Program Sekolah Maung di Jawa Barat memunculkan banyak tafsir di publik, terutama soal nasib nama sekolah negeri yang ikut terlibat di dalamnya. Dinas Pendidikan Jawa Barat kemudian menegaskan bahwa yang berubah bukan identitas sekolah, melainkan cara sekolah itu dikelola dan ditingkatkan mutunya.
Penegasan itu penting karena sejumlah sekolah unggulan tetap akan mempertahankan nama yang sudah lama dikenal masyarakat. SMAN 3 Bandung, SMAN 5 Bandung, hingga sekolah lain seperti SMA 5, SMA 3, SMA 1 Purwakarta, dan SMA 1 Garut tetap memakai nama asli mereka meski masuk dalam program tersebut.
Nama tetap dipertahankan
Kepala Disdik Jabar Purwanto menekankan bahwa Sekolah Maung bukan program untuk mengganti nama sekolah negeri. Ia menyebut program ini sebagai transformasi pendidikan yang menyentuh sistem dan kualitas layanan, bukan nomenklatur sekolah.
Artinya, sekolah-sekolah itu tidak akan kehilangan identitas yang selama ini melekat di tengah masyarakat. Di saat yang sama, mereka akan diberi penanda sebagai penyelenggara Sekolah Maung.
Dengan begitu, publik tetap bisa mengenali sekolah berdasarkan nama lamanya. Sementara itu, status sebagai bagian dari program tetap tercantum sebagai penanda baru.
Fokusnya ada pada mutu layanan
Purwanto juga menolak anggapan bahwa Sekolah Maung akan membuat sekolah negeri unggulan menjadi lebih eksklusif. Menurut dia, siswa berprestasi justru memerlukan layanan pendidikan yang lebih optimal.
Karena itu, pembenahan diarahkan ke dalam tubuh sekolah, bukan pada sekadar tampilan luar. Pembenahan tersebut mencakup pola penerimaan siswa, kurikulum, tata kelola, pembiayaan, kualitas tenaga pengajar, dan fasilitas pendidikan.
Ruang perubahan itu menunjukkan bahwa program ini dirancang untuk memperkuat keseluruhan proses pendidikan. Tujuannya adalah membuat sekolah bisa memberi hasil yang lebih baik tanpa menghapus identitas yang sudah dikenal luas.
Latar belakang program
Sekolah Maung atau Sekolah Manusia Unggul digulirkan Pemprov Jawa Barat di 41 sekolah negeri. Jumlah itu terdiri atas 28 SMA dan 13 SMK.
Munculnya program ini ikut memancing spekulasi di tengah masyarakat. Karena itu, Disdik Jabar merasa perlu memberi penjelasan agar publik tidak salah membaca arah kebijakan yang sedang dijalankan.
Penjelasan resmi itu menegaskan bahwa Sekolah Maung diposisikan sebagai penguatan mutu pendidikan. Program ini bukan langkah untuk mengubah nama sekolah-sekolah negeri unggulan menjadi identitas baru.
Menjawab perubahan pilihan sebagian orang tua
Purwanto juga mengaitkan program ini dengan pergeseran pilihan sebagian keluarga dari kalangan menengah atas. Ia menyebut sebagian dari mereka mulai beralih ke sekolah swasta karena menilai layanan yang diberikan lebih baik.
Situasi itu menjadi salah satu alasan pemerintah daerah memperkuat layanan di sekolah negeri unggulan. Disdik Jabar ingin sekolah negeri tetap menjadi pilihan utama tanpa harus kehilangan nama besar yang sudah terbangun.
Karena itu, transformasi yang dibawa Sekolah Maung diarahkan pada substansi layanan pendidikan. Nama sekolah dipertahankan, sedangkan pembenahan difokuskan pada mutu proses belajar, pengelolaan, dan dukungan fasilitas.
Dengan penegasan tersebut, Disdik Jabar berupaya meredam salah paham yang berkembang sejak program ini diperkenalkan. Fokus utamanya tetap sama, yaitu meningkatkan kualitas sekolah negeri unggulan sambil menjaga nama dan reputasi yang sudah lama melekat di masyarakat.
Source: www.detik.com