Di Perlintasan KA, BRIN Uji Pelat Karet Anti-Slip untuk Kurangi Risiko Tergelincir

BRIN tengah menaruh perhatian pada perlintasan kereta api sebidang dengan mengembangkan pelat karet khusus yang disebut rubber crossing plate atau RCP. Material ini disiapkan untuk menggantikan beton dan aspal di area lintasan rel agar kendaraan melintas dengan permukaan yang lebih stabil dan aman.

Fokus utama pengembangan ini adalah keselamatan pengguna jalan. Peneliti Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN, Ade Sholeh Hidayat, menilai risiko kecelakaan di perlintasan sebidang tidak hanya berasal dari faktor manusia, tetapi juga dari kondisi teknis lintasan yang belum optimal.

Pelat yang lebih adaptif di atas rel

RCP dirancang agar lebih sesuai menghadapi beban dinamis dan kondisi lingkungan yang ekstrem. BRIN menempatkan material ini sebagai solusi yang lebih adaptif untuk perlintasan sebidang, terutama karena lintasan rel memerlukan karakter material yang tidak sekadar kuat, tetapi juga elastis.

Bahan dasarnya berasal dari karet alam yang dipadukan dengan kompatibiliser dan filler khusus. Kombinasi tersebut membuat pelat memiliki sifat lentur sekaligus tahan lama, sehingga mampu meredam getaran tinggi dan menahan beban statis maupun dinamis.

Selain itu, RCP juga disiapkan agar tahan terhadap cuaca ekstrem, korosi, dan keausan. Ketahanan seperti ini menjadi penting karena area perlintasan berhadapan langsung dengan intensitas penggunaan yang tinggi dan perubahan lingkungan yang terus terjadi.

Permukaan lebih rata dan minim selip

Salah satu keunggulan lain yang ditekankan BRIN adalah permukaan RCP yang lebih presisi dan anti-slip. Desain ini ditujukan untuk membuat lintasan lebih rata dan lebih stabil saat dilalui kendaraan di atas rel.

Menurut Ade, karakter tersebut dapat membantu menekan risiko kendaraan tergelincir atau tersangkut di rel kereta api. Efek peredam getaran yang dihasilkan juga disebut ikut membantu meningkatkan kontrol kendaraan sekaligus mengurangi kebisingan di sekitar perlintasan.

“RCP menawarkan pendekatan baru yang lebih adaptif terhadap beban dinamis dan kondisi lingkungan ekstrem, sekaligus meningkatkan keselamatan pengguna jalan,” kata Ade dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (16/5/2026).

Sudah melalui berbagai pengujian

Pengembangan RCP dilakukan lewat rekayasa komposit elastomer dan mineral dengan optimasi rasio campuran antara karet dan aditif. BRIN menyebut produk ini sudah melewati serangkaian pengujian untuk menilai performa dan ketahanannya.

Pengujian itu mencakup uji statis, fatigue, getaran, kebisingan, serta ketahanan lingkungan terhadap sinar UV, air, dan suhu ekstrem. Tahap pengujian tersebut menjadi bagian penting sebelum material dinilai siap digunakan di lapangan.

Nilai strategis untuk karet alam dan industri nasional

Di luar aspek teknis, BRIN melihat inovasi ini punya manfaat yang lebih luas. Pemanfaatan karet alam dalam RCP dapat mendorong hilirisasi komoditas dalam negeri dan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan impor.

Penggunaan limbah mineral sebagai filler juga dinilai sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular. BRIN mengaitkan langkah ini dengan upaya dekarbonisasi sektor transportasi nasional yang terus didorong.

Jika diterapkan secara luas oleh PT Kereta Api Indonesia atau KAI, RCP berpeluang menjadi standar baru untuk infrastruktur perlintasan kereta api sebidang di Indonesia. Penerapan yang lebih luas dinilai dapat memberi dampak langsung pada keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan.

Ade menegaskan bahwa infrastruktur yang lebih elastis, tahan lama, dan aman dapat menurunkan risiko kecelakaan secara signifikan. Di saat yang sama, material ini juga diharapkan membuat perlintasan lebih nyaman dan siap menghadapi beban lalu lintas maupun perubahan kondisi lingkungan.

Source: www.beritasatu.com
Exit mobile version