Dua nama Indonesia kembali masuk daftar penghormatan tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa bagi personel penjaga perdamaian yang gugur saat bertugas. Tahun ini, Medali Dag Hammarskjold akan dianugerahkan secara anumerta kepada Kopral Dua Eko Prambudi Santoso dan Brigadir Polisi Kepala Sri Widodo.
Penghargaan itu akan diberikan bertepatan dengan peringatan Hari Internasional Penjaga Perdamaian pada 5 Juni. Bagi PBB, momen tersebut menjadi cara untuk mengakui dedikasi para personel yang bekerja di wilayah konflik dengan risiko yang tidak kecil.
Keduanya meninggal saat menjalankan tugas dalam misi perdamaian PBB di dua wilayah yang berbeda. Eko Prambudi Santoso bertugas bersama Misi Stabilisasi Organisasi PBB di Republik Demokratik Kongo atau MONUSCO, sementara Sri Widodo menjalankan tugas di Misi Stabilisasi Terpadu Multidimensi PBB di Republik Afrika Tengah atau MINUSCA.
Dalam tradisi PBB, Medali Dag Hammarskjold diberikan kepada personel yang gugur ketika menjalankan tugas di operasi penjaga perdamaian. Karena itu, penghargaan ini tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga menjadi penanda pengorbanan mereka yang ditempatkan di garis depan daerah rawan konflik.
UNIC Indonesia menyebut total penerima medali anumerta tahun ini mencapai 68 orang. Selain dua personel Indonesia tersebut, PBB juga akan memberikan penghargaan yang sama kepada 66 personel militer, polisi, dan sipil lainnya.
Pemberian penghormatan ini sekaligus menegaskan bahwa misi perdamaian tetap menjadi bagian penting dari upaya menjaga stabilitas dunia. Di sisi lain, daftar penerima tahun ini kembali mengingatkan bahwa tugas penjaga perdamaian kerap dibayar mahal dengan keselamatan nyawa.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres akan menyerahkan penghargaan tersebut. Dalam pernyataannya untuk peringatan Hari Internasional Penjaga Perdamaian, ia menilai pasukan perdamaian PBB masih menjadi cara paling efektif untuk membantu memulihkan stabilitas di tengah meningkatnya ketegangan global.
Guterres juga menekankan bahwa misi perdamaian memerlukan dukungan politik yang konsisten dari negara-negara anggota serta pendanaan yang dapat diandalkan. Ia menambahkan bahwa serangan terhadap personel perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.
“Tidak seorang pun seharusnya meninggal saat mengabdi demi perdamaian,” kata Guterres. Pernyataan itu mempertegas dorongan agar perlindungan terhadap personel misi perdamaian diperkuat.
Dari sisi kontribusi, Indonesia masih termasuk penyumbang besar dalam operasi penjaga perdamaian PBB. UNIC Indonesia mencatat lebih dari 50.000 personel perdamaian dari 118 negara kini bertugas dalam 11 misi PBB, dan Indonesia menjadi kontributor terbesar keenam dengan hampir 2.000 personel militer dan polisi.
Jumlah itu juga mencakup 156 perempuan yang ikut ambil bagian dalam operasi perdamaian PBB. Di tengah penghormatan dunia kepada para personel yang gugur, kehadiran Indonesia kembali mendapat sorotan sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan di wilayah konflik.
Source: www.medcom.id