Banyak pengendara motor cenderung fokus pada macet dan jarak tempuh saat cuaca panas ekstrem melanda. Padahal, teriknya udara justru bisa menggerus konsentrasi, tenaga, dan kontrol tubuh jauh lebih cepat dari yang disadari.
Di Jawa Tengah, kondisi seperti ini terasa di jalur Pantura Pekalongan-Pati hingga pusat Kota Semarang dan Solo. Suhu yang menembus 35°C membuat perjalanan motor bukan hanya melelahkan, tetapi juga membuka lebih banyak celah terjadinya kecelakaan.
Panas ekstrem memaksa tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tetap stabil. Jantung memompa darah lebih kuat ke permukaan kulit agar keringat keluar, sementara cairan tubuh terus berkurang jika tidak segera diganti.
Saat dehidrasi mulai muncul, dampaknya tidak berhenti pada rasa haus. Respons otak bisa melambat, pandangan dapat kabur atau muncul fatamorgana, lalu kondisi ini berlanjut ke micro sleep selama 1-5 detik tanpa disadari.
Bahaya itu menjadi jauh lebih besar ketika motor masih melaju. Pada kecepatan 60 km/jam, kendaraan bergerak sekitar 16,6 meter per detik, sehingga micro sleep selama 3 detik berarti motor melaju tanpa kendali sejauh 50 meter.
Selain menguras fisik, panas juga memengaruhi emosi pengendara. Senggolan kecil atau pengendara yang tidak memberi sein di titik padat seperti Pasar Johar Semarang atau Gladak Solo bisa memicu amarah lebih cepat dari biasanya.
Dalam kondisi tubuh yang sudah kehabisan energi untuk bertahan, refleks ikut menurun. Akibatnya, keputusan di jalan lebih mudah keliru, dan situasi yang sebenarnya masih bisa dihadapi dengan tenang justru berubah menjadi sumber risiko baru.
Permukaan jalan pun ikut memperburuk keadaan. Aspal yang panas dapat menurunkan traksi ban karena kompon ban menjadi lebih lembek, sehingga motor lebih mudah kehilangan grip jika ritme berkendara tidak dijaga hati-hati.
Risiko lain datang dari genggaman dan pandangan. Telapak tangan yang berkeringat membuat stang terasa licin jika pengendara tidak memakai sarung tangan yang tepat, sementara silau matahari bisa memicu pusing, terutama bila visor tidak bersih atau tidak sesuai.
Oke Desiyanto, Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng, mengingatkan agar pengendara tidak menunggu haus untuk minum. Ia menyarankan berhenti tiap 60-90 menit untuk minum air mineral agar hidrasi tetap terjaga.
Ia juga menganjurkan perlengkapan yang tetap nyaman dipakai di cuaca terik. Jaket mesh atau kain double-layer dengan sirkulasi udara baik tetap dibutuhkan selama masih memiliki pelindung di siku dan bahu, sedangkan visor smoke atau bening yang bersih membantu mengurangi silau.
Tanda-tanda tubuh mulai lelah juga perlu cepat dikenali. Leher kaku dan menguap lebih dari tiga kali dalam lima menit disebut sebagai alarm mutlak untuk menepi sejenak.
Tempat teduh atau SPBU terdekat bisa menjadi pilihan singgah saat gejala itu muncul. Berkendara di tengah panas ekstrem bukan sekadar soal menahan macet, tetapi juga menjaga energi tubuh, emosi, dan kemampuan mengambil keputusan tetap aman di jalan.
Source: www.seputarmuria.com