Di Tengah Libur Buruh, Tembaga Masih Bertahan Di Atas US$13.000 Per Ton

Pergerakan harga tembaga tengah menunjukkan ketahanan yang menarik di tengah pasar komoditas yang tidak sedang ramai. Di London Metals Exchange, harga logam ini tetap berada di atas US$13.000 per ton meski aktivitas perdagangan melemah saat libur Hari Buruh.

Ketahanan itu muncul bukan karena pasar sedang agresif, melainkan karena ada dorongan stok yang lebih dulu dibangun oleh produsen logam. Mereka menambah persediaan sebelum China memasuki libur panjang sepekan, sehingga pasar mendapat penyangga di saat volume transaksi cenderung menipis.

Di saat tembaga mampu bertahan, pasar logam dasar justru tidak bergerak serempak. Harga nikel tercatat turun, menunjukkan bahwa sentimen di komoditas industri masih rapuh dan belum membentuk arah yang benar-benar solid.

Kondisi libur Hari Buruh ikut membuat transaksi lebih sepi dan pergerakan harga lebih mudah goyah. Namun, kebutuhan stok tetap memberi pengaruh besar, sementara pelaku pasar juga terus mencermati sentimen eksternal yang datang dari luar pasar logam itu sendiri.

Dukungan lain datang dari Amerika Serikat setelah data produk domestik bruto kuartal pertama tumbuh 2% secara tahunan. Angka ini memberi batas bawah bagi harga karena pasar menilai ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan, terutama sebagai salah satu konsumen besar logam dunia.

Meski begitu, pasar tidak hanya dipengaruhi data ekonomi. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah ikut memperkuat sentimen setelah muncul kebijakan blokade angkatan laut di pelabuhan Iran yang menghambat pembukaan Selat Hormuz.

Di sisi bahan baku industri lain, bijih besi juga ikut menguat. Harga berjangka komoditas itu berada di US$107,20 per ton, level tertinggi dalam satu bulan terakhir, seiring meningkatnya biaya konflik yang memengaruhi ekspektasi pasar.

Namun penguatan bijih besi masih dibatasi tekanan yang belum reda. Krisis properti di China belum mereda, sementara permintaan dari sektor konstruksi domestik juga melemah, sehingga ruang kenaikan tetap terbatas.

Tekanan tambahan juga datang dari sisi pasokan global. Salah satu sumbernya adalah rencana penambang di Guinea yang akan mulai meningkatkan volume pengiriman bijih dalam beberapa bulan mendatang.

Kombinasi pasokan yang berpotensi bertambah dan permintaan yang belum pulih cepat membuat reli logam rawan tertahan. Untuk saat ini, tembaga masih mampu menjaga posisinya di atas US$13.000 per ton, tetapi arah berikutnya tetap bergantung pada keseimbangan stok, tambahan pasokan, dan sentimen geopolitik.

Exit mobile version