Di Tengah 20 Laporan Pelecehan, KAI Hadirkan Female Seat Map Untuk Penumpang Perempuan

Penguatan perlindungan bagi penumpang perempuan kini menjadi salah satu fokus layanan PT Kereta Api Indonesia (Persero). Salah satu langkah yang paling terlihat adalah penambahan fitur Female Seat Map di aplikasi Access by KAI, yang memberi ruang lebih besar bagi penumpang perempuan untuk memilih kursi dengan mempertimbangkan rasa aman dan kenyamanan sejak awal pemesanan.

Melalui fitur ini, peta kursi ditampilkan dengan penanda warna pink pada kursi yang sudah dipesan penumpang perempuan. Pada tampilan yang sama, kursi yang ditempati penumpang laki-laki diberi warna abu-abu, sehingga pemesanan menjadi lebih mudah dibaca dan opsi duduk bisa dipilih dengan lebih terarah.

Kontrol lebih besar saat memilih kursi

Bagi pelanggan perempuan, keberadaan peta kursi ini memberi tambahan informasi sebelum perjalanan dimulai. Jika menginginkan posisi duduk yang berdekatan dengan sesama penumpang perempuan, pilihan itu dapat dipertimbangkan sejak proses pembelian tiket berlangsung.

KAI menempatkan layanan ini sebagai bagian dari upaya menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih ramah perempuan. Pendekatan tersebut tidak hanya bertumpu pada fasilitas di stasiun atau di dalam kereta, tetapi juga pada tahap digital yang lebih awal, yakni saat pelanggan menentukan tempat duduk.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan bahwa pengembangan fitur ini muncul dari kebutuhan pelanggan yang semakin beragam. Ia menyebut KAI terus menyesuaikan layanan agar lebih ramah perempuan, anak, dan penyandang disabilitas.

Terkait dengan penguatan respons atas keluhan

Pembaruan layanan ini juga berkaitan dengan data internal perusahaan yang mencatat 20 keluhan terkait tindakan pelecehan seksual di layanan Commuter Line selama periode Januari hingga Maret 2026. Catatan tersebut menjadi salah satu dasar KAI untuk memperkuat pencegahan dan perlindungan di ruang transportasi publik.

Dalam konteks itu, Female Seat Map berfungsi sebagai alat bantu tambahan agar penumpang perempuan memiliki lebih banyak kontrol atas pilihan tempat duduk. Langkah ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari perlindungan yang lebih luas di seluruh ekosistem layanan KAI.

Anne menegaskan bahwa keamanan di transportasi publik memerlukan sistem yang terjaga dan kepedulian bersama. “KAI terus memperkuat sistem dan pengawasan, sekaligus mengajak pelanggan untuk saling menjaga ruang bersama agar perjalanan tetap aman dan nyaman,” ujarnya.

Dukungan lain di luar aplikasi

Selain melalui fitur digital, KAI juga menyiapkan perlindungan lewat fasilitas fisik. Perusahaan menyediakan kereta khusus wanita pada layanan Commuter Line dan LRT Jabodebek, serta memisahkan fasilitas toilet berdasarkan gender di kereta api jarak jauh.

Kombinasi antara fasilitas lapangan dan layanan digital ini menunjukkan bahwa perlindungan penumpang perempuan dibangun dari beberapa lapisan. Dengan begitu, rasa aman diharapkan tetap terjaga sejak keberangkatan hingga tiba di tujuan.

Teknologi pengawasan ikut diperkuat

Di sisi pengawasan, KAI mengandalkan integrasi Command Center dengan Contact Center untuk mendukung respons atas kondisi di lapangan. Pemantauan juga dilakukan lewat CCTV Analytics di area stasiun dan di dalam gerbong secara real-time.

Penggunaan teknologi ini membantu perusahaan mempercepat deteksi situasi yang membutuhkan perhatian. Dengan sistem yang saling terhubung, keamanan penumpang tidak hanya bergantung pada petugas yang berjaga, tetapi juga pada kemampuan pengawasan yang lebih cepat dan responsif.

Saat mobilitas pelanggan terus meningkat

Langkah penguatan layanan tersebut hadir di tengah kenaikan jumlah pelanggan KAI Group. Pada kuartal pertama 2026, total pelanggan KAI Group mencapai 128 juta orang, tumbuh 9,97 persen dibandingkan tahun lalu.

Commuter Line melayani 101,3 juta pelanggan dan tumbuh 8,11 persen. Di layanan lain, KA jarak jauh dan lokal mencatat 14,5 juta pelanggan, LRT Jabodebek 7,7 juta pelanggan, KAI Bandara 1,7 juta pelanggan, Whoosh 1,4 juta pelanggan, LRT Sumsel 1 juta pelanggan, dan KA Makassar–Parepare sebanyak 75.421 pelanggan.

Di tengah mobilitas yang terus naik, Female Seat Map menjadi salah satu bentuk penyesuaian layanan agar kebutuhan penumpang perempuan tetap terakomodasi. KAI menempatkan fitur ini sebagai bagian dari upaya menjaga rasa aman, memperkuat pengawasan, dan membuat pelanggan merasa lebih tenang selama perjalanan.

Exit mobile version