Polisi di Jawa Tengah kini menaruh perhatian khusus pada rangkaian pencurian yang menyasar gereja-gereja Protestan di kawasan pegunungan dan pedesaan. Sejumlah kejadian yang muncul dalam rentang beberapa bulan membuat penyidik melihat adanya kemiripan cara kerja pelaku dari satu lokasi ke lokasi lain.
Fokus penyelidikan mengarah pada gereja-gereja yang kerap berada dalam kondisi sepi dan minim penjagaan. Di tempat-tempat seperti itu, pelaku diduga punya ruang lebih besar untuk masuk tanpa banyak hambatan, terutama saat bangunan sedang terkunci dan tidak ada aktivitas ibadah.
Pola sasaran yang berulang
Barang yang hilang dalam sejumlah kejadian menunjukkan pola yang cukup serupa. Perlengkapan musik dan pengeras suara menjadi target utama, mulai dari gitar, keyboard, amplifier, hingga speaker.
Bagi penyidik, pilihan barang tersebut tidak muncul tanpa alasan. Benda-benda itu relatif mudah dibawa dan dinilai memiliki nilai jual, sehingga cocok untuk dibawa kabur saat gereja dalam keadaan kosong.
Direktur Tindak Pidana Polda Jawa Tengah Kombes M. Anwar Nasir mengatakan pihaknya ikut mendukung jajaran Polres dan Polsek dalam penanganan kasus ini. Tim di tingkat direktorat, menurut dia, sedang menganalisis rangkaian kejadian untuk mengungkap pelaku yang diduga terlibat.
Penyidik juga belum hanya bertumpu pada satu sumber informasi. Karena banyak gereja yang menjadi sasaran tidak memiliki sistem pengawasan internal, keterangan saksi dan rekaman CCTV dari lingkungan sekitar menjadi bahan penting untuk menelusuri jejak pelaku.
Lokasi yang diduga dipilih saat jam lengang
Di Getasan, polisi menilai para pelaku memanfaatkan situasi siang hari yang cenderung sepi. Kapolsek Getasan Agus Pardiyono Marinus menjelaskan bahwa pada waktu itu gereja biasanya terkunci dan tidak ada penjaga di dalam bangunan.
Cara masuk yang diduga digunakan adalah mencongkel pintu atau jendela. Dari pola tersebut, polisi menduga aksi dilakukan secara terencana, apalagi sasaran berada di lokasi yang relatif mudah diamati dari luar.
Rangkaian kasus yang kini ditelusuri bukan hanya satu kejadian. Pada 7 Februari, pencurian dilaporkan terjadi di Gereja Kristen Jawa Tengah Utara di Desa Tajuk, lalu disusul kejadian di Gereja Metodis Indonesia di Desa Batur pada 8 April.
Setelah itu, kasus lain tercatat di Gereja Bethel Indonesia di Desa Sumogawe pada 14 April. Satu peristiwa berikutnya terjadi di Gereja Bethel Injil Sepenuh Gunung Sinai di Tamansari pada 21 April, yang berada di jalur pegunungan Merapi-Merbabu.
Pengusutan mengarah pada kemungkinan keterkaitan
Deretan kejadian tersebut membuat polisi membuka kemungkinan adanya hubungan antarkasus. Meski penelusuran masih berjalan, kemiripan sasaran, cara masuk, serta barang yang dibawa menjadi alasan kuat bagi penyidik untuk melihat pola yang sama.
Lokasi-lokasi yang disasar juga memperlihatkan kesamaan kondisi. Banyak gereja itu berada di wilayah pegunungan atau pedesaan yang jauh dari keramaian, sehingga pengawasan luar cenderung terbatas ketika tidak ada kegiatan ibadah.
Karena itulah, aparat mulai mendorong langkah pengamanan tambahan di rumah ibadah. Polda Jawa Tengah berkoordinasi dengan pemimpin gereja dan kelompok keamanan masyarakat di sekitar lokasi kejadian agar kewaspadaan bisa ditingkatkan.
Hansip setempat juga dilibatkan untuk membantu pengawasan di kawasan rumah ibadah. Di sisi lain, polisi menyarankan gereja yang belum memiliki CCTV agar segera memasangnya, sementara perangkat yang sudah ada diminta dipastikan tetap berfungsi dengan baik.
Kekhawatiran jemaat soal rasa aman
Kasus pencurian ini ikut menambah perhatian pada keamanan tempat ibadah di wilayah yang lebih luas. Dalam catatan SETARA Institute, pada 2024 terdapat 260 insiden dan 402 tindakan yang melanggar kebebasan beragama dan berkeyakinan.
Laporan tahunan lembaga itu juga menyebut vandalisme, penutupan, intimidasi, dan kerusakan tempat ibadah sebagai bentuk pelanggaran yang paling sering muncul. Dampaknya tidak hanya dirasakan gereja, tetapi juga rumah ibadah lain di sejumlah daerah.
Di tengah situasi itu, jemaat berharap pengamanan rumah ibadah bisa lebih kuat, terutama di daerah terpencil. Seorang anggota Gereja Bethel Injil Sepenuhnya menegaskan bahwa tempat ibadah seharusnya dihormati agar orang dapat berdoa dengan tenang, sementara kerugian dari pencurian tidak hanya soal barang, tetapi juga rasa aman dan kesakralan ruang ibadah.
Source: indonesia.ucanews.com