih dari Rp5,4 miliar dan menjadi porsi paling dominan dalam laporan kekayaannya.
Sebaran aset tanah dan bangunan itu berada di wilayah Jabodetabek, terutama Depok dan Bekasi. Salah satu yang paling besar adalah tanah dan bangunan seluas 237 meter persegi tanah dan 320 meter persegi bangunan di Depok dengan nilai Rp1,5 miliar.
Selain aset utama tersebut, Nanik juga melaporkan beberapa properti lain di Depok. Nilainya beragam, dari Rp163 juta hingga Rp1,2 miliar.
Kendaraan dan tanpa utang
Di luar properti, Nanik juga mencantumkan kepemilikan kendaraan bermotor. Total nilai kendaraan yang dilaporkan mencapai Rp705 juta.
Rincian jenis kendaraan tidak seluruhnya dijelaskan secara terbuka dalam informasi yang tersedia. Meski begitu, pos ini tetap menjadi bagian penting dari total harta yang dilaporkannya.
Hal lain yang menonjol adalah ketiadaan utang. Dalam pelaporan harta penyelenggara negara, data tanpa kewajiban pinjaman kerap menjadi perhatian karena memberi gambaran yang lebih utuh tentang posisi finansial pejabat.
Mengapa data itu disorot
Perhatian publik terhadap harta Nanik menguat karena ia kini memimpin BGN pada masa yang sensitif. Lembaga tersebut berada di garis depan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis dan sedang menghadapi pengawasan yang ketat.
Sorotan terhadap BGN juga semakin besar setelah pergantian pimpinan terjadi dalam situasi yang tidak ringan. Dadan Hindayana disebut telah dijemput Kejaksaan Agung, sementara kantor BGN juga digeledah oleh Kejaksaan Agung.
Dalam kondisi seperti itu, laporan harta pejabat baru sering dibaca sebagai salah satu pintu awal untuk menilai keterbukaan dan akuntabilitas. LHKPN yang diserahkan Nanik pada 17 Januari 2025 pun menjadi bagian dari pemeriksaan publik terhadap profil finansialnya.
Jejak sebelum naik menjadi kepala lembaga
Sebelum menduduki posisi tertinggi di BGN, Nanik Sudaryati Deyang sudah lebih dulu berada di lingkungan lembaga tersebut. Ia menjabat Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi.
Nama Nanik juga bukan wajah baru dalam ruang komunikasi publik. Ia lahir di Madiun pada 3 Januari 1968 dan sebelumnya dikenal sebagai jurnalis di Tabloid Bangkit yang berada dalam Kompas Gramedia Group.
Pengalaman itu disebut membentuk kemampuan komunikasinya, yang kemudian berguna saat ia bertugas di BGN. Sebelum masuk ke lembaga itu, ia juga sempat menjadi Komisaris Independen PT Pertamina.
Selama di BGN, Nanik beberapa kali tampil sebagai juru bicara lembaga. Dalam salah satu momen yang menyita perhatian, ia sempat menangis saat meminta maaf atas insiden keracunan yang menimpa siswa.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis. Kini, setelah naik menjadi kepala BGN, Nanik menghadapi tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga kelancaran program sekaligus memulihkan kepercayaan publik terhadap tata kelola lembaga yang dipimpinnya.
Source: www.suara.com




