Delapan Kebiasaan Harian yang Bisa Menekan Risiko Kanker, Dari Rokok Hingga Skrining Dini

Risiko kanker tidak hanya ditentukan faktor yang sulit dikendalikan. Banyak pemicunya justru datang dari kebiasaan harian yang bisa diubah, sehingga pencegahan sejak dini menjadi langkah yang realistis.

Sejumlah lembaga kesehatan yang dikutip menyebut lebih dari 40% kasus kanker dan hampir separuh kematian akibat kanker terkait dengan faktor yang sebenarnya bisa dicegah. Karena itu, pilihan sederhana seperti apa yang dimakan, seberapa aktif tubuh bergerak, hingga apakah seseorang merokok atau tidak, ikut membentuk peluang munculnya kanker di kemudian hari.

Pola hidup jadi penentu paling awal

Di antara berbagai kebiasaan yang memengaruhi risiko kanker, tembakau tetap menjadi yang paling kuat. Penggunaan tembakau dikaitkan dengan 30% dari seluruh kematian akibat kanker, dan asap rokok membawa zat kimia berbahaya yang dapat merusak sel tubuh.

Dampaknya tidak hanya terbatas pada paru-paru. Merokok juga dikaitkan dengan kanker mulut, kerongkongan, pankreas, kandung kemih, serviks, hingga ginjal, sementara rokok elektrik, cerutu, tembakau kunyah, dan hookah juga tidak dianggap aman.

Selain tembakau, berat badan dan aktivitas fisik ikut memegang peran besar. Menjaga berat badan dalam rentang sehat dapat menurunkan risiko setidaknya 13 jenis kanker, sedangkan kelebihan berat badan bisa meningkatkan hormon estrogen dan insulin yang mendorong pertumbuhan sel kanker.

Gerak tubuh yang cukup membantu menjaga metabolisme dan menekan risiko penyakit lain yang berkaitan dengan kanker. American Cancer Society merekomendasikan orang dewasa bergerak sedang selama 150–300 menit per minggu atau aktivitas berat 75–150 menit per minggu.

Jangan remehkan duduk terlalu lama

Kebiasaan sedentari juga tidak kalah penting untuk diperhatikan. Duduk terlalu lama berkaitan dengan obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan beberapa jenis kanker.

Pada anak dan remaja, anjuran gerak aktif bahkan mencapai setidaknya 1 jam per hari. Langkah kecil seperti berdiri dari duduk terlalu lama, berjalan singkat, atau menambah aktivitas harian dapat membantu tubuh tetap aktif di luar jadwal olahraga rutin.

Makanan, alkohol, dan kebiasaan luar ruang

Pola makan sehari-hari ikut memberi pengaruh besar terhadap risiko kanker. Referensi menyebut hingga 50% kasus kanker yang dapat dicegah berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi.

Pola makan berbasis tanaman yang kaya sayuran, buah, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan dikaitkan dengan risiko kanker yang lebih rendah. Sebaliknya, daging merah, daging olahan, minuman manis bergula, dan makanan ultra-proses perlu dibatasi.

Alkohol juga masuk kelompok faktor risiko besar yang sebenarnya bisa dicegah. Setelah tembakau dan kelebihan berat badan, alkohol disebut sebagai faktor risiko kanker terbesar ketiga, meski kesadaran publik terhadap bahayanya masih rendah.

Konsumsi alkohol telah dikaitkan dengan setidaknya 7 hingga 8 jenis kanker, termasuk kanker payudara, usus besar, paru-paru, ginjal, dan hati. Jika tetap memilih minum, American Cancer Society menyarankan batas maksimal satu gelas per hari untuk perempuan dan dua gelas per hari untuk laki-laki.

Di luar pola makan dan minuman, kulit juga perlu perlindungan serius. Kanker kulit disebut sebagai jenis kanker yang paling umum sekaligus paling bisa dicegah, karena paparan radiasi ultraviolet dari matahari maupun alat tanning dapat merusak sel kulit.

Perlindungan saat berada di luar ruangan menjadi penting, terutama ketika matahari terik. Tempat teduh, pakaian pelindung, dan tabir surya yang dipakai rutin dan merata menjadi langkah yang disarankan.

Perlindungan dari infeksi dan deteksi lebih awal

Pencegahan kanker juga dapat diperkuat lewat vaksinasi. Human Papillomavirus atau HPV dapat menyebabkan kanker serviks dan disebut bertanggung jawab atas hampir seluruh kasus kanker serviks.

Vaksin HPV tersedia untuk individu hingga usia 26 tahun dan disebut mampu melindungi dari 90% kasus kanker yang disebabkan oleh HPV. Vaksin hepatitis B juga penting karena virus ini dapat berkembang menjadi kanker hati.

Satu langkah lain yang sering menentukan adalah skrining. Pemeriksaan berkala membantu kanker ditemukan lebih awal saat peluang penanganan masih lebih besar, dan CDC merekomendasikan skrining untuk beberapa jenis kanker, termasuk kanker payudara, serviks, kolorektal, dan paru-paru.

Riwayat keluarga juga tidak boleh diabaikan. Jika ada anggota keluarga yang pernah mengalami kanker payudara, ovarium, rahim, atau kolorektal, kerabat dekat bisa memiliki risiko lebih tinggi dan sebaiknya lebih proaktif berkonsultasi dengan tenaga medis.

Source: lifestyle.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button