Tragedi di tambang batu bara Liushenyu, Kota Changzhi, Provinsi Shanxi, memicu perhatian tinggi dari pusat pemerintahan China. Presiden Xi Jinping langsung meminta penyelidikan menyeluruh atas insiden yang dipicu ledakan gas itu, sekaligus menekankan agar pencarian korban dan penanganan penyelamatan dilakukan tanpa menunda waktu.
Di lokasi kejadian, operasi darurat masih berjalan karena masih ada pekerja yang perlu dipastikan nasibnya. Otoritas setempat di Qinyuan menyebut penyebab pasti kecelakaan belum diumumkan, sementara fokus utama tetap pada evakuasi, pencarian korban, dan penanganan medis bagi para pekerja yang terluka.
Ledakan yang terjadi pada Jumat malam itu menimpa tambang yang berada di wilayah Qinyuan. Pada tahap awal, insiden tersebut menewaskan sedikitnya empat orang dan membuat setidaknya 90 pekerja terjebak di bawah tanah.
Perkembangan terbaru menunjukkan jumlah korban meninggal bertambah menjadi delapan orang. Hingga Sabtu pagi, sebanyak 201 orang telah berhasil dievakuasi ke permukaan, namun proses di lokasi belum dihentikan karena tim penyelamat masih bekerja memastikan seluruh pekerja tertangani.
Xi juga meminta agar pertanggungjawaban ditegakkan secara ketat sesuai hukum yang berlaku. Arahan itu menegaskan bahwa pemeriksaan tidak hanya menyasar penyebab teknis kecelakaan, tetapi juga pihak-pihak yang harus dimintai pertanggungjawaban atas tragedi ini.
Perdana Menteri Li Qiang menyampaikan arahan yang sejalan. Ia meminta informasi mengenai insiden itu disampaikan kepada publik secara tepat waktu dan akurat, sambil menegaskan perlunya penanganan hukum yang tegas bagi pihak yang bertanggung jawab.
Kecelakaan di Liushenyu kembali menyoroti tingginya risiko keselamatan di sektor pertambangan China. Dengan penyelidikan yang masih berlangsung dan operasi penyelamatan yang belum selesai, perhatian publik kini tertuju pada hasil resmi yang akan menjelaskan pemicu ledakan gas serta tanggung jawab di balik runtuhnya tambang tersebut.
Source: www.beritasatu.com