Tekanan di pasar keuangan Indonesia belum mereda saat rupiah terus bergerak di bawah bayang-bayang dolar AS yang menguat. Di tengah arus global yang makin berhati-hati, mata uang domestik kembali tertekan setelah sempat menyentuh level terendah sepanjang masa di 17.669 per dolar AS pada perdagangan intraday Senin (18/5).
Pergerakan itu menegaskan bahwa masalah rupiah tidak berdiri sendiri. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, harga minyak yang tetap tinggi, dan inflasi Amerika Serikat yang lebih panas dari perkiraan kini saling mendorong tekanan ke aset berisiko di negara berkembang.
Dolar AS makin dominan
Salah satu pendorong utama pelemahan rupiah datang dari berubahnya ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed. Setelah data inflasi April 2026 di Amerika Serikat dirilis lebih tinggi dari perkiraan, pasar menilai peluang kenaikan suku bunga menjadi jauh lebih besar.
Biro statistik tenaga kerja AS mencatat inflasi IHK April 2026 sebesar 3,8% secara tahunan, lebih tinggi dari konsensus 3,7% dan di atas inflasi Maret 2026 yang sebesar 3,3% YoY. Itu juga menjadi level tertinggi sejak Mei 2023.
Respons pasar terlihat cepat. CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas The Fed menaikkan suku bunga setidaknya 25 bps ke 3,75–4% hingga akhir 2026 naik ke sekitar 51%, padahal sepekan sebelumnya masih 21%.
Minyak tinggi ikut menambah beban
Di saat yang sama, pasar energi belum memberi ruang lega. Harga minyak Brent naik sekitar 0,6% ke US$110 per barrel pada Senin sore setelah insiden drone di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.
Kenaikan itu membuat kekhawatiran soal inflasi global tetap hidup. Ketika harga energi bertahan tinggi, ekspektasi pasar terhadap inflasi ikut menanjak dan ini biasanya memperkuat dolar AS, bukan aset emerging markets.
Indeks dolar AS atau DXY pun menguat 1,19% secara mingguan ke level 99,1 pada Senin sore. Penguatan tersebut menjadi sinyal tambahan bahwa tekanan ke mata uang regional, termasuk rupiah, belum mudah mereda.
Pasar domestik ikut terseret
Dampak pelemahan rupiah langsung terlihat di pasar keuangan domestik. Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik 11 bps ke 6,81% pada Senin, sementara IHSG turun 1,85% ke 6.599,2.
Arus dana asing juga mencatat outflow sebesar Rp464,0 miliar. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung menahan diri karena arah kebijakan bank sentral AS masih menjadi penggerak utama sentimen global.
Komoditas sempat bergerak beragam, tetapi belum cukup kuat untuk menahan tekanan. Emas turun 0,29% ke 4.549, sedangkan coal naik 2,51% ke 135,0 dan CPO menguat 2,49% ke 4.530.
BI melihat volatilitas sebagai fokus utama
Bank Indonesia tidak hanya menatap level rupiah, tetapi juga volatilitasnya. Perry Warjiyo menjelaskan bahwa BI memakai rata-rata pergerakan 20 hari sebagai acuan dalam membaca arah nilai tukar.
Dalam rapat bersama DPR pada Senin (18/5), Perry menyampaikan optimisme bahwa rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tahun ini bisa kembali menguat ke 16.500. Ia juga menyebut rentang rata-rata sekitar 16.200–16.800 seperti yang diasumsikan dalam APBN 2026.
Perry menilai tekanan rupiah memang kerap kuat pada kuartal kedua secara historis. Pada periode itu, kebutuhan dolar AS biasanya meningkat, terutama dari musim pembagian dividen, lalu rupiah cenderung menguat pada kuartal berikutnya.
Meski begitu, pelemahan rupiah -5,8% secara year to date masih dinilai terkendali. Di sisi lain, konsensus Bloomberg menunjukkan median estimasi BI Rate hingga akhir 2026 berada di level 5%, yang mengisyaratkan ekspektasi kenaikan suku bunga 25 bps.
Selama pasar masih memprice-in peluang kenaikan suku bunga The Fed dengan agresif, rupiah dan aset berisiko lain di negara berkembang tetap berada dalam posisi rentan. Kombinasi dolar AS yang kuat, minyak yang mahal, dan sentimen global yang sensitif membuat pergerakan pasar domestik masih mudah bergejolak.
Source: snips.stockbit.com




