Di Bawah Rp 3 Juta, Domo Menawarkan Humanoid Lab yang Serius untuk Riset AI Terwujudkan

Banyak lab robotika selama ini terjebak di dua pilihan yang sama-sama tidak ideal: membeli humanoid enterprise yang mahal atau memakai robot meja murah yang tidak benar-benar bisa berjalan. Rotaku mencoba memutus kebuntuan itu lewat Domo, humanoid full-body yang dibuka mulai dari $2,999 dan diarahkan khusus untuk riset embodied AI.

Posisi harga itu membuat Domo berada di celah yang cukup unik. Produk ini tidak diposisikan sebagai robot demonstrasi atau mainan desktop, melainkan sebagai alat kerja untuk pengembang yang perlu menjalankan model langsung di atas robot.

Dua ukuran untuk dua kebutuhan riset

Rotaku menyiapkan Domo dalam dua versi, yaitu Domo Developer dan Domo Plus. Keduanya ditujukan untuk whole-body policy learning, pendekatan yang membuat robot belajar tugas terkoordinasi dari demonstrasi, bukan dari perintah terpisah untuk tiap perilaku.

Domo Developer memiliki tinggi 90 cm, bobot 20 kg, 23 derajat kebebasan, dan torsi puncak 70 Nm per aktuator. Ukuran ini membuatnya lebih mudah masuk ke lingkungan lab, tetapi tetap cukup untuk berjalan dan memanipulasi objek secara terkoordinasi.

Sementara itu, Domo Plus membawa skala yang lebih besar dengan tinggi 130 cm dan bobot 35 kg. Versi ini memiliki 25 DoF dan torsi 110 Nm, sehingga berada lebih dekat ke wilayah humanoid berukuran hampir setengah manusia.

Keduanya memakai chassis aluminium terintegrasi. Rotaku juga membekali kedua model dengan baterai hot-swappable yang diklaim mampu memberi dua jam pemakaian kontinu.

Fokusnya workflow pengembang

Rotaku tidak menempatkan Domo sebagai robot yang hanya dikendalikan dari jauh. Perusahaan ini justru merancang platform agar peneliti bisa menjalankan model AI langsung di robot dan menjadikan alur pengembangan sebagai bagian utama produk.

Salah satu fitur yang menonjol adalah VR teleoperation. Kemampuan ini memungkinkan pengambilan data gerak alami lewat motion capture dua lengan, sesuatu yang relevan untuk melatih model imitation learning dengan contoh gerakan manusia yang realistis.

Selain itu, Domo menyediakan akses SSH. Dengan begitu, pengguna bisa men-deploy policy yang sudah dilatih langsung ke komputasi onboard robot tanpa perlu tethering.

Platform ini juga mencakup gesture recognition dan asisten suara berbasis LLM. Meski begitu, Rotaku tampak membidik tim yang sudah terbiasa dengan command line dan pipeline machine learning, karena sistem ini bukan alat pemrograman drag-and-drop.

Harga menjadi pembeda utama

Di pasar humanoid, banderol Domo menjadi daya tarik paling kuat. Rotaku menempatkannya di bawah $3,000, jauh di bawah banyak opsi yang menyasar pengguna dengan kebutuhan serupa.

Sebagai pembanding, Unitree R1 berada di kisaran $5,000, sedangkan Unitree G1 dibanderol $13,500. Noetix Bumi memang lebih murah, sekitar $1,370, tetapi targetnya lebih ke pengguna rumahan dengan pemrograman yang lebih sederhana.

ModelHargaCatatan
Unitree R1~ $5,000
Unitree G1$13,500
Domo< $3,000entry sub-3K
Noetix Bumi~ $1,370pengguna rumahan, pemrograman sederhana

Dengan posisi itu, Rotaku mengambil jalur tengah. Domo ditawarkan agar lab bisa mendapatkan platform yang lebih terjangkau daripada humanoid enterprise, tetapi tetap lebih siap untuk riset dibanding opsi murah.

Taruhan Rotaku di pasar pengembang

Strategi tersebut memperlihatkan upaya Rotaku untuk mendemokratisasi robotika canggih tanpa mengorbankan kemampuan yang dibutuhkan untuk riset. Bagi lab yang selama ini harus memilih antara kemampuan dan biaya, Domo menawarkan titik masuk baru.

Tantangannya tetap besar karena Rotaku adalah startup Bay Area yang harus membuktikan manufaktur dan dukungan produknya. Namun, reservasi untuk batch produksi awal sudah dibuka, dan itu memberi sinyal bahwa perusahaan ini serius membangun jalur bagi pengembang yang ingin mengeksplorasi embodied AI tanpa harus masuk ke anggaran enterprise.

Baca Juga

Back to top button