Di Raja Ampat, 15 BUMN Satukan Pemulihan Laut Dan Penguatan Hidup Warga

Di Raja Ampat, upaya menjaga laut dan memperkuat kehidupan warga berjalan dalam satu rangkaian program TJSL yang melibatkan 15 BUMN. Fokusnya tidak hanya pada pemulihan ekosistem, tetapi juga pada kebutuhan dasar masyarakat di Kampung Mutus dan Kampung Manyaifun, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya.

Pendekatan seperti ini membuat program tidak berdiri pada satu sisi saja. Saat konservasi laut dikerjakan, dukungan sosial, pendidikan, energi, hingga penguatan ekonomi ikut disusun agar manfaatnya lebih terasa bagi warga setempat.

Kolaborasi lintas BUMN di wilayah 3T

Keterlibatan 15 BUMN dalam program ini menunjukkan model kerja bersama yang diarahkan ke kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menjadi salah satu peserta yang menegaskan bahwa kontribusi perusahaan negara tidak berhenti pada layanan transportasi.

Direktur Utama ASDP Heru Widodo menyampaikan bahwa kolaborasi tersebut merupakan bagian dari komitmen pembangunan berkelanjutan. Ia menegaskan, partisipasi ASDP dalam program TJSL BUMN di Raja Ampat adalah wujud peran aktif perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selain ASDP, program ini juga melibatkan PT Pelabuhan Indonesia (Persero), PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), PT Pegadaian (Persero), PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero), Indonesia Financial Group atau IFG, AirNav Indonesia, PT Taspen (Persero), Perum Peruri, PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero), PT Jaminan Kredit Indonesia (Persero), PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, dan Perum DAMRI.

Pemulihan laut menjadi titik awal di Kampung Mutus

Di Kampung Mutus, perhatian utama diarahkan pada pemulihan lingkungan pesisir dan laut. Program yang dijalankan mencakup penanaman 2.000 bibit mangrove dan 650 fragmen karang, yang menjadi bagian dari upaya memperbaiki ekosistem secara bertahap.

Langkah ini menunjukkan bahwa konservasi tidak ditempatkan sebagai agenda terpisah dari kebutuhan sosial. Pemulihan mangrove dan karang dipadukan dengan intervensi lain agar dampak program tidak berhenti pada aspek lingkungan saja.

Masih di Kampung Mutus, warga juga menerima dukungan listrik untuk 119 rumah. Bantuan ini menegaskan bahwa kebutuhan dasar masyarakat dijadikan bagian dari desain program, bukan ditempatkan sebagai pelengkap semata.

Kampung Manyaifun mendapat sentuhan fasilitas dasar

Di lokasi lain, Kampung Manyaifun mendapat paket dukungan yang berbeda namun tetap searah. Program mencakup penyediaan listrik untuk 59 rumah serta renovasi fasilitas umum yang dibutuhkan warga.

Perbaikan juga dilakukan pada sekolah dan rumah ibadah. Dengan demikian, hasil program tidak hanya dirasakan melalui kehadiran energi, tetapi juga lewat fasilitas sosial yang mendukung kegiatan harian masyarakat.

Pola ini memperlihatkan bahwa intervensi BUMN di Raja Ampat dirancang secara berlapis. Satu kampung bisa menerima fokus pemulihan lingkungan, sementara kampung lain memperoleh penguatan pada fasilitas sosial dan layanan dasar, namun semuanya tetap berada dalam tujuan yang sama.

Pendekatan multiintervensi agar manfaat lebih luas

Program di Raja Ampat tidak hanya menargetkan satu bentuk bantuan. Ada unsur lingkungan, pendidikan, sosial, dan penguatan ekonomi yang disusun bersama agar manfaatnya menjangkau lebih banyak sisi kehidupan warga.

Direktur TJSL BP BUMN Edi Eko Cahyono menilai model kolaborasi lintas perusahaan negara seperti ini lebih strategis. Menurut dia, pendekatan tersebut membuat program lebih terukur, lebih terarah bagi penerima manfaat, dan memberi peluang hasil yang lebih berkelanjutan di lapangan.

Karena itu, konservasi laut dan penguatan ekonomi warga tidak diperlakukan sebagai dua agenda yang saling bersaing. Keduanya justru dijalankan paralel, dengan asumsi bahwa perbaikan lingkungan akan lebih bermakna jika disertai peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Kelanjutan peran sosial ASDP di Indonesia Timur

Corporate Secretary ASDP Windy Andale menyebut program kolaborasi ini sebagai kelanjutan dari aksi sosial perusahaan di Indonesia Timur. Sebelumnya, ASDP juga terlibat dalam pelestarian alam dan dukungan beasiswa pendidikan.

Windy menegaskan, melalui program ini ASDP ingin memastikan kehadirannya tidak hanya menghadirkan konektivitas. Perusahaan juga ingin memberi manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat yang berada di wilayah sasaran.

Arah tersebut selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals, terutama pada pengentasan kemiskinan dan energi bersih. Dengan melibatkan 15 BUMN, program TJSL di Raja Ampat menempatkan konservasi laut dan kebutuhan ekonomi warga dalam satu kerja bersama yang saling menguatkan.

Baca Juga

Back to top button