Di Depan Raja Charles, Trump Tekankan Inggris Tetap Sekutu Paling Dekat AS

Di tengah sorotan atas hubungan politik yang tidak selalu sejalan, Donald Trump justru memilih menonjolkan kedekatan Amerika Serikat dan Inggris saat menerima Raja Charles di Gedung Putih, Washington, DC. Ia menggambarkan Inggris sebagai salah satu mitra paling dekat bagi AS dan menekankan bahwa hubungan kedua negara dibangun oleh sejarah panjang, bahasa yang sama, dan nilai yang serupa.

Pernyataan itu muncul dalam suasana kunjungan resmi Raja Charles III ke Amerika Serikat. Trump menyambutnya dengan nada hangat dan menyebut pertemuan itu “sangat baik”, sambil melukiskan Raja Charles sebagai “orang yang fantastis”.

Salah satu penekanan terkuat Trump adalah soal kedekatan identitas antara Washington dan London. Ia menilai kedua negara tidak hanya terhubung lewat diplomasi, tetapi juga lewat akar sejarah yang sama sejak Amerika meraih kemerdekaan.

Trump juga menegaskan bahwa kedekatan itu masih terasa dalam hubungan budaya dan cara pandang politik. Dalam pernyataannya, ia menyebut AS dan Inggris berbicara bahasa yang sama dan memiliki dasar nilai yang serupa, sehingga hubungan keduanya berbeda dari kemitraan lain.

Sorotan pada ikatan lama

Dalam sambutan tersebut, Trump membawa hubungan AS-Inggris ke kerangka sejarah yang lebih panjang. Ia menyebut Inggris telah lama menjadi mitra terdekat Amerika sejak masa awal berdirinya negara itu, dengan ikatan yang dibentuk oleh kepentingan bersama dan kedekatan kultural.

Trump juga menyinggung kerja sama militer kedua negara. Menurut dia, pasukan dari AS dan Inggris pernah berdiri bersama untuk membela peradaban yang sama di bawah panji merah, putih, dan biru.

Rujukan semacam itu memperlihatkan cara Trump membangun pesan publik yang menekankan kesinambungan hubungan bilateral. Di hadapan Raja Charles, narasi tentang persahabatan lama tampak dipakai untuk memperkuat citra bahwa hubungan kedua negara punya posisi istimewa.

Pengulangan pada bahasa dan nilai

Pernyataan Trump tentang “satu bahasa” tidak hanya bersifat harfiah, tetapi juga simbolik. Ia menempatkan bahasa dan nilai bersama sebagai dasar penting yang membuat hubungan Washington dan London terasa lebih dekat dibanding relasi dengan negara lain.

Dalam konteks kunjungan resmi Raja Charles, pesan itu memberi bobot tambahan pada istilah yang kerap dipakai untuk menggambarkan hubungan kedua negara, yakni “hubungan istimewa”. Pilihan kata Trump menunjukkan bahwa di ruang publik, unsur kesamaan budaya tetap menjadi bagian utama dari diplomasi.

Meski ada perbedaan pandangan antara AS dan Inggris dalam sejumlah isu internasional, Trump tetap menjaga nada komunikasinya. Ia bahkan menyebut AS dan Inggris sebagai “dua negara paling luar biasa yang pernah dikenal dunia”.

Rujukan ke Perang Dunia Kedua

Trump juga mengaitkan kedekatan AS dan Inggris dengan sejarah Perang Dunia Kedua. Ia menyinggung pertemuan keluarga Perdana Menteri Winston Churchill dan Presiden Franklin Roosevelt di sebuah kapal di Atlantik Utara sebagai bagian dari lahirnya visi dunia bebas setelah perang.

Referensi sejarah itu dipakai untuk menegaskan bahwa pemahaman atas ikatan unik kedua bangsa bukan sekadar simbol, melainkan fondasi hubungan yang lebih luas. Trump berharap kedekatan tersebut tetap bertahan dan tidak memudar oleh perubahan politik.

Di sisi lain, kunjungan Raja Charles III ke Washington ikut menyedot perhatian karena berlangsung dalam situasi hubungan politik antara Trump dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang tidak sepenuhnya sejalan. Artikel referensi juga menyebut Inggris tidak mendukung perang Amerika dengan Iran, namun Trump tetap menekankan pentingnya kemitraan mendalam antara kedua negara.

Kehadiran Raja Charles di Gedung Putih akhirnya menjadi panggung bagi Trump untuk menegaskan kembali kedekatan historis dan simbolik AS-Inggris. Dengan menyebut bahasa, nilai, sejarah, dan kerja sama militer dalam satu rangkaian pesan, Trump menempatkan Inggris sebagai teman terdekat Amerika Serikat di hadapan publik.

Source: www.viva.co.id

Baca Juga

Back to top button