Peta persaingan mobil listrik global terlihat makin timpang ketika pasar China mampu menawarkan banyak model dengan harga yang jauh lebih rendah dibanding Amerika Serikat. Dalam perbandingan yang dikutip Reuters dari ajang Beijing Auto Show, uang untuk membeli satu mobil baru rata-rata di AS bahkan setara dengan biaya untuk membawa pulang lima mobil listrik terlaris di China.
Angka itu terasa mencolok karena rata-rata harga mobil baru di AS pada Maret lalu mencapai 51.456 dolar AS, menurut Kelley Blue Book. Di sisi lain, platform perdagangan DCar mencatat ada lebih dari 200 model mobil bertenaga baterai, termasuk hybrid, di China yang dipasarkan di bawah 25.000 dolar AS.
Harga Murah Bukan Berarti Fitur Minim
Tekanan harga di China tidak hanya menghasilkan mobil yang lebih murah, tetapi juga mendorong produsen untuk tetap memberi nilai jual yang kuat. Kompetisi yang ketat membuat mobil listrik kelas ekonomis di sana hadir dengan fitur yang masih sanggup menarik perhatian konsumen.
Hal ini terlihat dari sejumlah model yang justru tampil agresif di segmen bawah. Konsumen di China mendapat banyak pilihan kendaraan listrik yang dirancang untuk pasar massal, bukan sekadar untuk mengejar citra teknologi ramah lingkungan.
Geely EX2 dan Wuling Hongguang MiniEV Menarik Perhatian
Salah satu nama yang banyak disorot adalah Geely EX2 atau Star Wish. Model kompak ini disebut sebagai salah satu mobil listrik paling laris sepanjang 2025, dengan kabin yang terasa lebih mewah dari ukuran bodinya dan layar sentuh besar sebagai daya tarik utama.
Geely EX2 juga sudah mulai diekspor ke sejumlah negara, termasuk Indonesia. Kehadirannya menunjukkan bahwa mobil listrik murah dari China tidak hanya bertahan di pasar domestik, tetapi juga mulai masuk ke konsumen di luar negeri.
Wuling Hongguang MiniEV juga tetap menjadi pemain penting di segmen mobil kota. Model terbarunya hadir dengan desain empat pintu yang membuat akses ke kabin lebih mudah, meski dimensinya tetap ringkas untuk kebutuhan harian di area perkotaan.
BYD Menguat di Segmen Ekonomis
Di kelas harga terjangkau, BYD menjadi salah satu merek paling dominan. Tiga model andalannya disebut mencatat penjualan hingga 700.000 unit dalam setahun terakhir, menandakan kuatnya permintaan terhadap mobil listrik murah yang ditawarkan secara agresif.
BYD Seagull menjadi sorotan karena sudah dibekali sensor Lidar untuk bantuan mengemudi otomatis. Pada model 2026, teknologi itu hadir bersama pembaruan fitur lain, yang memperlihatkan bahwa harga rendah di China tidak selalu berarti perlengkapan yang sederhana.
Selain itu, BYD juga menawarkan dua model lain dengan karakter berbeda. BYD Yuan UP menyasar konsumen yang menginginkan tampilan SUV, sedangkan BYD Qin Plus DM ditujukan untuk pembeli yang membutuhkan mobil lebih besar tetapi tetap menginginkan harga yang ekonomis.
Tekanan ke Produsen Barat Semakin Nyata
Ketimpangan harga antara China dan Amerika Serikat memberi sinyal kuat bagi industri otomotif Barat. Pasar AS dan Eropa selama ini terbiasa dengan harga mobil baru yang tinggi, sementara China menunjukkan bahwa kendaraan listrik bisa diproduksi dan dijual dalam skala besar dengan harga yang jauh lebih rendah.
Situasi tersebut ikut menegaskan perubahan arah persaingan global, terutama saat produsen China mampu menggabungkan efisiensi biaya, skala produksi, dan fitur yang tetap kompetitif. Dengan lebih dari 200 model mobil baterai di bawah 25.000 dolar AS, China memperlihatkan bahwa kendaraan listrik murah bukan lagi produk pinggiran, melainkan bagian utama dari pasar.
Bagi konsumen, kondisi ini membuka akses yang lebih luas terhadap mobil listrik dengan pilihan yang semakin beragam. Bagi produsen Barat, angka harga itu menjadi pengingat bahwa persaingan tidak lagi hanya soal teknologi, tetapi juga soal kemampuan menekan biaya tanpa mengorbankan daya tarik produk.





