Harga emas Antam kembali bergerak, meski kenaikannya masih sangat terbatas. Untuk ukuran 1 gram, emas Antam tercatat di level Rp 2.814.000 atau naik Rp 5.000 dari perdagangan sebelumnya.
Pergerakan tipis ini juga terlihat pada harga buyback yang berada di Rp 2.625.000 per gram. Dengan kondisi seperti ini, pasar domestik masih menunjukkan sikap hati-hati karena arah harga emas belum mendapatkan dorongan yang kuat dari sentimen global.
Daftar harga emas Antam setelah pajak
Harga yang tercantum di laman resmi Logam Mulia belum memasukkan pajak penghasilan pembeli emas. Sesuai PMK Nomor 34/PMK.19/2017, pembeli dengan NPWP dikenakan PPh 0,45 persen, sedangkan pembeli tanpa NPWP dikenakan 0,9 persen.
Berikut harga emas Antam setelah pajak yang tercantum di laman resmi Logam Mulia:
0,5 gram Rp1.460.643
1 gram Rp2.821.035
2 gram Rp5.581.920
3 gram Rp8.347.818
5 gram Rp13.879.613
10 gram Rp27.704.088
25 gram Rp69.134.405
50 gram Rp138.189.613
100 gram Rp276.301.030
250 gram Rp690.486.913
500 gram Rp1.380.763.300
1000 gram Rp2.761.486.500
Tekanan dari pasar global masih terasa
Di pasar dunia, emas justru bergerak melemah dan mendekati 4.685 dolar AS pada awal sesi Asia. Situasi ini muncul karena pelaku pasar memilih menunggu sinyal yang lebih jelas sebelum mengambil posisi baru.
Mengutip FXStreet, perhatian utama pasar tertuju pada arah kebijakan Federal Reserve atau The Fed. Fokus itu menguat karena investor menanti pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell setelah rapat Komite Pasar Terbuka Federal.
Nada kebijakan dari bank sentral Amerika Serikat menjadi penting karena dapat menentukan arah dolar AS dan emas. Jika pernyataan yang muncul bernada hawkish, dolar AS berpeluang menguat dan emas bisa tertekan karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Pasar menimbang suku bunga dan daya tarik emas
Ekspektasi pasar menunjukkan suku bunga acuan kemungkinan tetap berada di kisaran 3,5–3,75 persen. Level tersebut disebut tidak berubah sejak Desember, sehingga perhatian investor bergeser ke isi pernyataan lanjutan dari The Fed.
Dalam situasi ketidakpastian, emas tetap dipandang sebagai aset safe haven. Namun, daya tariknya bisa melemah ketika suku bunga bertahan tinggi karena investor cenderung mencari aset lain yang menawarkan imbal hasil.
Faktor geopolitik ikut menambah ketidakpastian
Selain kebijakan moneter, sentimen geopolitik juga ikut membentuk arah pasar emas. Ketegangan di Timur Tengah, termasuk antara Amerika Serikat dan Iran serta pembahasan mengenai Selat Hormuz, menambah kekhawatiran karena berkaitan dengan harga minyak dunia dan ekspektasi inflasi.
Kombinasi antara kebijakan suku bunga yang masih tinggi dan risiko geopolitik membuat harga emas berada dalam kondisi tarik-menarik. Di satu sisi, ketidakpastian global cenderung mendukung emas, tetapi di sisi lain, pasar masih menunggu kepastian sikap The Fed sebelum memberi ruang kenaikan yang lebih kuat.
Source: www.suara.com