Efisiensi dan Produk Rendah Karbon Jadi Senjata Semen Nasional Menembus Pasar Global

Pasar semen nasional sedang berada dalam tekanan yang tidak ringan. Utilisasi produksi yang hanya sekitar 51% menunjukkan bahwa kapasitas yang tersedia masih jauh di atas kebutuhan pasar, sementara permintaan pada 2025 turun sekitar 2%–2,5% akibat melambatnya proyek infrastruktur dan belum pulihnya dinamika ekonomi.

Di tengah kondisi seperti itu, keunggulan tidak lagi ditentukan oleh besar kecilnya fasilitas produksi semata. Semen Merah Putih, melalui PT Cemindo Gemilang Tbk, memilih bertumpu pada efisiensi operasional dan keberlanjutan untuk menjaga kinerja sekaligus membuka ruang yang lebih luas di pasar internasional.

Efisiensi jadi pembeda di saat pasar melemah

Tekanan akibat overcapacity membuat pelaku industri perlu bergerak lebih cermat dalam mengelola produksi, distribusi, dan biaya. Dalam situasi tersebut, Semen Merah Putih justru mencatat pertumbuhan 4,2% di wilayah operasional utamanya pada 2025.

Pencapaian itu memperlihatkan bahwa penataan rantai pasok dan pengelolaan operasi yang lebih efisien dapat menjaga daya saing, bahkan ketika pasar secara umum masih tertinggal. Surindro Kalbu Adi, Commercial & Logistic Director PT Cemindo Gemilang Tbk, menegaskan bahwa ukuran produksi bukan satu-satunya penentu kemenangan di industri ini.

Ia menyebut, “Kunci daya saing bukan hanya pada skala, tetapi pada seberapa efisien sistem yang kita bangun.” Pandangan tersebut menjadi dasar strategi perusahaan dalam menghadapi pasar yang masih penuh tekanan.

Sustainability menjadi bagian dari mesin bisnis

Pendekatan keberlanjutan di perusahaan ini tidak ditempatkan sebagai pelengkap, melainkan sebagai bagian inti dari model bisnis. Semen Merah Putih merancang sistem terintegrasi yang menghubungkan produksi, logistik, dan pengelolaan emisi dalam satu alur kerja.

Dari model itu, intensitas karbon perusahaan turun sekitar 21% sejak 2016. Penurunan tersebut sejalan dengan efisiensi energi dan optimalisasi proses produksi yang terus diperkuat di berbagai lini operasi.

Salah satu teknologi yang digunakan adalah Waste Heat Recovery System atau WHRS. Sistem ini menyumbang sekitar 24% kebutuhan energi dalam produksi klinker dan membantu menekan emisi hingga sekitar 100.000 ton CO2.

Efisiensi juga terlihat dari konsumsi listrik yang turun hingga sekitar 3 KWh per ton klinker. Sementara itu, penggunaan kendaraan listrik dalam operasional logistik ikut mengurangi emisi sekitar 8.500 ton CO2 per tahun.

Portofolio produk ikut bergeser ke arah rendah karbon

Perubahan strategi tidak berhenti di area pabrik dan distribusi. Di sisi produk, Semen Merah Putih juga memperbesar porsi material yang lebih efisien dan lebih ramah lingkungan.

Saat ini, sekitar 81% produk perusahaan merupakan non-OPC atau Ordinary Portland Cement. Angka itu berada di atas rata-rata industri yang berada di kisaran 71%, sehingga menunjukkan arah portofolio yang cukup berbeda dari kebanyakan pelaku pasar.

Minat terhadap produk yang lebih rendah karbon juga terlihat meningkat. Hydraulic cement, misalnya, mencatat pertumbuhan hingga 636,5% pada 2025, yang menandakan adanya pergeseran preferensi menuju material konstruksi yang lebih efisien.

Seluruh produk Semen Merah Putih telah mengantongi Green Label dari Green Product Council Indonesia, dan sebagian besar berada di level platinum. Perusahaan juga memperoleh pengakuan dari World Cement Association atas komitmen aksi iklim serta meraih Sustainable Construction Material Award dalam ARCH:ID 2025.

Pasar global membuka ruang baru

Di tengah permintaan domestik yang masih rapuh, ekspansi keluar negeri menjadi salah satu jalur yang semakin penting. Semen Merah Putih memiliki kemampuan produksi sekitar 11,4 juta ton semen dan 7 juta ton klinker per tahun di Indonesia.

Perseroan juga memiliki tambahan kapasitas di Vietnam sebesar 5 juta ton semen dan 3,2 juta ton klinker. Kombinasi kapasitas tersebut memberi ruang bagi perusahaan untuk melayani pasar dalam negeri sekaligus memperluas ekspor.

Melalui dukungan unit bisnis trading Aastar, jaringan ekspor perusahaan menjangkau Asia Pasifik, Oseania, Afrika, hingga Amerika. Dari sisi perdagangan, faktor yang dinilai pasar global kini tidak lagi sebatas harga murah.

Samar Gurung, Head of Trading Aastar Trading, menyebut permintaan dunia semakin mengarah pada produk dengan profil keberlanjutan yang jelas. Ia juga menekankan bahwa sistem rantai pasok yang terintegrasi membuat perusahaan lebih fleksibel dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional.

Fleksibilitas itu menjadi penting karena distribusi semen dan klinker membutuhkan pasokan yang andal, efisiensi logistik, serta kemampuan menyesuaikan bentuk pengiriman, baik curah maupun kemasan. Dalam kondisi pasar yang masih tertekan, pendekatan tersebut membuat keberlanjutan berubah dari sekadar isu lingkungan menjadi alat untuk menjaga stabilitas usaha dan memperluas jangkauan pasar.

Source: mediaindonesia.com
Exit mobile version