Di ruang diskusi tentang artificial intelligence, pelajar SMA kini tidak hanya datang untuk mendengar. Di The Cornerstone bertema “AI & The Future We Are Building”, mereka justru ikut menguji arah percakapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajam tentang pendidikan, pekerjaan, dan masa depan sosial.
Cara mereka hadir juga berbeda dari forum pendidikan pada umumnya. Para siswa tampil sebagai student speaker dan memimpin diskusi bersama mantan menteri, pembuat kebijakan, serta petinggi industri yang hadir dalam forum tersebut.
Kehadiran para pelajar itu menunjukkan perubahan cara generasi muda memandang AI. Teknologi ini tidak lagi diposisikan hanya sebagai alat bantu, tetapi sebagai kekuatan yang dapat membawa konsekuensi jangka panjang bagi cara belajar dan cara bekerja.
Di forum itu, para siswa tidak ragu mengangkat isu yang jarang dibahas secara setajam ini. Dua istilah yang mencuri perhatian adalah “Kolonialisme Digital” dan “Ilusi Kompetensi”, yang menunjukkan cara mereka membaca AI secara lebih kritis.
Pembahasan tersebut memperlihatkan kekhawatiran bahwa perkembangan AI dapat menciptakan ketergantungan baru. Pada saat yang sama, teknologi itu juga bisa menimbulkan rasa mampu yang tidak selalu sejalan dengan pemahaman yang sesungguhnya.
The Cornerstone dirancang untuk memberi ruang yang setara antara siswa dan para profesional. Karena tidak ada jarak yang terlalu kaku, percakapan bisa berjalan lebih terbuka, hidup, dan tetap terarah.
Format seperti ini memberi kesempatan bagi pelajar untuk menguji nalar mereka di hadapan pihak yang lebih berpengalaman. Keresahan yang mereka sampaikan tidak berhenti sebagai opini remaja, tetapi menjadi masukan yang layak diperhatikan dalam pembahasan yang lebih luas.
Forum ini digagas oleh EduALL, konsultan pendidikan yang dikenal mendampingi siswa yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri. Di balik layanan itu, EduALL membawa visi mencetak generasi pembawa perubahan atau Game Changer.
CEO EduALL, Devi Kasih, menilai Indonesia tidak kekurangan anak-anak cerdas. Menurut dia, yang dibutuhkan adalah ruang untuk membentuk mereka dengan benar, bukan sekadar mengejar target akademik.
Pandangan itu sejalan dengan kebutuhan di tengah disrupsi AI yang berpotensi mengubah tatanan sosial dan karier. Karena itu, pelajar dinilai perlu ruang untuk berdiskusi langsung dan menguji gagasan mereka sebelum menghadapi dunia yang terus berubah.
Topik AI dalam forum tersebut juga tidak dibahas sebatas manfaat praktisnya dalam kehidupan sehari-hari. Para pelajar menyoroti risiko jika teknologi berkembang tanpa kontrol dan tanpa keterlibatan generasi muda dalam perumusannya.
Pendekatan kritis seperti ini menjadi penting karena AI sudah hadir di banyak aspek kehidupan. Dampaknya merambah ruang belajar hingga dunia kerja, sehingga respons masyarakat memang perlu lebih hati-hati.
Selain menjadi ruang intelektual, forum itu juga membawa dampak sosial yang konkret. EduALL menyalurkan hasil acara melalui kerja sama dengan Indonesia Mengajar.
Project Manager The Cornerstone, Theresya Afila, mengatakan 100 persen dana dari penjualan tiket dan donasi disalurkan untuk mendukung pemerataan pendidikan bagi anak-anak di pelosok Nusantara. Langkah itu membuat diskusi tentang AI tetap terhubung dengan perhatian pada pendidikan yang inklusif dan berdampak nyata.
Source: www.medcom.id




