Usulan hard fork baru dari ekosistem Bitcoin kembali memicu perdebatan soal siapa yang berhak atas koin-koin awal yang selama ini dikaitkan dengan Satoshi Nakamoto. Ide itu datang dari Paul Sztorc, co-founder sekaligus CEO LayerTwo Labs, yang mendorong pembentukan jaringan terpisah bernama eCash untuk mengalihkan sebagian koin awal ke pemilik baru melalui buku besar baru.
Dalam proposal tersebut, Sztorc menargetkan sekitar 500.000 Bitcoin dari total kurang lebih 1,1 juta Bitcoin yang oleh sebagian peneliti diyakini terkait dengan pola penambangan “Patoshi”. Ia menyebut langkah ini sebagai keputusan yang disengaja dan, lewat unggahan di X, menggambarkannya sebagai “controversial”, namun tetap ia nilai “necessary” dan “ideal”.
Bagaimana skema eCash dirancang
Berbeda dari perubahan langsung pada jaringan Bitcoin asli, rencana Sztorc justru membangun blockchain baru yang menyalin riwayat Bitcoin terlebih dahulu. Setelah itu, buku besar pada jaringan baru tersebut diubah agar sebagian koin yang diasosiasikan dengan Satoshi dialokasikan kepada pemilik baru di eCash.
Skema ini juga menyertakan pemberian koin eCash kepada pemegang BTC saat hard fork terjadi. Artinya, siapa pun yang memegang Bitcoin pada momen itu akan menerima jumlah eCash yang setara, sehingga kepemilikan aset digital tidak hilang dalam proses percabangan jaringan.
Sztorc memberi contoh sederhana untuk menjelaskan rencananya. Pemilik 4,19 BTC akan mendapatkan 4,19 eCash, lalu bebas memilih untuk menjual, menyimpan, atau mengabaikannya.
Alasan di balik usulan tersebut
Di balik gagasan itu, Sztorc menempatkan pendanaan sebagai tujuan penting. Ia menilai alokasi ulang koin bisa membantu investor awal menyediakan modal sebelum peluncuran proyek yang direncanakan pada Agustus.
Ia juga berpendapat jaringan perlu mendapat dukungan yang cukup agar tidak berubah menjadi proyek “zombie” yang kekurangan modal dan kontributor. Melalui situs eCash, Sztorc menulis bahwa proyek ini menawarkan manfaat besar, mulai dari skalabilitas global, privasi, kompetisi, peningkatan cepat, hingga adopsi.
Dalam penjelasannya, ia menekankan bahwa risikonya relatif kecil, sementara pemegang Bitcoin tetap memperoleh “free money”. Dengan konstruk seperti itu, eCash tidak hanya diposisikan sebagai percabangan teknis, tetapi juga sebagai alat distribusi aset yang diharapkan bisa menarik dukungan awal.
Penolakan dari kubu developer Bitcoin
Meski begitu, usulan ini tidak diterima sebagai pemindahan koin yang sah oleh semua pihak. Jameson Lopp, developer Bitcoin sekaligus Chief Security Officer Casa, menolak anggapan bahwa koin Satoshi bisa benar-benar dipindahkan di jaringan Bitcoin.
Kepada Decrypt, Lopp menyatakan bahwa yang terjadi hanyalah kloning atas unspent transaction outputs yang diasumsikan milik Satoshi ke jaringan yang berbeda. Ia juga menyebut langkah tersebut sebagai upaya mencari perhatian dan menggambarkannya sebagai “clever outrage marketing”.
Lopp menambahkan bahwa perubahan semacam itu hanya mungkin terjadi bila komunitas developer dan ekosistem Bitcoin yang lebih luas sepakat mengadopsi hard fork tersebut. Menurutnya, jika seluruh ekosistem memilih berpindah ke hard fork yang mengalihkan koin Satoshi ke kunci yang dikontrol pihak lain, maka secara teori hal itu bisa dilakukan.
Perdebatan yang sudah lama berulang di dunia kripto
Usulan eCash muncul di tengah sejarah panjang perpecahan dalam ekosistem kripto. Bitcoin Cash lahir pada 2017 setelah perdebatan soal skalabilitas, sementara Ethereum terpecah pada 2016 usai serangan DAO, ketika sebagian komunitas membalik transaksi dana curian dan Ethereum Classic mempertahankan rantai lama.
Dua contoh itu menunjukkan bahwa hard fork memang dapat mengubah arah sebuah jaringan, tetapi tidak otomatis membuat rantai baru melampaui induknya. Bitcoin Cash dan Ethereum Classic tetap jauh lebih kecil nilainya serta kurang populer dibanding jaringan awal yang mereka tinggalkan.
Dalam konteks ini, eCash masuk ke dalam perdebatan yang lebih luas soal legitimasi perubahan ledger lama dan batas kewenangan komunitas atas sejarah blockchain. Proposal tersebut menawarkan distribusi ulang aset untuk mendorong pendanaan jaringan baru, tetapi sekaligus membuka kembali pertanyaan lama: apakah sejarah Bitcoin boleh disentuh melalui hard fork.





