Dorongan Ramadan Dan Belanja Negara Bikin Ekonomi Kuartal I 2026 Melaju 5,61 Persen

Laju ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 memberi sinyal awal tahun yang sangat kuat. Pertumbuhan mencapai 5,61 persen secara tahunan dan menjadi yang tertinggi untuk kuartal pertama dalam 13 tahun terakhir.

Badan Pusat Statistik mencatat Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku berada di level Rp 6.187,2 triliun. Capaian ini juga lebih tinggi dibanding kuartal IV 2025 yang tumbuh 5,39 persen dan kuartal I 2025 yang berada di 4,87 persen.

Pendorong utama kenaikan itu datang dari belanja negara dan momentum Ramadan. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menilai percepatan belanja pemerintah memberi dorongan penting bagi aktivitas ekonomi pada Januari hingga Maret 2026.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen dan investasi naik 5,96 persen. Konsumsi pemerintah bahkan melonjak 21,81 persen, sehingga menjadi salah satu penopang terbesar pertumbuhan pada periode tersebut.

Penguatan itu juga terlihat dari investasi bangunan yang ikut terdorong. Kebutuhan infrastruktur logistik untuk program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa mendorong pembangunan dapur umum, gudang distribusi, fasilitas pendukung, peralatan, dan jaringan logistik.

Dampaknya merambat ke sektor konstruksi di daerah. Aktivitas fisik di lapangan ikut bergerak karena belanja fiskal tidak hanya mengangkat konsumsi, tetapi juga mendorong investasi dan sektor pendukung distribusi barang serta layanan publik.

Meski angka tahunan terlihat sangat impresif, dinamika antarkuartal memberi catatan yang berbeda. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pertumbuhan itu juga dipengaruhi basis pembanding awal 2025 yang relatif rendah.

Ia mengingatkan bahwa secara kuartalan ekonomi justru terkontraksi 0,77 persen dibanding realisasi belanja akhir tahun 2025. Menurutnya, kuartal IV biasanya memang menjadi periode tinggi karena belanja akhir tahun dan penyelesaian proyek.

Di sisi produksi, belum semua indikator bergerak searah. Josua menyoroti sinyal pelemahan dari manufaktur pada April, ketika PMI manufaktur turun ke 49,1.

Tekanan biaya bahan baku juga naik ke level tertinggi dalam empat tahun akibat perang Timur Tengah. Kondisi itu menunjukkan penguatan ekonomi kuartal I belum sepenuhnya merata di seluruh sektor.

Pasar kerja ikut menunjukkan perbaikan, meski kualitas penyerapan masih menjadi perhatian. Jumlah penduduk bekerja tercatat 147,67 juta orang, sementara proporsi pekerja formal turun tipis menjadi 40,58 persen.

Data tersebut menegaskan sektor informal masih mendominasi pasar kerja. Josua menilai tantangan ke depan bukan hanya membuka lapangan kerja, tetapi juga menciptakan pekerjaan yang lebih produktif, stabil, dan memberi pendapatan layak.

Secara historis, capaian kuartal I 2026 juga mendekati rekor lama. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2013 pernah mencapai 6,03 persen, sehingga awal tahun ini kembali masuk jajaran periode terkuat dalam catatan pertumbuhan nasional.

Exit mobile version